Larantuka, Ekorantt.com – Siswa penyintas gempa bumi di Adonara, Kabupaten Flores Timur, terpaksa bersekolah di tenda darurat selama tiga pekan terakhir. Pihak sekolah tidak ingin mengambil risiko sebab gempa susulan masih berpotensi terjadi.
Kalisa Anasya (9), siswi kelas III SD Negeri Terong, Desa Terong, Adonara Timur, berkonsentrasi penuh mendengarkan pelajaran bahasa Indonesia, Selasa pagi, 28 April 2026.
Materi berjalan selama 1 jam 30 menit dan berakhir pada pukul 09.30 Wita itu dibawakan Yuvinianus Hokeng. Guru wali kelas itu mengajar tentang kalimat langsung dan tidak langsung kepada 18 muridnya.
“Anak-anak tetap semangat belajar, sudah mau tiga minggu sekolah di tenda,” kata Yuvinianus.
Siswa SDN Terong berjumlah 233 siswa dengan 20 tenaga pendidik menempati lima tenda darurat. Mereka duduk lesehan beralaskan terpal. Suhu dalam tenda yang berdiri persis di halaman terbuka itu terasa panas.
“Di Terong hanya ada satu sekolah, SDN Terong. Kemudian ada sekolah lain yang juga sekolah di tenda darurat itu di Desa Lamahala. Tenda-tenda disiapkan oleh pihak sekolah, lalu dibantu BNPB, dan pihak kepolisian,” ucap Yuvinianus.
Yuvinianus bilang, siswa kelas I dan II dibimbing membaca, menulis, dan berhitung (Calistung). Sedangkan siswa kelas IV dan V pembelajarannya sesuai jadwal harian, sementara kelas VI dalam persiapan ujian akhir untuk penentuan kelulusan.
Media pembelajaran seperti papan tulis tak digunakan lantaran disesuaikan dengan kondisi tenda. Selain sempit, satu tenda yang sama juga digunakan siswa dari lain kelas.
Menurutnya, proses belajar mengajar sering terganggu dengan gempa susulan. Getarannya sangat terasa di Desa Terong dan Lamahala, dua permukiman yang berdekatan di Kecamatan Adonara Timur.
“Sudah dua hari tidak ada gempa susulan, tetapi kami terus meningkatkan kewaspadaan,” ungkapnya.
Warga sekolah, lanjut Yuvinianus, sudah merindukan ruangan kelas tembok yang nyaman, sejuk, dan dilengkapi dengan media belajar.
“Semoga gempa bisa berakhir sehingga aktivitas KBM bisa kembali di sekolah,” harapnya.
Selain mata pelajaran, kepala sekolah dan para guru juga berinisiatif mengadakan simulasi bencana gempa bumi kepada siswa. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan mereka ketika terjadi bencana susulan.
Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (PKO) Flores Timur, Felix Suban Hoda, belum merespons terkait langkah-langkah penanganan lebih lanjut terhadap para warga sekolah terdampak gempa yang selama tiga pekan melaksanakan KBM di tenda darurat.
Bagian Operasional Stasiun Geofisika Kupang, dihubungi melalui WhatsApp, menjelaskan gempa susulan itu terjadi pasca gempa pertama dengan magnitudo 4,7 pada 8 April 2026. Total gempa tercatat 173 kejadian pada 8-27 April.
“Penyebab dari gempa bumi susulan tersebut sama dengan gempa bumi utama yaitu sesar aktif. Masyarakat diimbau untuk menghindari bangunan yang memiliki kerusakan struktur atau retakan signifikan,” jelasnya.
Warga juga diminta menjauhi lereng atau bukit yang berpotensi longsor akibat ketidakstabilan tanah pasca gempa. Hingga saat ini belum ada teknologi yang mampu memprediksi gempa secara akurat.
Paul Kebelen













