Polemik
Anggota DPRD Sikka dari Fraksi Perindo Bernadus Kardiman mengapresiasi niat baik Bupati Sikka. Namun, menurut dia, kebijakan pemerintah tidak mesti terpaku pada instruksi itu.
“Pemerintah tidak harus terpaku pada instruksi itu bahwa pada saatnya panen baru kita panen, tetapi juga harus memberi peluang kepada petani vanili untuk bisa menjual hasil vanilinya ketika ada kebutuhan mendesak, misalnya ada urusan kesehatan dan pendidikan,“ ujarnya kepada Ekora NTT, Kamis (16/1).
Menurut Kardiman, beberapa petani di salah satu dusun yang ia temui pada saat reses mengatakan bahwa instruksi itu sangat merugikan para petani. Ia menganjurkan, para petani yang menjual vanili tidak pada waktunya tidak serta merta ditangkap, tetapi diberikan arahan.
Hal yang berbeda diungkapkan Alfridus Melanus Aeng.
Politisi PKPI asal Bola ini sepakat dengan Instruksi Bupati yang mengatur tata kelola vanili. Menurut dia, instruksi bupati itu hendak menanggulangi dua persoalan, yakni peningkatan kualitas vanili dan keamanan bagi para petani vanili.
Dari aspek kualitas, demikian Alfridus, dulu, Vanili Sikka
menjadi vanili nomor satu. Isu bahwa ada oknum petani yang menjual vanili
dengan memasukan paku di dalam vanili kemudian menyebabkan harga vanili di
Sikka anjlok.Sementara itu, dari aspek keamanan,
kasus pencurian vanili di Sikka meningkat tajam dibandingkan dengan komoditas
lainnya.
“Hemat saya, pengaturan itu penting,” katanya.
Akan tetapi, Alfridus menyarankan agar Sat Pol PP tidak menginterogasi para petani vanili yang hendak menjual vanili secara berlebihan. Menurut dia, Instruksi Bupati baik, tetapi harus dieksekusi secara manusiawi.
Dosen Agribisnis Fakultas Pertanian (Faperta) Unipa Maumere Yoseph Yakob Da Rato berpendapat, Instruksi Bupati tentang Jual Beli Vanili hendak memproteksi kualitas dan nilai ekonomis serta menjaga stabilitas harga vanili. Sebab, kalau vanili dipanen tidak pada waktunya, maka akan berdampak pada kualitas dan standar harga vanili yang pada gilirannya akan berdampak pula pada penurunan pendapatan para petani vanili.
“Memang banyak polemik yang terjadi dari perspektif yang berbeda. Itu wajar. Namun, satu hal yang perlu dikritisi, sebaiknya ke depan dibuat kajian yang komprehensif tentang bagaimana mengatur tata kelola vanili yang menguntungkan petani sehingga mereka memperoleh manfaat secara ekonomis,” kata Yoseph.
Menurut Yoseph, persoalan pertanian sangat kompleks mulai dari hulu sampai ke hilir (off farm & on farm). Oleh karena itu, pertama, pemerintah harus memfasilitasi penyiapan benih vanili yang unggul, kedua, pemerintah memberikan pendampingan yang intensif berupa penyuluhan pertanian mulai dari tanam, perawatan, produksi, hingga pengolahan paska panen, dan ketiga, pemerintah membantu memasarkan produk pertanian. Dari sisi pemasaran atau marketing, pemerintah berperan pertama, menciptakan regulasi dan deregulasi yang menguntungkan petani dan kedua, menciptakan peluang-peluang yang strategis dalam memasarkan vanili.
Satu hal yang ditegaskan Yoseph adalah pemerintah harus mendorong terbentuknya Sistem Terminal Agribisnis (STA). Tujuannya adalah memperpendek mata rantai tata niaga dengan cara mempertemukan langsung produsen dan konsumen.












