Maumere, Ekorantt.com – Seksi Akademik Senat Mahasiswa (SEMA) STFK Ledalero, mengadakan seminar tentang gerakan pemuda di era krisis politik.
Seminar yang dilaksanakan pada Sabtu, 26 Oktober di Aula LK3I Maumere dihadiri oleh para mahasiswa semester 7 STFK Ledalero, beberapa mahasiswa UNIPA Maumere, jurnalis, dan aktivis di Maumere.
Seminar ini menghadirkan empat pembicara, yaitu Jonas K.G.D Gobang (Wakil Rektor I UNIPA Maumere), Emilianus Yakob Sese Tolo (Dosen STFK Ledalero), Yohanis Yos De Peskim (Jurnalis VOX NTT), dan Mario Fernandez (Ketua PMKRI Cabang Maumere St. Thomas Morus).
Jalannya diskusi dipandu oleh Ferdinandus Jehalut, Mahasiswa Semester 7 STFK Ledalero sebagai moderator.
Gerakan Pemuda di Era Krisis Politik
Gery Gobang, pembicara pertama dalam seminar ini, secara terang-terangan menegaskan bahwa gerakan mahasiswa pada tahun 1998 adalah gerakan moral murni.
Pengalaman pergerakan mahasiswa 1998 mesti tetap menjadi api yang membakar semangat para mahasiswa di era reformasi untuk membangun Indonesia ke arah yang lebih baik.
Berbagai krisis politik yang dialami oleh bangsa ini mesti direspons dengan cara meruntuhkan Indonesia atau mendekonstruksi Indonesia.
“Kalau bangsa ini ingin mewujudkan janji mulia kemerdekaan, maka ada lima hal yang perlu dihilangkan atau paling tidak diminimalisasi. Lima hal yang perlu diminimalisasi dan bila perlu dihilangkan adalah pembedaan wilayah Barat dan Timur, determinasi budaya Jawa, konsep Jakartasentris, kesenjangan antara orang kaya dan orang miskin, dan ideologi-ideologi seperti fundamentalisme dan radikalisme yang berwajah kekerasan,” tegas Gery Gobang.
menurut Gerry, lima hal tersebut di atas mesti menjadi perhatian bersama seluruh warga negara Indonesia, terlebih lagi para mahasiswa.
Mahasiswa harus bisa mengambil bagian secara penuh dalam kehidupan bernegara karena eksistensi dan kapabilitas para mahasiswa masih diakui publik sebagai garda terdepan untuk menunjukkan kepedulian sosial dan berbuat banyak hal yang berpihak pada nasib masyarakat.
“Tugas mahasiswa bukan hanya datang dan belajar di kampus untuk mengejar nilai. Lebih dari itu, mahasiswa membuka diri terhadap fakta-fakta social kemasyarakatan dan membuat analisis terhadapnya. Analisis mahasiswa terhadap situasi-situasi masyarakat tentunya harus berpijak pada kajian akademik dan bersenjatakan senjata Nurani,” pungkas Wakil Rektor I UNIPA tersebut.
Sementara itu, Emilianus Yakob Sese Tolo menyajikan materi tentang ekonomi politik gerakan mahasiswa progresif di NTT pasca Pemilu 2019.
Emil memulai pemaparan materinya dengan melontarkan pertanyaan provokatif: mengapa kemiskinan di NTT sulit dieliminasi meskipun dalam kenyataannya Jokowi sudah menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat NTT?
Dalam analisis Emil, pemerintahan Jokowi kurang mengetahui persoalan ekonomi politik di NTT.
Menurut Emil, kemiskinan di NTT disebabkan oleh dua hal, yaitu pertama, ketimpangan agraria dan kedua, korupsi.
Terhadap problem ini, mahasiswa sebagai insan akademis perlu menawarkan politik alternatif yang berbasis gerakan progresif.
“Saya tidak sepakat dengan Bapak Gery Gobang yang sangat percaya pada gerakan moral. Gerakan moral cenderung terpisah dari pihak-pihak yang dibela. Gerakan moral itu seperti keberadaan seorang resi dalam kebudayaan Jawa. Tugas seorang resi atau pertapa hanyalah menegur dan mengoreksi kekuasaan, tetapi tetap melanggengkan status quo karena tidak hadir dengan agenda pembongkaran struktur kekuasaan yang tidak memihak masyarakat umum,” tandas Emil.
