Maumere, Ekorantt.com – Pandemi Covid-19 memicu tersendatnya aktivitas ekonomi masyarakat. Aktivitas jual-beli terganggu mengingat daya beli masyarakat kian turun seiring dengan terhimpitnya ekonomi keluarga.
Rendahnya daya beli masyarakat pada gilirannya berdampak pada menurun drastisnya pendapatan pedagang kecil di pasar. Kisah tiga penjual aksesoris wanita yang menempati Pasar Tingkat Maumere, tak mampu berbuat apa-apa di tengah pandemi.
Adalah Masadah, Chairul Bariah, dan Hajah Sofia, ketiganya hidup dari berjualan aksesoris wanita. Masadah dan Chairul Bariah sudah berjualan sejak 19 tahun silam. Sementara Hajah Sofia baru berjualan di pasar yang rencananya akan dibangun mall ini sejak 2014, enam tahun silam.
Tak seperti biasanya, selama pandemi Covid-19, mereka kesulitan menjual barang dagangan. Pembeli sepi. Sehari mereka hanya bisa mendapatkan 10 ribu rupiah, dan syukur-syukur kalau sampai 30 ribu rupiah.
“Pendapatan setiap hari menurun drastis. Kisaran perolehan setiap hari Rp10 ribu- Rp20 ribu. Syukur-syukur kalau dapat Rp30 ribu. Dapat Rp10 ribu saja setengah mati. Kadang juga duduk dari pukul 8.00 hingga pukul 15.00 pulang dengan tangan hampa,” curhat Masadah saat disambangi Ekora NTT Senin 27 April 2020 lalu.
Ketiga perempuan asal Madura ini tidak kapok dan tetap berjualan setiap hari. “Ibu mau cari apa?” demikian mereka menyapa siapa saja melintas di depan lapak jualan, berharap ada yang berhenti untuk membeli.
Hal yang cukup menghibur, kata Masadah, karena angsuran pinjaman dan retribusi pasar untuk sementara ditangguhkan.
Sedihnya juga, mereka tinggal di rumah kontrakan. Untung saja, pemilik rumah paham dengan keadaan mereka.
“Bersyukur, pemilik rumah kontrakan masih memahami keadaan sehingga belum menagih uang kontrakan. Sedih pak, kalau mengingat semuanya ini,” ujar Masadah yang diamini Hajah Sofia.
Sementara Chairul Bariah penjual yang tinggal di kilometer dua Kelurahan Kota Uneng mengatakan, dirinya tetap tegar dan selalu mengajak teman seprofesi agar tidak putus asa dan tetap berjualan.
“Saya hanya katakan kepada mereka walaupun sehari jualan hanya memperoleh Rp10 ribu atau Rp20 ribu patut kita syukuri,” ujar Bariah.
“Kadang kalau usai jualan kami saling curhat soal pemasukan hari ini berapa. Ada yang bilang 10 ribu rupiah. Ada yang bilang 20 ribu rupiah, dan kalau yang mendapatkan Rp30 hingga Rp50 ribu pasti dari beli masker yang ibu-ibu jual. Tetapi jika hari itu tidak ada pembeli sama sekali pulang dengan wajah sedih,” tambahnya.
Di tengah badai Covid-19, mereka tetap yakin bahwa badai pasti berlalu. Asalkan menjalankan pola hidup sehat, badai virus mematikan ini akan berakhir.












