*Oleh: Lasarus Jehamat
Di tengah bangsa ini sedang riuh menyambut 81 tahun kemerdekaan, dari Flores datang kabar yang membuat kegembiraan terasa tidak sepenuhnya utuh.
Bendera Merah Putih berkibar di banyak tempat, perlombaan digelar, lagu kemerdekaan terdengar, tetapi pada saat yang sama sebagian saudara kita tidur di luar rumah, menjaga anak-anak dari gempa susulan, dan mencoba menata kembali hidup yang mendadak berubah. Tidak ada yang salah dengan merayakan kemerdekaan.
Tetapi duka Flores mengingatkan bahwa perayaan menjadi lebih bermakna ketika kegembiraan nasional masih menyisakan ruang untuk menengok mereka yang sedang terluka.
Barangkali di situlah kemerdekaan memperoleh maknanya yang paling sederhana. Merdeka bukan hanya ketika bendera dapat dikibarkan tanpa rasa takut.
Merdeka juga berarti tidak ada warga yang merasa ditinggalkan ketika bencana datang. Tidak boleh ada orang memperoleh pertolongan hanya karena rumahnya dekat jalan raya, dekat kota, mudah difoto, atau gampang muncul di media sosial.
Dalam keadaan darurat, republik harus hadir sampai ke jalan terakhir, kampung terakhir, dan rumah terakhir yang membutuhkan pertolongan.
Gempa M 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus meninggalkan dampak luas. BNPB menyebut enam kabupaten mengalami dampak berat, yakni Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Ende, Nagekeo, dan Sikka.
Pemerintah telah menggerakkan bantuan, membangun posko, menyiapkan jalur logistik, dan mengerahkan sarana udara maupun laut. Kepala BNPB bahkan secara khusus meminta agar distribusi logistik dapat menembus lokasi-lokasi yang sulit dijangkau.
Karena itu, persoalan yang perlu kita bicarakan sekarang bukan apakah solidaritas ada. Solidaritas itu nyata dan mengharukan. Bantuan datang dari pemerintah, lembaga sosial, dunia usaha, komunitas, organisasi keagamaan, dan warga biasa.
Persoalannya justru lebih teknis sekaligus lebih manusiawi, apakah bantuan yang banyak itu benar-benar menemukan orang yang paling membutuhkan? Sebab dalam bencana, jumlah bantuan penting, tetapi alamat bantuan jauh lebih penting.
Bencana mempunyai geografi yang tidak sederhana. Korban tidak hanya tinggal di kota. Mereka tersebar di desa, lembah, lereng, kawasan pesisir, kampung yang jauh dari pusat pemerintahan, bahkan lokasi yang akses jalannya terganggu.
Di tempat-tempat seperti itu, warga kadang tidak memiliki cukup jaringan telepon untuk mengabarkan keadaan. Foto mereka mungkin tidak masuk media sosial.
Keluhan mereka tidak menjadi trending topic. Tetapi rasa lapar mereka sama. Luka mereka sama sakitnya. Anak-anak mereka sama membutuhkan tempat aman.
Inilah bahaya yang perlu diantisipasi; yang terlihat ramai disebut di media sosial mendapat perhatian, yang alpa disebut, menunggu lebih lama.
*Penulis adalah Dosen Sosiologi Fisip Undana Kupang













