BERITA TERBARU

Kasihanilah Abdul Somad!

0

Oleh Dominggus Koro*

Sungguh masyhur Abdul Somad. Ia kerap tampil di televisi dan diwartakan di berbagai media daring. Nama dan wajahnya akrab di ingatan orang ramai. Ia pesohor di panggung agama.

Ustadz Abdul Somad. Pas betul sarjana tamatan Al Azhar, Mesir, berada di panggung ini. Sebutan bahasa Arab di depan namanya menunjukan kapasitas keilmuan dia. Ia kompeten mengajar, fasih melisankan isi teks-teks agama. Pendeknya, ia piawai berdakwah, yakni mengajak orang kepada Islam.

Saya pernah menyaksikan dia pada acara dakwah di sebuah televisi nasional, juga dua tiga kali di Youtube.  Ia punya daya pikat dalam cara menyampaikan cerita, pesan, dan ide. Wajah dan mimiknya yang lucu menambah greget magentik bagi hadirin dan pemirsa. Ia, oleh karena ini, memiliki banyak follower di seantero Indonesia.

Itulah Somad, juruwarta agama yang sangat mumpuni. Ia orang yang asyik untuk didengar, menghibur, dan meneguhkan. Terlepas setuju atau tidak isi omongannya, videonya bagus untuk ditonton. Termasuk yang viral menjelang perayaan 17 Agustus 2019, di mana ia bicara tentang salib.

(Mungkin) ada seorang ibu bertanya dan ia menjawab, “Apa sebabnya ustad, kalau melihat salib, menggigil hati saya? Setan….” Tuan dan puan, saya mengutip video untuk bahasan di forum terbatas ini.

Sedikit kutipan lagi, “Apa sebabnya kata ibu itu, mirip macam gini. Saya terlalu terbayang salib, nampak salib. Jin kafir sedang masuk. Karena di salib itu ada jin kafir. Dari mana masuknya jin kafir? Karena ada patung. Kepalanya ke kiri apa ke kanan? Nah, ada yang ingat, kan? Nah, itu ada jin di dalamnya. Jin kafir. Di dalam patung itu ada jin kafir.”

Apakah Somad salah berkata demikian? Tidak. Tugas dia memang menghibur sekaligus meneguhkan hati para pendengarnya. Memastikan pemahaman dan praktik saudara-saudara kita Muslim selaras dengan Surat Ali Imran [3]:19), “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” Dan, [3]:85), “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”

Sebagai pesohor, ia memikul beban berat, bagaimana supaya pengikutnya tetap terhibur dan tidak berkurang jumlahnya—bertambah boleh. Diksi kafir, patung dan jin berfungsi sebagai sabu-sabu, agar terus tampil prima dan meyakinkan. Ini nasib orang beken; gemerlap dengan segenap simbol yang melekat di diri, tapi hampa jiwa. Ia akan terus begini seumur hayatnya, terlebih karena ada rujukan di teks agama.

Somad menderita. Ia lelah dan sakit. Jangan lagi bully dia. Jiwanya kerontang, tiada lembab kasih yang merangkul dan pengertian yang mengatasi perbedaan “kulit” agama. Punggungnya sarat tumpukan kitab suci, tapi tidak mensucikan dan melembutkan jiwanya. Ia hanya pemikul pustaka belaka. Sapa dia dengan bahasa cinta. Sadari, yang bikin dia bisa melakoni tugasnya adalah Hyang Maha Ada juga—kesadaran ini membersihkan batin dari kotoran benci, amarah, penghakiman dan klaim-klaim murahan.

Ah, tentang kafir dan patung, saya ingat kisah dalam hidup Swami Vivekananda. Spiritualis pengembara dan pejuang India panutan Bung Karno itu pernah menyadarkan seorang penguasa yang menghina cara dan sarana peribadatan Hindu.

Awal 1891, ia menemui Mangal Singh, penguasa Alwar (sekarang Rajasthan). Sang raja mencemoohnya, “Swamiji, saya dengar anda seorang terpelajar. Kenapa anda sia-siakan hidup dengan mengembara dan mengemis?”

“Maharaja, kenapa anda mengabiskan waktu untuk kesenangan berburu dan mengabaikan tugas-tugas sebagai pemimpin?”, jawab sang Swami—artinya ia yang telah menaklukan ego, melampaui pikiran, keinginan dan kesadaran rendah serta seluruh indra. Semua yang hadir di istana terkejut mendengar pertanyaan lugas ini. “Saya suka dan menikmatinya,” jawab Mangal dan, lanjutnya, “Bukankah kalian bermeditasi dan melakukan pemujaan dengan alasan yang sama?”

