Alorawe, Ekorantt.com – Ada yang unik pada peringatan Hari Ulang Tahun Kabupaten Nagekeo ke-13 kali ini. Pasalnya, perayaan HUT tersebut digelar lebih cepat dua hari, yaitu pada 6 Desember 2019. HUT Kabupaten Nagekeo sendiri jatuh pada 8 Desember 2019.
Hal unik lainnya adalah perayaan HUT Nagekeo dilaksanakan di Desa Alorawe, Kecamatan Boawae. Alorawe adalah salah satu desa terpencil di Kabupaten Nagekeo. Untuk mencapai desa tersebut, bupati, wakil bupati, anggota DPRD, Organisasi Perangkat daerah (OPD), dan seluruh undangan harus melewati jalan yang sempit dan terjal. Mereka juga harus melewati jembatan bambu darurat dari yang dibuat masyarakat setempat.
Acara HUT Nagekeo diawali dengan kegiatan makan bersama seribu butir telur ayam sebagai bentuk kampanye menuju pola hidup sehat tanpa masalah stunting.
Wakil Bupati Nagekeo Marianus Waja dalam sambutannya mengatakan, perayaan HUT Nagekeo sengaja dilaksanakan di Desa Alorawe untuk menunjukkan perhatian pemerintah terhadap masyarakat.
“Hari ini, kita harus gembira, namun dengan permenungan. Bupati sengaja memilih Alorawe sebagai lokasi perayaan HUT Nagekeo karena mau menegaskan bahwa selama 13 tahun ada perhatian yang kurang bagi masyarakat yang merasa lau wisu atau dimarjinalkan,” ujar Wabup Marianus.
Menurut Marianus, sejarah perjalanan Nagekeo sebagai sebuah kabupaten memang penuh dengan tantangan. Akan tetapi, menurut dia, tantangan memacu kita mencari solusi dari berbagi sektor, strata, dan kelompok baik masyarakat maupun pemerintah.

Wakil I Ketua DPRD Nagekeo Yosefus Dhenga mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Nagekeo mengenang jasa para pejuang pemekaran Kabupaten Nagekeo baik yang sudah tiada maupun yang masih hidup.
“Melalui kesempatan ini, saya mengajak kita kembali membuka lembaran sejarah satu persatu. Ada dokumen Pata Kita, buku Rancang Bangun Nagekeo, buku Amanah Rakyat Nagekeo. Coba kita buka kembali. Ada benang merah yang harus dirajut satu persatu untuk membangun Nagekeo,” ungkap politisi NasDem tersebut.
Yosefus Dhenga juga mengajak masyarakat Kabupaten Nagekeo mendukung program pembangunan di Nagekeo di bawah pimpinan Bupati Don Bosco Do dan Wakil Bupati Marianus Waja.
“Tanggalkan semua perbedaan, apalagi perbedaan agama, suku, dan ras. Namun, yang ada hanya Nagekeo,” ujarnya.
Kepala Desa Alorawe Don Bosco Baka dalam dialog meminta Pemerintah Kabupaten Nagekeo membangun jembatan penyeberangan di desa tersebut. Menurutnya, persoalan masyarakat Desa Alorawe adalah tidak memiliki jembatan penyebarangan. Pada musim hujan, masyarakat di desa tersebut harus melawan arus sungai apabila hendak menuju kabupaten atau kecamatan.
Menurut Don Bosco, pada tahun 2016, pemerintah pernah menetapkan anggaran pembangunan Jembatan Alorawe senilai Rp1 Miliar lebih. Pada tahun 2017, pernah dianggarkan Rp2 Miliar. Namun, hingga sekarang, jembatan itu tidak kunjung dibangun.
“Kalau jembatan, saya tidak perlu sampaikan lagi. Namun, saya yakin, pihak-pihak terkait sudah punya inovasi dan rencana membangun Jembatan Alorawe,” ujarnya.