Menurut Emil, mahasiswa perlu bergerak lebih jauh meninggalkan kemegahan gerakan moral ke arah gerakan progresif.
Sejarah menunjukkan bahwa kejatuhan rezim Orde Baru tidak disebabkan oleh krisis ekonomi kala itu, tetapi karena gerakan progresif mahasiswa.
“Gerakan progresif adalah gerakan yang otonom dan tidak ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan pragmatis. Orientasi gerakan progresif adalah pembongkaran struktur ekonomi politik yang tidak memihak kebaikan bersama. Ya, tentunya gerakan progresif harus selalu dilengkapi dengan perbendaharaan basis epistemologis yang mumpuni. Untuk itu, ada tiga tawaran langkah penting untuk menyukseskan gerakan progresif mahasiswa yaitu membumikan wacana progresif, membentuk dan melibatkan diri secara aktif dalam organisasi-organisasi progresif, dan merangkul para tokoh agama untuk membentuk gerakan religion left,” pungkas Emiil.
Yohanis Yos De Peskim, dalam paparan materinya, mengafirmasi gerakan progresif mahasiswa di era krisis politik sekarang ini.
Gerakan progresif adalah sebuah cara untuk tidak taat secara buta terhadap kekuasaan.
Menurut Are, mhasiswa perlu memiliki pengetahuan sejarah yang cukup lengkap tentang kiprah publik mahasiswa masa lalu. Belajar dari mereka itu penting.
“Mandiri dalam pikiran, tegas dalam keberpihakan, dan aktif dalam berorganisasi demi perwujudan kebaikan bersama mesti menjadi senjata perlawanan mahasiswa dalam bingkai gerakan progresif,” kata Yohanis Yos De Peskim.
Mario Fernandez dalam ulasannya menegaskan bahwa di era krisis politik sekarang ini, mahasiswa bukannya tidak memiliki keberanian, melainkan lebih bersikap apatis atau tidak peduli terhadap masalah-masalah sosial kemasyarakatan.
Ketua PMKRI Cabang Maumere itu juga mengungkapkan kesetiaannya untuk turun ke jalan mengikuti demonstrasi.
“Tujuan turun ke jalan bagi saya jelas, yaitu sebagai tanggapan terhadap situasi-situasi krisis yang ada di masyarakat,” ungkap Mario Fernandez.
Gerakan Moral dan Gerakan Progresif Saling Melengkapi
Dalam sesi diskusi terdapat pertanyaan, apakah gerakan moral dan gerakan progresif harus berjalan masing-masing tanpa bisa diharmoniskan dalam rangka melawan kekuasaan dan membela nasib masyarakat?
Empat pembicara dalam seminar ini kurang lebih memiliki pemikiran yang sama bahwa gerakan moral dan gerakan progresif bisa menjalin relasi saling melengkapi.
Sekalipun Emil secara tegas menyatakan bahwa gerakan moral itu perlu tetapi hanya bersifat remeh temeh, dia juga tetap yakin bahwa gerakan progresif yang mempunyai daya dobrak yang kuat hanya bisa dilakukan oleh para mahasiswa yang memiliki moralitas yang mumpuni.
Gery Gobang, yang dari awal pembicaraannya menekankan gerakan moral mahasiswa, juga mengakui dan mengamini alternatif gerakan progresif melalui pembumian wacana tentang gerakan progresif dan menggabungkan diri dalam organisasi-organisasi progresif.
Duapembicara yang lain, yaitu Yohanes Yos De Peskim dan Mario Fernandez juga memiliki pandangan yang positif terkait kerja sama gerakan moral dan gerakan progresif.
“Mahasiswa yang menggabungkan diri dalam organisasi-organisasi progresif untuk membela masyarakat tentunya memiliki kekuatan moral, budi yang handal, dan sikap keberpihakan yang jelas,” jawab Yohanes Yos De Peskim.
Komentar-Komentar
Diskusi bertajuk “Gerakan Pemuda di Era Krisis Politik” ini memantik beberapa komentar, apresiasi, dan harapan dari sejumlah pihak.