Dinding istana Alwar dipenuhi hiasan dari binatang buruan. Raja Mangal bangga dengan kemampuannya berburu. Vivekananda mengkritik dia, “Seekor hewan tak membunuh hewan lain bila tidak perlu, kenapa anda membunuh mereka demi kenikmatanmu? Tindakanmu tidak bermakna.”

“Kalian menyembah berhala. Saya tidak percaya pada berhala. Saya tidak menyembah pohon, tanah, batu, atau logam. Semuanya tidak berarti,” lagi raja itu mengolok Vivekananda.

Tersenyum dan tenang Vivekananda minta pelayan mengambil lukisan ayah Mangal yang dipajang di istana. Tanpa ragu ia meminta lukisan itu diludahi. Semua yang hadir diam, memandangi raja mereka dengan takut dan bingung.

Ia mengulangi perkataannya, “Ludahi lukisan ini! Siapa saja boleh.” Kali ini ada yang berteriak, “Apa yang Swami lakukan? Jangan, Swami. Ini lukisan raja kami. Kami tidak boleh melakukan penghinaan.”

Vivekananda menjelaskan, “Ini hanya selembar kertas, benda mati, tidak bernyawa. Tetapi kalian menolak untuk meludahinya. Kalian menghormatinya, seperti yang kalian lakukan terhadap raja, karena lukisan ini merupakan bayangan rajamu.”

Ia berpaling ke Mangal Singh, katanya, “Lihat, Maharaja, ini lukisan Baginda Raja, ayah anda. Lukisan ini simbol, mengingatkan dan membuat anda merasakan kehadirannya. Pun demikian puja yang dilakukan seorang Hindu dengan sarana pratima. Ini menyangkut anubhuti, rasa dan kesadaran akan kehadiran Hyang Suci dan Mulia.

Singkat cerita, Mangal Singh menyadari kesalahapahamannya atas makna pemujaan yang sebenarnya. Ia minta maaf atas penghinaan yang telah diperbuatnya kepada Vivekananda. Juga ia berterima kasih atas pelajaran spiritual yang diperolehnya. Sanyasi itu tinggal beberapa hari di Alwar atas permintaan sang raja.

Persis seperti penjelasan Vivekananda, salib, pratima Yesus dan Bunda Maria pun merupakan perwujudan simbol kesucian dan kemuliaan. Salib mengingatkan orang Kristen akan pengorbanan Yesus, memberi diri kepada sesama demi kasih. Kasih adalah keadaan batin yang nirmala, dan demi ini seorang Kristen mesti menggantung ego dan nafsu serta keinginan rendahan di salib`

Tentang devosi kepada Bunda Maria, saya kutip apresiasi Gandhi. Ia tulis dalam otobiografinya, “Orang akan berubah, bersikap penuh rasa hormat ketika melihat orang lain berlutut di depan pratima Sang Perawan. Rasa ini terpatri dalam diri saya, bahwa berlutut dan berdoa bukan penyembahan berhala. Para pemeluk teguh yang bersimpuh itu tidak sedang memuja marmer atau batu, tapi terbakar oleh semangat devosi kepada kesucian dan keilahian dalam rupa simbol. Saya bisa merasakan pemujaan ini tidak merendahkan, tapi memuliakan Tuhan.”

Ustadz Somad tetap berkukuh ini berhala? Baik, tapi apa salahnya bila cara dan sarana peribadatan begini bikin manusia sadar akan kemahahadiran Hyang Suci dan Lembut di mana-mana? Manusia berwelas asih, merawat kohesi sosial dan harmoni dalam kebhinekaan. Dengan kata lain, manusia jadi pancasilais. Tidak salah, bukan?

Devosi dengan sarana salib, pratima Bunda Maria dan Yesus melembabkan jiwa dengan kasih. Lalu, manusia bisa memberi dari kepunyaannya; yang punya kasih membagikan kasih, yang bergelimang benci menebarkan terik angkara dan penghinaan. Maka, kasihi dan kasihani Somad—penderita kekeringan jiwa.

Referensi:

  1. Swamivivekanandaquotesgarden.blogspot.com
  2. Gandhi, M.K; An Autobiography OR The Story of My Experiment With Truth (1927), hal 71.

*Warga Maumere, Flores

Wisata Danau Kelimutu Kembali Dibuka, Maksimal 200 Tamu per Hari

0

Ende, Ekorantt.com – Setelah ditutup sejak 28 Maret 2020 silam, Balai Taman Nasional Kelimutu kembali membuka akses kunjungan wisata ke Danau Tiga Warna Kelimutu pada Jumat, 10 Juli 2020.

