Mama Edis sendiri merupakan seorang pasien penyandang disabilitas psikososial. Kisahnya bermula saat ia bekerja di Makassar, Sulawesi Selatan belasan tahun lalu.
Ketua Pengurus Kopdit Pintu Air, Yakobus Jano berkata, meski banyak keberhasilan yang telah diraih, namun masih ada kekurangan yang menjadi bahan perbaikan ke depannya.
Bukan hanya terhadap para pegawai yang terdampak, tetapi juga terhadap keberlanjutan pelayanan publik yang selama ini bergantung pada kontribusi mereka.
Kondisi tekanan ekonomi keluarga ini dipandang sebagai alasan yang mendorong YBR melakukan tindakan banal ini.
Narasi lain memandang tragedi YBR ini sangat kompleks.
Di tengah kabut gelap seperti ini, sosok seorang biarawati dalam gereja Katolik bernama Suster Fransiska Imakulata dari Tim Relawan Untuk Kemanusiaan (TRUK) memilih berdiri di garis depan.
Ia pun memperkenalkan bahwa Alor dikenal secara internasional sebagai salah satu destinasi selam terbaik di dunia, dengan kekayaan bawah laut yang luar biasa.