Maumere, Ekorantt.com – Aksi penutupan jalan negara Maumere-Larantuka, tepatnya di Desa Hikong, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka bikin heboh.
Ekora NTT berkesempatan mewawancarai Kepala Desa (Kades) Hikong, Agustinus Adeodatus melalui telepon selulernya, Senin (25/5/2020).
Berikut petikan wawancara wartawan Ekora NTT, Petrus Popi (Petrus) dan Kades Hikong, Agustinus Adeodatus (Agustinus).
Petrus: Aksi penutupan jalan di Hikong heboh, pak.
Agustinus: Penutupan jalan itu sebagai reaksi dari perlakuan Satgas Covid 19 di wilayah perbatasan Boru, Flores Timur terhadap pelaku perjalanan, pelaku ekonomi dari Kabupaten Sikka.
Ada pengecualian bahwa orang Maumere yang melintasi wilayah perbatasan wajib mengantongi surat keterangan hasil rapid test karena wilayah Maumere sudah daerah Covid-19.
Petugas posko Covid-19 yang ada di perbatasan hanya menertibkan pelaku perjalanan. Anehnya ketika pelaku perjalanan yang notabene orang Hikong, mereka memberikan pesan bahwa orang Hikong bagian dari Kabupaten Sikka, maka tidak boleh masuk ke wilayah Flores Timur.
Saya juga salah satu orang yang ditahan di Boru. Padahal saya ke sana hanya mau ambil ATM saja, tidak diperbolehkan, harus mengantongi rapid test. Kami menghargai kebijakan dari Pemkab Flores Timur asalkan jangan ada stigma: kamu orang Maumere itu pembawa Covid. Bahkan memegang kayu portal saja itu dilarang petugas posko Covid karena takut Covid.
Petrus: Reaksi Bapak?
Agustinus: Para sopir pelaku perjalanan dan masyarakat menyampaikan ke saya. Maka sebaiknya kita membantu orang Flores Timur supaya mereka tidak terpapar. Daripada orang Flores Timur terus ke Maumere, sebaiknya jalan lintas batas di Hikong ini ditutup saja.
Petrus: Selanjutnya?
Agustinus: Kemudian saat itu juga dilakukan penutupan sementara sambil menunggu reaksi dari Pemerintah Flores Timur agar dicari solusi bagaimana. Tujuannya, tidak ada pengecualian terhadap orang Maumere yang melakukan perjalanan ke Flores Timur.
Malam itu juga, langsung terjadi diskusi antara Pemda Flores Timur diwakili Sekcam, Wakapolsek dan Danramil. Kemudian dari Maumere hadir Camat, Wakapolsek, Dinas Perhubungan.
Diskusi saat itu juga mencapai mufakat bahwa blokade di Hikong dibuka kembali dengan catatan orang Maumere juga bisa melakukan perjalanan ke Flores Timur. Jadi orang Maumere juga diperlakukan secara adil, dan tidak ada stigma orang Maumere pembawa Covid-19.
Petrus: Apakah penutupan jalan itu sudah ada dikoordinasi dengan dinas terkait?
Agustinus: Nanti untuk berita lebih lanjut, daripada saya memberikan keterangan salah. Pa langsung konfirmasi dengan Pa Sekretaris Dinas Perhubungan Kabupaten Sikka saja.
Petrus: Ada ambulance yang lewat saat itu, karena tertahan lama, ada bayi yang meninggal?
Agustinus: Itu hoaks Pa. Jadi berita simpang siur ditahan berjam-jam itu hoaks. Ada pengecualian terhadap pelaku perjalanan yang ada di batas itu. Memang beberapa mobil ditahan. Tetapi dua mobil ambulance dilewatkan saat itu.
Petrus: Bagaimana sebenarnya?
Agustinus: Ada dua mobil ambulance yang lewat saat itu. Mobil ambulance yang pertama itu lewat kurang lebih jam tiga sore. Itu dilewatkan.
Kemudian ambulance yang kedua sampai berdampak adanya korban yang meninggal itu dari Larantuka tiba di Hikong kurang lebih jam setengah tujuh atau jam tujuh malam.
Tapi dia ini kan berada dalam antrian belakang sehingga butuh waktu untuk lewat. Akhirnya kurang lebih 15 menit mobil ambulance itu dilewatkan. Mobil ambulance kedua itu berada di Hikong hanya 15 menit saja.