Oleh: Alvares Keupung
Di era digital seperti sekarang, banyak hal bisa muncul tak terbendung di ruang publik melalui media sosial, bahkan bisa trending, dibicarakan secara luas oleh khalayak. Hal yang sederhana sekalipun bisa muncul dengan tiba-tiba, menjadi viral dan menjadi magnet yang menarik energi da lam interaksi sosial.
Barangkali hal sederhana yang dimaksud, tidak punya intensi khusus agar trending manakala dipublish ke ruang publik (media sosial). Bisa saja, yang trending dan viral bermula dari sebuah keisengan, kebetulan semata dan tanpa maksud yang bersifat ekspektatif, muncul dari ruang dan waktu yang senggang.
Dunia digital hari-hari ini ramai dengan sebuah lagu yang sedang viral: Lu Kenal Veronika Ko? karya Very Klau melalui sejumlah kanal media sosial. Belum lama tayang, lagu ini justru melejit dan terkenal.
Sepintas memang karya ini terkesan sangat remeh temeh, aransemen yang sederhana dan biasa-biasa saja, di luar standar industri musik yang istimewa serta di luar dari kepatutan dan kepatuhan struktur bahasa Indonesia yang baku.
Meskipun begitu, di sinilah letak kekuatannya. Dia muncul dan melejit dari segala kesederhanaan terutama bahasa yang dirangkai. Dari yang sederhana, toh menjadi hebat dan luar biasa untuk diterima. Mengapa?
Publik tidak pernah tahu bahwa Very Klau punya maksud apa di balik karyanya ini. Dan Very Klau tidak pernah menyangka, seperti ini kah karyanya bisa diterima secara masif. Namun, mesti disadari bahwa melalui karya ini, sebuah literasi sedang diperlihatkan: kunci utama di dalam ruang sosial adalah kesederhanaan bahasa akan lebih cepat mengikat kedekatan dan penerimaan daripada yang ilmiah dan formal.
Lagu Lu Kenal Veronika Ko? yang sedang fenomenal ini tidak bergaung dengan bahasa yang mentereng dan ilmiah, tetapi muncul dengan kosa kata sederhana, dialek lokal, simbol komunikasi harian yang hanya terjadi pada masyarakat dan lokus yang ‘periferis’.
Justru karya ini dengan bahasa sederhananya mudah dan cepat diterima, dikenal, diingat serta berpengaruh (juga) di dalam ruang digital bahkan melampaui ruang digital itu sendiri.
Bertitik tolak dari pernyataan di atas, era digital sudah cukup memberi ruang yang terbuka bagi apapun yang paling sederhana untuk bisa diterima secara massal. Penerimaan secara ‘berjemaah’ terhadap lagu Lu Kenal Veronika Ko? mengafirmasi karakter masyarakat digital bahwa: apa yang sederhana dan apa yang dekat dengan realitas, lebih kuat mengikat dan berpengaruh untuk diterima khalayak.
Dengan kata lain, yang terkesan ilmiah dan formal tidak selalu menjadi prasyarat untuk diterima dan menjadi viral, karena satu hal, yakni ruang digital tidak mengenal batasan sosial. Setiap simbol sosial (bahasa) manapun (bahasa yang ilmiah dan non ilmiah, bahasa formal dan non formal ) boleh mempunyai tempat yang sama di dalamnya.
Pada titik ini, kita dapat melihat bahwa standardisasi dan kategorisasi kebahasaan secara baku dalam lagu Lu Kenal Veronika Ko? rupanya tidak menjadi perhatian utama. Bahasa yang sederhana dengan dialeg lokal yang orisinil jauh lebih sempurna menarik ikatan emosional sosial. Bukan bagus dan tidaknya karya ini, tetapi dekat dan diterimanya karya ini karena unsur kebahasaan dan dialek lokal yang lebih mengikat, meskipun dalam banyak hal ‘false’ struktur kebahasaannya.
Bahasa yang sederhana dalam dunia digital melalui lagu Lu Kenal Veronika Ko? menginversi nilai: tidak selamanya dan seharusnya yang kelihatan eksklusif punya nilai, tetapi yang remeh temeh, recehan dan sederhana pun bernilai. Artinya, melalui lagu Lu Kenal Veronika Ko?, bahasa yang sederhana pun dapat berdampak dan bermeta nilai: mengikat kedekatan emosional sosial, bukan kedekatan yang biasa-biasa saja.
Setelah ditayangkan melalui platform YouTube dan menjadi viral, lagu Lu Kenal Veronika Ko? seolah menghubungkan segala lapisan sosial. Berbagai ragam tulisan, diskursus, komentar atasnya menjadi penghubung dan ekspresi yang ramai di media sosial. Interaksi sosial di dalam ruang digital begitu cair dan hangat pun dalam interaksi sosial di dunia nyata. Veronika Effect seakan menghipnotis: menghubungkan yang terpisah, mendekatkan yang berjarak, mencairkan yang kaku, merelaxkan yang serius. Lagi-lagi karena kesederhanaan bahasa dan dialeg lokal yang ‘periferis’.
Membawanya kepada konteks realitas sosial, lagu Lu Kenal Veronika Ko? memang menjadi sebuah karya yang sangat familiar dengan konteks kebahasaan yang dikonsumsi dalam percakapan harian. Dia tidak menjadi garing karena bahasa yang tinggi, ilmiah, dan formal. Tetapi bahasanya begitu lunak, lugas, dan sederhana karena digali dari bahasa percakapan harian komunitas akar rumput.
Oleh karena karakternya yang demikian, dari ruang digital yang sangat mekanistik, bertransformasi ke dalam ruang sosial yang realistik. Dari ruang digital dengan pola diskursus tentangnya butuh signal, beralih kepada percakapan di ruang sosial yang bebas lepas.
Pada akhirnya kita mesti sadar bahwa sekalipun dengan bahasa yang sederhana dan dialeg lokal, yang sederhana dapat menjangkau lebih luas ruang sosial. Veronika Effect: Lu Kenal Veronika Ko? sudah menjadi viral melalui pintu ruang digital, namun yang lebih bermakna dari itu sesungguhnya adalah mengikat kedekatan emosional sosial melalui kesederhanaan bahasa dan dialeg lokal.
Apa persisnya intensi dari lagu ini di ruang digital bukan menjadi urusan publik, tetapi di ruang sosial (realitas) dia sudah menjadi bahan perbincangan, bahan humor ringan dan bahkan menjadi bahan referensi untuk sebuah kreativitas baru yang semirip dengannya, dieksplor dari realitas harian lewat bahasa sederhana dalam konteks lokal. Dalam hal ini, Veronika Effect dengan kekuatan bahasanya yang sederhana, sungguh punya efek melampaui ruang digital.
*Penulis adalah seorang master of ceremony dan diaspora Maumere di Ende