Kendati demikian, mengacu pada Surat Edaran Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) nomor SE.9/KSDAE/PJLHK/KSA.3/6/2020, diberlakukan pembatasan jumlah wisatawan yang berkunjung. Kuota wisatawan maksimal 200 orang per hari.

Demikian penjelasan Kepala Balai Taman Nasional Kelimutu, Persada Agussetia Sitepu sembari menambahkan, kembali dibukanya akses wisata ke Danau Kelimutu diharapkan memberi dampak positif bagi masyarakat setempat.

Sitepu menjelaskan, tamu yang berencana datang wajib melakukan booking “melalui WA admin TN Kelimutu lewat WhatsApp (nomor WA 082110103335) selama jam kerja 07.30 Wita sampai dengan pukul 17.00 WITA”.

Tak hanya itu, kata Sitepu, Balai TN Kelimutu juga menerapkan protokol kesehatan bagi wisatawan, sesuai dengan Rekomendasi Bupati Ende nomor BU.556/DISPAR.03/496/VI/2020.

“Tentu semua pengunjung akan diarahkan sesuai protokol kesehatan penanganan Covid-19,” kata Sitepu.

Setiap tamu yang berkunjung wajib mengenakan masker, mencuci tangan, mengukur suhu, dan jaga jarak.

Sementara itu, Bupati Ende, H. Djafar H. Achmad berharap, kebijakan ini mampu menumbuhkan kembali geliat dunia pariwisata di Kabupaten Ende.

“Hai dunia datanglah ke Kelimutu. Semoga geliat patiwisata kembali bangkit. Semoga ekonomi kembali pulih. Saya bercita-cita menjadikan geopark Kelimutu. Kita akan daftarkan ke Unesco,” pungkasnya.

Dukung Gerakan Kupang Hijau, OJK dan FKLJK NTT Peduli Lingkungan

Kupang, Ekorantt.com – Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Nusa Tenggara Timur (OJK NTT) dan Forum Komunikasi Lembaga Jasa Keuangan Provinsi Nusa Tenggara Timur  (FKLJK NTT) berpartisipasi dalam Gerakan Kupang Hijau (GKH) dengan melakukan penanaman pohon di sejumlah titik di Kota Kupang pada Sabtu (11/7/2020).

Keterlibatan dalam Gerakan Kupang Hijau dipandang sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.

Kegiatan penanaman pohon kali ini dibuka oleh Ketua Tim GKH sekaligus Ketua FKLJK NTT, Harry Alexander Riwu Kaho, dilanjutkan pelepasan peserta gowes oleh Walikota Kupang, Jefirston R. Riwu Kore, yang dimulai dari halaman gedung Kantor Perwakilan Bank Indonesia NTT ke salah satu lokasi penanaman pohon di Jembatan Petuk II, Jalur 40 Kelurahan Naimata.

Secara simbolis, dilakukan penanaman 300-400 pohon yang terdiri dari; 3 jenis pohon yaitu pohon sepe, pohon trambesi, dan pohon ketapang.

GKH sendiri merupakan salah satu program Pemerintah Kota Kupang yang bertujuan untuk menghijaukan Kota Kupang. Selain menata estetika dan keindahan kota, GKH jadi solusi jangka panjang untuk persoalan air bersih.

GKH juga sejalan dengan program budaya kerja OJK NTT tahun 2020, khususnya OJK Tangkas yang salah satu kegiatannya yaitu peduli lingkungan.

Deklarasi dan launching bulan GKH telah dilakukan oleh Walikota Riwu Kore pada 16 November 2019 dengan mengedepankan faktor-faktor yang menjadi target GKH yaitu: menanam pohon, tanam pohon di lingkungan sekolah, tanam air dan hemat air, serta kampanye mengurangi penggunaan sampah plastik dalam berbelanja.

GKH mendorong semua komponen masyarakat untuk merawat, memelihara, dan membuat Kota Kupang lebih hijau, indah, dan asri.

Kontributor: Patrick Padeng

SMPN 1 Maumere Terima 224 Peserta Didik Baru

0

Maumere, Ekorantt.com SMPN I Maumere menerima sebanyak 224 peserta didik baru. Menurut Kepala Sekolah, SMPN 1 Maumere, Vitalis P. Sukalumba, total jumlah pendaftar sebanyak 314. Namun berasarkan zona, afirmasi, perpindahan orang tua, dan prestasi maka hanya 224 siswa yang diterima menjadi pelajar SMPN 1 Maumere.

“Animo peserta didik masuk ke sekolah SMPN 1 Maumere ini besar sekali. Sayang sekali kami hanya menerima sebanyak 224 dan ada 90 siswa yang terpaksa tidak bisa belajar ke SMPN 1 Maumere,” demikian kata Kepsek Vitalis kepada Ekora NTT pada Jumat (10/7/2020).

