Oleh: Aloysius Uje Kerans
Kenaikan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kabupaten Flores Timur bisa saja menjadi sorotan, namun perlu dimaknai secara bijak. Data terbaru, angka TPT melonjak signifikan dari 3,58 persen pada tahun 2024 menjadi 6,36 persen pada tahun 2025.
Lonjakan yang hampir dua kali lipat dalam kurun waktu satu tahun ini bukan sekadar barisan angka pada tampilan statistik. Ini adalah cerminan dari dinamika sosial, pergeseran ekonomi, dan tantangan ketenagakerjaan riil yang sedang dihadapi oleh masyarakat Lewotana.
Di balik persentase tersebut, ada ribuan usia produktif yang berjuang mencari penghidupan dan keluarga yang menahan tekanan ekonomi yang kian kompleks.
Mengapa Melonjak?
Untuk merumuskan solusi yang tepat, kondisi ini perlu dibaca secara jernih dari berbagai sudut pandang. Pertama, pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya menciptakan kesempatan kerja. Dari perspektif makroekonomi, peningkatan TPT dapat mengindikasikan adanya jeda (lag) antara pertumbuhan ekonomi daerah dan kemampuan menciptakan lapangan kerja baru.
Meskipun beberapa sektor ekonomi menunjukkan pertumbuhan yang positif, termasuk sektor pertanian sebagai penyumbang terbesar Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Flores Timur, peningkatan aktivitas ekonomi tersebut belum tentu secara langsung diikuti oleh peningkatan penyerapan tenaga kerja. Akibatnya, roda ekonomi tetap bergerak, tetapi belum cukup kuat mengakomodasi tambahan angkatan kerja di setiap tahunnya.
Kedua, kerentanan sektor primer (pertanian, kehutanan, dan perikanan). Secara struktur ekonomi (PDRB), Flores Timur masih sangat bergantung pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan.
Sebagian besar masyarakat masih menggantungkan hidup pada sektor tersebut yang umumnya bersifat informal. Ketika terjadi cuaca ekstrem, perubahan iklim, gangguan produksi, atau fluktuasi harga pasar, pendapatan masyarakat dapat menurun dan stabilitas pekerjaan menjadi lebih rentan.
Kondisi ini berpotensi mendorong sebagian tenaga kerja kehilangan pekerjaan atau mengalami penurunan kesempatan kerja.
Ketiga, tekanan demografi dan skill mismatch setiap tahun, gelombang lulusan baru (fresh graduates) dari tingkat menengah hingga perguruan tinggi berbondong-bondong memasuki pasar kerja.
Tantangan utamanya adalah kesenjangan kompetensi. Dunia kerja modern tidak lagi hanya melihat ijazah formal, melainkan menuntut keterampilan spesifik dan teknis, literasi digital dan kemampuan adaptasi teknologi serta kemampuan komunikasi dan kolaborasi.
Ketika kualifikasi pencari kerja tidak sejalan dengan kebutuhan pasar, pengangguran struktural tidak dapat dihindari.
Menariknya, dari sudut pandang statistik ketenagakerjaan, kenaikan TPT tidak selalu berarti kemunduran mutlak. Fenomena ini juga bisa dipicu oleh meningkatnya kesadaran sosial. Dahulu, banyak masyarakat yang terjebak pada pekerjaan keluarga yang tidak dibayar (unpaid family workers) atau sektor informal seadanya demi bertahan hidup.
Seiring meningkatnya tingkat pendidikan, ekspektasi masyarakat ikut bergeser. Kini, lebih banyak individu yang secara aktif memilih untuk mencari pekerjaan formal yang dinilai lebih layak dan sesuai dengan kompetensi mereka.
Dalam metodologi survei, aktivitas “aktif mencari kerja” inilah yang kemudian tercatat sebagai pengangguran terbuka.
Jika tidak segera dimitigasi, pengangguran yang berlarut-larut akan memicu efek domino yang berbahaya. Pertama,
penurunan daya beli. Pendapatan rumah tangga yang merosot akan langsung memukul sektor UMKM lokal karena perputaran uang di masyarakat melambat.
Kedua, tekanan psikologis generasi muda. Kehilangan momentum produktif di usia emas dapat memicu frustrasi, menurunkan rasa percaya diri, dan memperlebar risiko kerawanan sosial.
Angka TPT bukan hanya data tahunan, melainkan kumpulan cerita tentang harapan, kecemasan, dan masa depan generasi muda Flores Timur.
Solusi Inklusif
Lonjakan TPT 2025 dapat menjadi momentum untuk meninjau kembali efektivitas strategi pembangunan daerah. Beberapa area yang perlu diperhatikan adalah hilirisasi sektor unggulan, penguatan pendidikan vokasi yang selaras dengan kebutuhan pasar kerja, serta peningkatan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan komunitas lokal dalam mendorong penciptaan lapangan kerja dan wirausaha baru.
Pertumbuhan ekonomi sejati tidak hanya diukur dari angka-angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), melainkan juga seberapa besar sistem ekonomi tersebut mampu memberikan ruang bagi setiap warganya untuk bekerja, berkarya, dan meningkatkan kualitas hidup secara berkelanjutan.
Angka 6,36 persen ini adalah panggilan untuk bertindak (call to action) demi Flores Timur yang lebih adaptif dan inklusif.
Penulis adalah Ketua Tim Pembinaan Statistik Sektoral (PSS) BPS Kabupaten Flores Timur













