Bajawa, Ekorantt.com – Pemerintah Desa Piga, Kecamatan So’a, Kabupaten Ngada menjadikan permandian air panas sebagai ikon wisata desa. Pengelolaannya dilakukan oleh Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Piga.
Uniknya, kawasan permandian tersebut dikemas dengan menampilkan sisi alami desa yang dikelilingi puluhan rumpun bambu. Pemandangan itu memberi rasa nyaman dan suasana berbeda bagi pengunjung.
“Kita mulai mengembangkan tempat ini sejak tahun 2018 di mana semua pengolahannya dilakukan oleh Bumdes Desa Piga,” ujar Kepala Desa Marselinus Be’i Tena.
Menurut Marselinus, jika ingin berkunjung ke tempat tersebut, pengunjung hanya membutuhkan waktu 30 menit dari Kota Bajawa dengan menggunkan transportasi umum. Jika menggunakan sepeda motor hanya membutuhkan waktu 20 menit.
“Yang jelas kita mendesain suasana di sini agak berbeda dan mengedepankan sisi kenyamanan bagi pengunjung jika berkunjung ke ini,” ujar Marselinus.
Meskipun mengalami kendala dalam mengelola tempat tersebut, pihaknya optimis untuk terus mengembangkan tempat tersebut sehingga dikenal oleh para wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.
Marselinus mengaku, meskipun masih terhitung sangat muda, tempat permandian air panas sudah banyak dikunjung oleh pengunjung dari luar Desa Piga.
“Selama ini, sebelum corona memang animo masyarakat cukup tinggi ke tempat ini,” ujarnya.
Menurutnya, selain meningkatkan perekonomian masyarakat setempat, tempat permandian tersebut juga memberi peluang lapangan pekerjaan baru di desa.
“Kehadiran tempat ini juga berdampak pada lapangan kerja baru di desa ini, meskipun sekarang baru dua orang yang kerja di sini, yaitu tukang sapu dan bagian karcis,” ujarnya.
Selama masa pandemi virus corona, pemerintah desa terpaksa menutup tempat tersebut untuk mencegah penyebaran virus corona.
“Selama ini, memang kita masih tutup, karena ada imbauan dari Pemerintah Kabupaten Ngada, sehingga kita tutup sementara,” ujarnya.
Menurut Marselinus, pandemi virus corona yang melanda Indonesia dan dunia telah menyebabkan desanya kehilangan pendapatan desa dari tempat pemandian air panas itu.
“Selain karena corona, kita juga terkendala dengan promosi. Namun, kita terus berusaha mempromosi melalui cara-cara kita, melalui media,” ujarnya.
Marselinus berkomitmen untuk terus mendorong dan berupaya sehingga tempat pemandian air panas itu dikenal masyarakat luas.
“Kalau kita kenalkan tempat ini dengan nama Wae Bana Meze, yang diambil dari bahasa di sini,” ujarnya.
Belmin Radho