Vitalis meminta dukungan dari segenap pihak terutama orang tua wali murid dan juga Pemkab Sikka terkait pembukaan sebuah sekolah menengah pertama negeri di Kota Maumere.

Kalau tidak, kata Vitalis, ia meminta tambahan tiga ruangan kelas di sekolah yang dipimpinnya itu. Tujuannya, agar anak yang menaruh minat pada sekoah yang dipilihnya dapat terwujud.

Kepsek Vitalis juga menjelaskan bahwa untuk pelaksanaan pembelajaran tahun pelajaran 2020/2021, pihaknya tetap mengikuti edaran Mendikbud nomor 4 dan nomor 15 tahun 2020 serta keputusan 4 Menteri  tentang Pedoman/Panduan Belajar dari Rumah.

“Di SMPN 1 Maumere pembelajarannya tetap dari rumah. Berdasarkan kesepakatan dengan komite sekolah orang tua wali siswa, kami telah menetapkan dan sosialisasikan SOP BDR SMPN1 Maumere. Bagi kelas VII untuk hari-hari pertama belajar dari rumah dibentuk 16 titik. Rata-rata 3 titik per kelurahan,” jelasnya.

“Untuk kelas VII, aktivitas belajar dari rumah mulai berlaku 13 Juli 2020. Sedangkan kelas VIII dan IX efektif mulai tanggal 20 Juli 2020. Jedah waktu tanggal 13 sampai 18 Juli bagi kelas VIII dan IX melakukan pendataan ulang dan guru menyiapkan RPP adaptif,” tambah Kepsek Vitalis.

Sikka Dapat Jatah 100 Unit Rumah Program BSPS

0

Maumere, Ekorantt.com – Pemerintah Kabupaten Sikka mendapat jatah 100 unit rumah Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya atau BSPS yang selama ini dikenal dengan sebutan program bedah rumah. Tentu ini jadi kabar gembira bagi warga kurang mampu yang rumahnya tidak layak dihuni.

Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman dan Pertanahan Kabupaten Sikka, Femi Bapa mengatakan, program bantuan BSPS itu bersumber dari dana APBN dan menyasar beberapa desa di Kabupaten Sikka.

“Untuk program BSPS tahun 2020 ini, Kabupaten Sikka mendapatkan 100 unit rumah yang akan dibedah, yakni tersebar di empat desa di wilayah Kecamatan Paga,” kata Femi Bapa, kepada Ekora NTT di ruang kerjanya, Jum’at (10/7/20).

Empat desa yang mendapat bantuan BSPS yakni Desa Wolowiro 25 unit, Desa Paga 25 unit, Desa Mbengu 25 unit, dan Desa Maulo’o 25 unit. Saat ini, sedang dalam proses usulan ke Satuan Kerja (Satker) Kementerian untuk ditetapkan penerima bantuan. Sementara proses sosialisasi dan verifikasi sudah dilaksanakan.

“Yang jelas jumlah 100 unit rumah yang bakal dibedah atau rehab itu sebelumnya berdasarkan usulan kita 200 unit rumah. Karena efek dari Covid-19 maka kita hanya mendapat 100 unit rumah,” ujarnya.

Femi menjelaskan, bantuan menyasar masyarakat yang berpenghasilan rendah (MBR) karena program tersebut bersifat stimulan maka penerima harus menyiapkan pasir, batu, dan bahan lainnya.

“Penerima manfaat akan mendapatkan anggaran sebesar Rp17,5 juta dengan rinciannya Rp15 juta belanja material dan Rp2,5 juta berupa uang untuk upah pekerja,” sebut Femi.

Menguatkan Komitmen Lewat Rembuk Stunting

0

Larantuka, Ekorantt.com – Bupati Flores Timur, Antonius Hubertus Gege Hadjon membuka secara resmi Rembuk Stunting Tingkat Kabupaten Flores Timur Tahun 2020 dan Sosialisasi Peraturan Bupati nomor 27 Tahun 2019 Tentang Pencegahan dan Penanganan Stunting di Desa bertempat di Aula Setda Kabupaten Flores Timur, Senin 26 Juni 2020. Peresmian  itu menggunakan metode sambungan tatap muka jarak jauh atau video conference (vidcon).

Hadir dalam peresmian anggota Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), sejumlah Pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Lingkup Pemerintah Kabupaten Flores Timur, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Flores Timur, lembaga swadaya masyarakat, dan perwakilan media massa. Kegiatan ini juga diikuti oleh seluruh seluruh pejabat kecamatan, desa dan Puskesmas Kabupaten Flores Timur, melalui Video Conference.