Ketua STFK Ledalero Pater Otto Gusti Madung, SVD, ketika dihubungi melalui media sosial facebook mengapresiasi kegiatan seminar tentang pemuda di era krisis politik yang diselenggarakan oleh SEMA Ledalero. Menurut Pater Otto, kegiatan seperti ini mesti menjadi habitus setiap perguruan tinggi.
“Kegiatan seminar ini adalah salah satu bukti dari salah satu tridarma perguruan tinggi, yaitu pengabdian untuk masyarakat yang tentunya berbasiskan dua tridarma perguruan tinggi lainnya, yaitu pengajaran dan penelitian. Di era pemerintahan Jokowi periode kedua yang nyaris tanpa oposisi di parlemen, masyarakat sipil, terutama mahasiswa yang melek politik, mesti menjadi oposisi handal kekuasaan yang sedang berlangsung agar kekuasaan sungguh digunakan untuk mewujudkan kebaikan Bersama,” jelas Ketua STFK Ledalero.
Rini Kartini, Dosen UNIPA Maumere, juga mengapresiasi kegiatan seminar yang diselenggarakan oleh SEMA Ledalero.
Menurut dia, mahasiswa STFK Ledalero yang dulunya kurang membaur, sekarang menjadi lebih terbuka menjalin kerja sama lintas kampus untuk berdiskusi.
“Keempat pembicara hanya memfokuskan pemaparannya pada pergerakan politik. Yang kurang diberikan penekanan adalah gerakan-gerakan pemuda melalui media-media lain, seperti gerakan melalui media seni dan sastra. Namun, sekalipun ada beragam cara untuk merancang gerakan pemuda, tujuan akhirnya tetap sama yaitu demi kebaikan masyarakat,” jelas Rini Kartini.
Sementara itu, Petrus Edmon Puken, seorang siswa kelas XI dari SMAS ST. Yohanes Paulus II, mengatakan, diskusi publik yang telah diinisiasi oleh SEMA STFK Ledalero memberikan sejumlah kesadaran terhadap para pemuda tentang sejumlah krisis politik yang tengah melanda negara Indonesia.
“Seminar ini membantu saya dalam memahami sejumlah krisis yang melanda politik kita dan memberi pengaruh positif terhadap para pemuda untuk bersama-sama menentang segala macam kebijakan pemerintah yang tidak menjawabi kebutuhan masyarakat,” demikian komentar Edmon.
Selain memberikan sejumlah apresiasi dan harapan, forum juga menggarisbawahi pentingnya aksi nyata di lapangan yang diinisiasi oleh para mahasiswa.
Hal ini tampak dalam komentar yang disampaikan oleh Emilianus Yakob Sese Tolo, dosen pada program PKK STFK Ledalero.
Emilianus menandaskan, “diskusi yang dilaksanakan dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda ini tidak serta merta mengesampingkan tugas mahasiswa yang tidak saja berdiskusi, tetapi juga melakukan aksi nyata di lapangan.”
Menurut Emil, diskusi publik yang dibarengi dengan aksi nyata menjadi penting untuk menuntut keadilan yang belum maksimal dilakukan oleh pemerintah.
“Nilai, ilmu, atau pengalaman yang terkristralisasi dalam diskusi publik akan menjadi bermakna apabila dapat diimplementasikan dalam kegiatan nyata seperti demonstrasi, live in, atau kegiatan sosial kemasyarakatan,” kata Emil.
Wakil Ketua III STFK Ledalero Pastor Maxi Manu, SVD dalam komentar pembukanya menyampaikan terima kasih kepada empat pembicara yang telah memenuhi permintaan Seksi Akademik SEMA Ledalero untuk menjadi pemantik diskusi dalam kesempatan seminar tentang pemuda di era krisis politik.
Selain itu, P. Maxi juga menyampaikan terima kasih kepada para peserta yang telah meluangkan waktu untuk berdiskusi bersama.
“Diskusi tentang pemuda di era krisis politik diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober mendatang. Kesempatan diskusi hari ini semestinya membangkitkan semangat generasi muda untuk membangun bangsa ke arah yang lebih baik,” harap Pater Maxi Manu, SVD.
Jean Loustar Jewadut dan Ans Gara












