Bajawa, Ekorantt.com – Kedai kopi terus menjamur di sejumlah tempat di Kota Bajawa, Kabupaten Ngada. Penjamuran kedai kopi tersebut seiring dengan penetapan kopi sebagai komoditas unggulan oleh Pemerintah Kabupaten Ngada.
Dikenal dengan nama kopi Arabica Flores Bajawa (AFB), kopi ini sudah sangat dikenal oleh masyarakat luas, khususnya masyarakat Nusa Tenggara Timur. Udara dingin menjadikan kopi AFB menjadi solusi terbaik bagi Anda yang sedang berkunjung ke Kota Bajawa.
Di Desa Beiwali, Kecamatan Bajawa, sejumlah masyarakat terus mempertahankan kopi sebagai tanaman unggulan dan sebagai sumber pendapatan untuk kebutuhan hidup dan biaya pendidikan. Masyarakat juga mendirikan koperasi FA MASA yang intens melakukan pendampingan kepada masyarakat, khususnya para petani kopi.
Kopi yang ditanam pun dipastikan tidak menggunakan pupuk kimia. Para petani kopi menggunakan pupuk organik.
Melihat peluang tersebut, wanita asal Desa Bomari, Kecamatan Bajawa, Mertin Lusi kemudian mengembangkan usaha kedai kopi dengan cara yang berbeda dari kedai kopi pada umumnya. Jika di daerah lain kedai kopi berada di kota, Mertin malah mengembangkan kedai kopi di desa tempat asalnya, tepatnya di Desa Bomari.
Kepada Ekora NTT, 3 Juli 2020, Mertin menjelaskan, Kabupaten Ngada memiliki kopi dengan kualitas terbaik dan sudah diakui secara nasional maupun internasional. Namun, menurutnya, Kopi Bajawa masih dianggap barang biasa bagi sebagian masyarakat. Padahal, kopi merupakan salah satu minuman yang punya nilai tinggi.
Dalam menjalankan bisnis tersebut, ia menggunakan strategi lain dalam memasarkan olahan kopinya tersebut.
“Yang saya jual pertama itu diskusi. Misalkan, hari ini saya buat diskusi dengan tema social distancing. Saya akan tentukan pematerinya, sedangkan peserta yang hadir akan diberi kopi, tapi bayar, dan itu cara saya,” ujarnya.
Menurutnya, menjual kopi dengan diskusi adalah cara terbaik menjual hasil olahan kopinya tersebut.
Mertin mengakui memiliki banyak tantangan saat mendirikan kedai kopi itu. Banyak warga merasa aneh dengah kehadiran kedai kopi tersebut.
“Kalau tantangan banyak, apalagi kedai saya ada di desa. Dulu, memang ada warga yang merasa heran kenapa saya bangun kedai kopi, padahal disini setiap hari di rumah orang minum kopi,” ujar Mertin.
Meskipun demikian, ia tidak pernah pelit dengan ilmu yang dimiliki. Ia justru rutin berbagi cara mengolah kopi kepada kaum muda di desanya.
“Kalau ada anak muda yang datang ke tempat saya, saya sering ajar mereka cara buat kopi dengan berbagai rasa dan itu saya bagikan gratis,” ujarnya.
Mertin mendirikan kedai tersebut pada tahun 2019 lalu dengan modal sekitar Rp27 Juta lebih.
“Selain itu, kami juga siapkan tempat nginap bagi para turis dengan modal uang pas-pasan, baik turis domestik maupun mancanegara,” kata Mertin.
Menurut Mertin, masa pandemi memaksanya harus menutup tempat usahanya tersebut sampai kondisi benar-benar membaik sehingga tidak menimbulkan persoalan yang tidak diinginkan.
“Ada kawan-kawan saya yang minta saya untuk buka lagi, tapi saya tidak mau. Harus aman dulu baru saya buka lagi,” ujarnya.
Mertin berharap, kehadiran kedai tersebut dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang kopi.
Belmin Radho