Bupati Anton Hadjon mengawali sambutannya dengan mengatakan bahwa “saat ini kita sudah kembali ke zona hijau, dan pola rapat Vidcon ini akan menjadi kebiasaan kita yang baru pada masa kenormalan baru”.

Lanjut Bupati Anton Hadjon, stunting sedang menjadi fenomena. Pelayanan dalam pencegahan dan penanggulangan stunting belum tersedia dalam skala dan kualitas yang memadai, pada kelompok sasaran prioritas, yakni remaja puteri, ibu hamil, dan anak-anak usia di bawah dua tahun.

“Sehingga percepatan penanganan stunting menjadi kegiatan prioritas nasional, provinsi, kabupaten serta desa. Seharusnya menjadi momentum strategis untuk menata kembali penyelenggaraan pelayanan dasar, yang secara khusus terkait dengan pelayanan kesehatan remaja, ibu dan anak, konseling gizi, kebersihan orangtua, air minum dan sanitasi, pendidikan anak usia dini, perlindungan sosial, ketahanan pangan, dan pemberdayaan masyarakat agar lebih terpadu dan tepat sasaran,” terangnya.

Lebih lanjut Bupati Anton Hadjon mengatakan kali ini merupakan aksi ketiga gempur stunting. Temanya “penguatan komitmen para pihak untuk percepatan pencegahan dan penanganan stunting menuju generasi unggul Flores Timur”. Sebelumnya telah dilaksanakan aksi pertama yakni analisa situasi dan aksi kedua yaitu penyusunan rencana kegiatan.

“Pemkab Flores Timur telah menunjukan komitmen tinggi dalam pencegahan dan penanggulangan stunting terintegrasi melalui intervensi gizi spesifik dan gizi sensitif, dengan melaksanakan deklarasi Flores Timur gempur stunting pada tanggal 16 November 2018 di lapangan Lebao”.

Bupati Anton menegaskan rembuk stunting kali ini merupakan langkah penting yang harus dilakukan Pemkab Flores Timur untuk memastikan terjadinya integrasi pelaksanaan intervensi penurunan stunting secara bersama-sama antara OPD penanggungjawab pelayanan dengan desa dan lembaga non pemerintahan.

Lebih lanjut Bupati Anton Hadjon mengatakan, pemerintah berusaha mengangkat produk pangan lokal yakni ‘Solor’ (Sorgum dan Kelor) dalam pemanfaatan untuk pemenuhan kebutuhan gempur stunting, dengan mengolah ‘solor’ menjadi produk lainnya.

Dalam kesempatan ini, Bupati Anton mengapresiasi seluruh masyarakat atas dukungan dalam upaya pencegahan dan penanggulangan stunting di Flores Timur. Ia juga mengapresiasi inovasi Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang terfokus untuk ibu hamil dan anak-anak di bawah dua tahun lewat gerobak cinta. Program gerobak cinta dinilai telah mampu menekan angka stunting dari 42% ke 27%. Bahkan program gerobak cinta masuk dalam 10 besar penghargaan Pembangunan Daerah oleh Bappenas yang meliputi penilaian dokumen RKPD , inovasi, dan presentase serta wawancara.

Hasil rembuk stunting kali ini, tegas Bupati Anton Hadjon, harus disosialisasikna oleh para kepala desa di desa masing-masing. Dengan itu ada persamaan pemahaman dalam penanganan dan pencegahan stunting di Flores Timur. (Humas Pemkab Flores Timur/Adv)

Mengintip Peluang Agrowisata di Kota Ruteng

Ruteng, Ekorantt.com – Kota Ruteng, Ibu Kota Kabupaten Manggarai yang terkenal dengan iklim dingin sangat cocok untuk pengembangan hortikultura. Namun demikian, minat masyarakat untuk budidaya hortikultura masih rendah.

Meskipun ada sebagian orang di Ruteng sudah mulai merintis usaha ini, tapi orientasi mereka hanya sebatas memenuhi kebutuhan pasar dan keuntungan ekonomi semata. Belum ada geliat pengembangan hortikultura yang berorientasi pada nilai tambah.

Padahal, di tempat lain seperti di Jawa, para petani kini ramai-ramai mengembangkan hortikultura yang tidak hanya berorientasi pada kebutuhan pasar, tapi lebih dari itu, hortikultura sudah jadi tren destinasi wisata baru.

Peluang bisnis pariwisata ini dinilai sangat menjanjikan. Pasalnya, selain mendatangkan keuntungan ekonomi dari hasil sayur dan buah, petani juga bisa memanen rupiah dari para pengunjung yang sekadar datang untuk menikmati suasana perkebunan sambil berswafoto atau kegiatan lainnya.

