Larantuka, Ekorantt.com – Yoseph Lado Kelen menumpang sepeda motor sambil menenteng termos dan makanan ringan dari Desa Mokantarak, Kecamatan Larantuka menuju ke gerai kopi miliknya pada Selasa, 26 Mei 2026 pagi.
Gerai kopi itu diberi nama Gerai Kopi Opa Wailako. Letaknya tidak jauh dengan Desa Bama atau berjarak hanya kurang lebih empat kilometer dari Desa Mokantarak. Gerai itu nampak sederhana, dibangun dari pelupuh sekitar empat tahun lalu di Jalan Trans Flores Larantuka-Maumere.
Pria berusia 76 tahun ini berdagang kopi, teh, dan makanan ringan. Aneka makanan datang dari jerih payahnya sebagai seorang petani di lahan seluas setengah hektar.
“Kebun saya hanya 200 meter dari warung kopi, di sana saya tanam jagung, kacang, padi, dan sayuran,” ucap Yoseph.
Usia hanya sebatas angka bagi Yoseph. Sebelum matahari menyingsing dari timur Kota Larantuka, ia sudah membuka pintu gerai kopi Opa Wailako.
Pagi itu, warungnya baru didatangi seorang pelanggan yang kebetulan melintas di jalur itu. Pelanggan itu lantas memesan secangkir teh dan ia melayani.
Segelas teh panas seharga Rp5.000 ia dihidangkan di atas gelondongan kayu datar, pengganti meja. Ia menawarkan jagung titi dan kacang goreng. Harganya Rp5.000 sampai Rp10.000 per bungkus.
Yoseph terinspirasi membangun Gerai Kopi Opa Wailako saat perjalanan pulang dari kebun. Di pinggir jalan, ia melihat sejumlah pengendara tengah beristirahat di bawah rindang pohon.
“Akhirnya muncul ide, bagus juga kalau buka usaha kopi di sini. Biar pemasukan sedikit juga tidak masalah,” katanya.
Ide Yoseph juga dilatarbelakangi oleh akses pasar yang kian sempit bagi petani kecil. Hasil bumi yang dikerjakan dengan keringat dan air mata kerap tak dihargai dengan harga yang sebanding.
“Dengan warung kopi, saya bisa jual saya punya kacang tanah dan jagung titi. Puji Tuhan, masih berjalan sampai dengan sekarang,” ucap pria kelahiran 1950 itu.
Lewat berdagang pada pukul 06.30 Wita sampai 17.00 Wita, kakek yang dikaruniai lima anak dan 13 cucu itu bisa membawa pulang Rp50 ribu per hari. Nominal yang melegakan bagi masyarakat berekonomi kelas bawah.
Yoseph berkata, hidup keluarganya bergantung dari bertani dan usaha kecil. Di rumah sederhananya, Yoseph dan istrinya bernama Theresia Hurint, merawat sang putra semata wayang dengan kebutuhan khusus atau difabel.
“Anak saya ada lima, empat perempuan dan satu laki-laki. Anak perempuan sudah menikah dan bekerja, satu orang bergelar sarjana, kalau yang laki-laki itu sakit jadi tinggal dengan saya dan mama (istri) di rumah,” ujarnya.
Yoseph berharap program pemerintah baik daerah hingga pusat, lebih memperhatikan pelaku usaha kecil. Hal paling utama menyangkut akses pasar dan pelatihan kreativitas dan inovasi bagi UMKM muda.
Paul Kabelen













