Maumere, Ekorantt.com – Gapoktan Nusa Lorang, Desa Wolonwalu, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka merasa kecewa.
Alasan kekecewaan mereka adalah mesin pengolahan coklat bantuan dari dinas pertanian tidak berfungsi.
Anggota Gapoktan Nusa Lorang Matheus Nong Rombin kepada Ekora NTT, Sabtu (5/9/2020) mengatakan, empat bulan sejak merebaknya Covid – 19, tidak ada kegiatan produksi coklat yang dilakukan secara manual di rumah pengolahan hasil (RPH) Gapoktan Nusa Lorang.
Menurut Rombin, anggota sudah dua kali mendapat bantuan mesin pengolahan coklat dari dinas pertanian. Akan tetapi, mesin yang didatangkan tidak berfungsi.
“Kalau stok bahan baku kakao menumpuk di kebun petani. Kendalanya di mesin yang membuat patah semangat kami untuk memproduksi coklat. Kami sudah bosan kalau bahas soal mesin. Sudah dua kali dapat bantuan, tetapi semuanya tidak bisa dipakai,” ungkap Rombin.
Dia menjelaskan, pada tahun 2014, kelompoknya mendapat bantuan enam unit mesin pengolah coklat dari Dinas Pertanian Kabupaten Sikka.
Namun, mesin yang didatangkan tidak berfungsi, sehingga mereka memulangkan mesin tersebut.
“Kendalanya semua dari mesin. Kalau bahan baku stok banyak sampai berlimpah-limpah. Kami punya kakao sampai hancur semua gara-gara itu. Mau jual, tapi takut produksinya besar. Kita tinggalkan sampai 500 ton. Itu kita rugi besar di situ tahun 2014-2015 itu,” ungkap Rombin.
Pada tahun 2019, lanjut Rombin, kelompoknya mendapatkan lagi bantuan mesin pengolahan dari dinas pertanian.
Namun, mesin yang didatangkan juga tidak berfungsi.
“Mesin mereka antar dari Januari sampai sekarang tidak pernah dipakai. Bagaimana mau gunakan, listrik saja tidak mampu,” sebut Rombin.
Menurut Rombin, pihaknya sudah sampaikan persoalan itu kepada dinas.
“Alasan mereka bahwa mesin tidak jalan karena listrik tidak mampu,” tambahnya.
Karena listrik tidak mampu, pihaknya kemudian menaikkan daya listrik 6.600 Watt. Setelah itu, mereka mendatangkan teknisi. Namun, sama saja, mesin tidak bisa beroperasi.
“Menurut teknisi, berdasarkan alat ukur yang mereka gunakan, listrik 6.600 Watt tidak bisa, karena gardu listrik jauh dari rumah produksi,“ kata Rombin.
Pihak dinas kemudian menjanjikan mesin penggerak.
Namun, mesin penggerak yang dijanjikan tersebut sampai saat ini tidak pernah ada.
Dari tahun 2019 sampai sekarang, mesin penggerak tidak pernah muncul-muncul.
Menurut Rombin, kalau pun ada mesin penggerak, proses produksi tidak akan jalan.
Sebab, alat mesin pengolahan yang didatangkan itu tidak lengkap.
“Rencananya bulan 10 ini kita mau pertemuan lagi untuk membahas rencana ke depannya seperti apa. Karena sampai kemarin masih ada yang pesan bubuk coklat, tapi kita tidak produksi lagi,“ ujarnya.
Menurut Rombin, mesin bisa beroperasi normal kalau lengkap.
“Mulai dari mesin gonseng, mesin pemisah kulit ari, pasta kasar pasta halus. Setelah itu, masuk ke mesin oven. Setelah dari mesin oven, langsung ke penempah mesin pres memisahkan lemak dan setelah itu masuk ke mesin penggiling itu baru jadi bubuk. Harga bubuk sendiri satu kilo jutaan rupiah,” jelas Rombin.
Dia berharap, agar proses produksi coklat berjalan baik, pemerintah membantu mereka dengan mendatangkan mesin yang lengkap.