Di Ruteng, usaha agrowisata hortikultura ini sebenarnya sangat memungkinkan. Sayangnya, peluang ini belum ditangkap oleh petani karena keterbatasan pengetahuan dan kurangnya dorongan pemerintah.

Ekora NTT berkesempatan mengunjungi perkebunan hortikultura milik Dionisius Demo, salah seorang pemuda asal Lengor, Desa Pinggang, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai pada pekan lalu.

(Baca juga: Serilia Bunga Raup Rp150 Juta dari Bertani Hortikultura)

Di kebun pemuda 27 tahun ini, tampak tanaman sayur dan buah seperti tomat, cabai, terung, mentimun, kacang panjang, buncis, dan beberapa lainnya bertumbuh subur dan ditata dengan begitu apik.

Suasana perkebunan yang sejuk, dipadu dengan panorama tanaman sayur dan buah yang tampak indah memikat siapa saja yang datang berkunjung.

Perkebunan hortikultura ini juga sangat cantik bila dijadikan latar foto bagi anda yang suka berswafoto untuk menamba koleksi foto diakun media sosial. Fenomena yang sama juga terlihat di areal tanaman hortikultura milik Srilia Bunga di sekitar Kota Ruteng.

Di atas lahan seluas satu hektar, tepatnya dari  arah Kampung Ka-Ruteng menuju Kampung La’o, Kecamatan Langke Rembong, persis di tanjakan yang berdekatan dengan kali, tampak tanaman hortikultura yang segar dan memanjakan mata.

Saat Ekora NTT pertama kali mendatangi perkebunan ini, sontak rasa terpukau pada subur dan apiknya aneka jenis tanaman sayur yang berjejer.

Sayangnya, meski sejak 2018 Presiden Jokowi telah mewanti-wanti untuk dorong pengembangan wisata agro berbasis hortikultura, namun pemerintah di level kabupaten belum serius menanggapi gagasan itu.

Petani hortikultura di Manggarai seperti Dionisius dan Serilia masih belum mampu mengembangkan holtikultura hingga level bisnis agrowisata. Hal itu tentunya disebabkan karena keterbatasan pengetahuan dan modal usaha.

“Semua ini untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam keluarga saya,” kata Dionisius.

Dionisius mengaku, dalam setahun ia, hasil penjualan sayur dan buah dari kebunnya itu mencapai Rp 30 Juta. Sedangkan Serilia mengklaim bisa meraup Rp 150 Juta per tahun dari hasil sayur.

(Baca juga: Bertani Hortikultura, Junedi Jarut Panen Rupiah di Masa Pensiun)

Andai saja mereka diberdayakan untuk mengembangkan agrowisata hortikultura, penghasilan mereka tentu tidak hanya demikian.

Adeputra Moses

Kisah Perawat Yelvi: OdGJ itu Dititipkan Tuhan untuk Saya Layani

Maumere, Ekorantt.comMenjalani profesi sebagai perawat apalagi perawat untuk para ODGJ (Orang dengan Gangguan Jiwa) membutuhkan kesabaran yang tak ada taranya. Sempat putus asa dan berhenti selama dua tahun dari tahun 2013 sampai dengan 2015 Agustina Alvia Yelviani akhirnya memilih kembali kepada jalan pelayanan bagi para ODGJ pada tahun 2017 hingga saat ini.

Yelvi, demikian sapaan akrabnya, mengaku sejak lulus dari Program Studi Keperawatan Universitas Nusa Nipa Maumere langsung bekerja melayani para ODGJ di Panti Asuhan St. Dymphna Wairklau Maumere.

Pengalaman suka dan duka jadi kebahagiaan tersendiri bagi Yelvi.

“Saya bersyukur bahwa saya yang sehat mental, jasmani dan rohani ini dipilih Tuhan untuk ada bersama orang-orang berkebutuhan khusus. Awal-awal ada bersama untuk membantu mereka itu saya gugup juga karena berhadapan dengan orang yang tidak waras ini butuh keahlian dan pendekatan istimewa kepada mereka. Saya sempat rasa jijik, pernah lari ketakutan karena keanehan-keanehan mereka tapi saat ini sepertinya sudah biasa,” ujar Yelvi.

Yelvi mengaku bahwa pernah sekali ketika selesai melaksanakan tugas jaga dan melayani makan malam untuk ODGJ. Salah satu diantara mereka menolak minum obat. ODGJ itu marah dan menendang dengan sangat keras mengenai perut Yelvi.

“Rasanya sakit sekali wakti itu. Saya lalu tak masuk kerja dan bersitirahat di rumah selama tiga hari. Saat berada di rumah ada kerinduan dan panggilan nurani yang semakin menggebu untuk tidak putus asa melayani para ODGJ itu. Mereka itu orang-orang yang punya harkat dan martabat seperti kita yang manusia normal jadi saya memutuskan untuk kembli setia melayani mereka,” ujar Yelvi.

Yelvi lebih jauh menegaskan bahwa prinsipnya saat ini dalam memandang para ODGJ adalah bahwa permasalahan kesehatan jiwa tidak dapat dijadikan alasan untuk merendahkan mereka.

Kebersamaan dengan ODGJ akan selalu memiliki kisah yang tak akan habisnya. Menurut Yelvi, para ODGJ itu selalu memberi cerita yang berbeda dan memberi makna bagi perjalanan hidupnya.

“Bagi saya bekerja sebagai perawat di Panti Santa Dymphna menjadikan saya lebih bersyukur. Kesehatan mental yang saya miliki adalah berkah dari Tuhan. Panti Santa Dymphna adalah rumah, tempat dan ruang saya berbagi cinta. Dan para ODGJ itu  adalah orang-orang  yang telah dititipkanTuhan untuk saya layani. Hati saya sudah mantap untuk melayani ODGJ,” ujar Yelvi dengan mantap.

Yuven Fernandez

Gandeng BPN Sikka, Pegadaian akan Luncurkan Produk RTT

0

Maumere, Ekorantt.com – PT Pegadaian (Persero) sedang menyiapkan produk baru bernama Rahn Tasjily Tanah (RTT) bagi masyarakat yang ingin meminjam dana dengan menggadaikan sertifikat tanah.

Pimpinan PT Pegadaian (Persero) Cabang Maumere, Anang Iswanto yang mewakili Deputy Bisnis PT Pegadaian (Persero) Area Ende, I Putu Suryawan mengatakan, pihaknya telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU)  dengan Kantor Pertanahan Nasional Kabupaten Sikka tentang sinergi bisnis di era transformasi.

“Itu yang kita lakukan hari ini karena permintaan masyarakat Kabupaten Sikka luar biasa. Kemarin ada yang sudah mengajukan ke kita, namun karena terikat perjanjian sehingga kita belum bisa salurkan. Kami belum bisa menindaklanjuti karena harus ada perjanjian atau MoU dengan Kantor Pertanahan,” kata Anang usai penandatanganan MoU di Kantor Pertanahan Nasional Kabupaten Sikka, Rabu (8/7/2020).

“Mudah-mudahan cepat clear sehingga bisa membantu masyarakat yang memiliki tanah yang bisa dijaminkan,” lanjut Anang.

Anang menambahkan, pegadaian memiliki cukup banyak produk. Saat ini yang menjadi favorit bagi masyarakat Kabupaten Sikka adalah sertifikat.

“Kalau tiga bulan yang lalu memang kita masih manual. Tetapi sekarang dari BPN harus ada peraturan MoU baru bisa dilakukan,” ujarnya.

Kepala Badan Pertanahan Kabupaten Sikka, Fransisko Viana Pareira berharap MoU bisa memberikan manfaat kepada kedua lembaga tersebut dan terutama bagi masyarakat.

“Di ATR/BPN sudah ditetapkan sejak era Pak SBY. Dan zamannya Pak Jokowi lebih digalakkan lagi selalu harus ada MoU. Sampai ada peraturan menteri yang mengatur soal ini,” pungkas Fransisko.

Dugaan Korupsi Dana Desa, Warga Lapor Mantan Kades dan Pjs Goloworok ke Kejari Manggarai

Ruteng, Ekorantt.com – Sejumlah warga Desa Goloworok, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai melaporkan Mantan Kepala Desa Goloworok, FDS ke Kejaksaan Negeri Manggarai atas dugaan korupsi dana desa. FDS dilaporkan karena diduga menyelewengkan dana desa lebih dari 1 miliar rupiah selama periode kepemimpinnya (2014-2019).

Mereka juga melaporkan Penjabat Sementara (Pjs) Desa Goloworok (sejak bulan Oktober 2019 – sekarang) berinisial SD terkait penggunaan dana desa tahun anggaran 2020.

“Perkiraan kami bisa lebih dari Rp1 miliar sejak 2014 sampai 2019. Itu hitungan-hitungan kasar kami. Berapa yang sebenarnya, biarkan penegak hukum yang menyelediki,” kata tokoh masyarakat Kampung Wela, Philipus Jeharut kepada wartawan saat memberikan laporan di Kejaksaan Negeri Manggarai, Kamis (9/7/2020).

Jeharut menjelaskan, laporan disertai juga bukti-bukti dan foto-foto proyek yang dikerjakan oleh mantan Kades FDS selama menjabat.

Banyak proyek, sebut Jeharut, yang dilaporkan tidak sesuai dengan fisik di lapangan. Bahkan ada proyek yang tidak ada pembangunan fisiknya.

“Kami mencurigai ada manipulasi laporan keuangan tiap akhir tahun yang dilakukannya. Kami mohon penegak hukum untuk memeriksa secara lengkap. Negara ini bisa hancur kalau dana desa hanya memperkaya pejabatnya,” tegasnya.

Pengerjaan proyek dana desa, lanjut Jeharut, tidak pernah disertai papan pengumuman, berisi nilai proyek, volume proyek, dan siapa yang mengerjakan.

“Masyarakat juga tidak pernah tahu mengenai Rencana Anggaran Biaya (RAB) proyek karena ditutupi,” ujarnya.

Lebih parah lagi dijelaskan bahwa Musrembang desa jarang dilakukan dan Badan Pembangunan Desa (BPD) jarang dilibatkan dalam perencanaan.

“Dari pengakuan sejumlah anak buahnya, mereka hanya disodorkan kertas untuk tanda tangan persetujuan setelah proyek disusun oleh mantan Kades itu. Ini kan praktik tidak benar,” tandas Jeharut.

Jeharut mencontohkan, salah satu proyek mangkrak di bawah kepemimpinan FDS yaitu pembangunan Tembok Penahan Tanah (TPT) di halaman ‘Mbaru Gendang’ (Rumah Adat) Kampung Wela.

Warga pelapor lainnya, Yohanes Jelahut menjelaskan, alasan SD ikut dilaporkan lantaran diduga ikut melindungi FDS dalam proyek TPT di Kampung Wela.

Menurutnya, SD menyetujui dana desa tahun anggaran 2020 yang dipakai untuk meneruskan proyek yang ditinggalkan FDS.

Pjs Desa Goloworok ini juga dilaporkan karena tidak jelas menggunakan dana desa tahun 2020.

“Anggaran untuk penanganan Covid-19 dari dana desa tidak jelas penggunaanya. Kami ingin semua diproses. Biar tidak menimbulkan gejolak di masyarakat,” tegas Jelahut.

Adeputra Moses

Dipercayakan Kelola SPBU Perikanan, KPRI Ende Layani 320 Nelayan

0

Ende, Ekorantt.com – Pemerintah Kabupaten Ende mempercayakan Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI)-Ende sebagai pengelola Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU) perikanan yang beralamat di area terminal labuh dermaga ikan, Kelurahan Tanjung, Kecamatan Ende Selatan.

Sejak menandatangani perjanjian kerja sama pada Mei 2019 silam, KPRI rutin melayani 320 nelayan yang terdata pada Dinas Perikanan Kabupaten Ende.

Ketua KPRI Ende, Vitalis Pio melalui Sekretaris Marselus Eclesianus Meta mengatakan, visi utama kehadiran SPBU perikanan adalah untuk melayani kebutuhan bahan bakar satu harga bagi nelayan.

Hal ini, kata Marsel Meta, selaras dengan spirit pelayanan KPRI.

“Memang sebagai pengelola, kita utamakan kebutuhan nelayan. Secara suprastruktur, saat ini sudah tidak ada masalah. Kita tentu benahi manajemen pengelolaan yang tranparan dan akuntabel,” jelas Marsel Meta saat dikonfirmasi media di Ende, Kamis (9/7/2020).

Menurut Marsel, hasil pengelolaan SPBU perikanan dibagikan kepada pengelola dalam hal ini KPRI, Pemerintah Kabupaten Ende, dan Dinas Perikanan Provinsi NTT sebagai pemilik Lokasi.

“Sesuai perjanjian kerja sama, sistemnya 50 persen untuk Pemkab Ende, 40 persen untuk pengelola (KPRI) dan 10 persen untuk Dinas Perikanan Provinsi NTT sebagai pemilik lokasi. Hingga Juni, SHU tahun berjalan mencapai Rp55 juta lebih,” ungkapnya.

Abdurahman, salah satu nelayan pengguna jasa SPBU milik Pemkab Ende mengaku senang dengan adanya fasilitas layanan kebutuhan bahan bakar khusus bagi nelayan.

“Kami senang dengan fasilitas ini. Sangat membantu nelayan. Kami minta Pemkab Ende bisa perbaiki  jalan masuk ke wilayah SPBU. Pak lihat sendiri kondisi jalan masuk ke SPBU termasuk pagar SPBU. Ini kan minyak. Kalau tidak ada pagar, berdampak buruk karena rawan kebakaran,” sebut Abdurahman.