Gubernur NTT Jajal Trans Utara Flores, Telat Tiba di Maumere Akibat Jalan Rusak

Dikatakan Beni, pihaknya telah mengusulkan dana perbaikan jalan ke Kementerian PUPR. Sebab sulit berharap dari kemampuan keuangan daerah.

Maumere, Ekorantt.com – Gubernur NTT, Melki Laka Lena bersama rombongan menjajal jalan Trans Utara Flores dari Mbay, Kabupaten Nagekeo sampai ke Maumere pada Rabu malam, 2 Maret 2025.

Mereka tiba di Maumere satu jam lebih dari jadwal yang telah direncanakan sebelumnya.

Menurut jadwal, Melki akan bertemu para pengawas sekolah, kepala SMA, SMK, dan SLB pada pukul 19.30 Wita-20.30 Wita bergeser sekitar pukul 21.00 Wita.

“Kami terlambat betul-betul karena faktor jalan. Pak Beni Nahak (Plt Kadis PUPR NTT) ingat ya. Terlambat karena faktornya itu karena faktor jalan,” ujar Melki sebelum berbicara dengan para pengawas (sekolah), kepala SMA, SMK dan SLB di Aula Ruma Jabatan Bupati Sikka.

“Kalau jalan bagus sebenarnya cepat (tiba di Maumere). Tapi lubang (jalan) terlalu banyak, sehingga kita terlambat sampai di Maumere,” kata Melki menegaskan lagi.

Melki ditemani rombongan kecil terdiri dari Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Ahmad Yohan, Wakil Ketua DPRD NTT Roby Tulus Bapa, dan Pelaksana tugas Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) NTT, Beni Nahak.

Melki memulai perjalanannya dengan melihat pembangunan Waduk Lambo di Kabupaten Nagekeo, kemudian meninjau industri garam PT Chitam, dan meluncurkan produk beras milik BUMDes Marapokot.

Plt Kadis PUPR NTT, Beni Nahak, kepada Ekora NTT, mengakui terjadi penurunan kemantapan jalan Trans Utara Flores. Rehabilitasi belum bisa dilakukan pada 2025 karena pemangkasan anggaran di Kementerian PUPR yang berdampak ke provinsi.

Pada tahun ini, kata Beni, hanya dilakukan pemeliharaan. Itu pun masih terjadi pergeseran. Tapi perbaikan jalan putus di Dusun Lokalande, Desa Tou, Kecamatan Kota Baru, Kabupaten Ende butuh penanganan darurat.

Dikatakan Beni, pihaknya telah mengusulkan dana perbaikan jalan ke Kementerian PUPR. Sebab sulit berharap dari kemampuan keuangan daerah.

“Memang berat sekali. Terjadi penurunan. Saya sudah lihat semua. Jadi besar sekali potensi di utara Flores dibanding jalan nasional di wilayah selatan Flores,” kata Beni.

Jalan Trans Utara Flores akan diusulkan menjadi jalan nasional ke pemerintah pusat. Menurutnya, kriteria jalan nasional terpenuhi karena di trans utara terdapat obyek strategis nasional pariwisata premium di Labuan Bajo, Waduk Lambo, PLTU Roba, perikanan laut hingga perayaan Semana Santa di Larantuka.

“Potensi ini menjadi perhatian kita. Ke depan pemerintah provinsi akan berkoordinasi dengan Kementerian PUPR menaikkan status jalan trans utara Flores menjadi jalan nasional,” imbuh Beni.

Jalan Trans Utara Flores membentang 373,40 kilometer mencakup 12 segmen terdiri dari  Reo-Wae Gongger (Matim) 0,60 kilometer, Wae Gongger (batas Matim-Pota) 46,30 kilometer, Pota-Labuan Kelambu (batas Ngada) 35 kilometer, Labuan Kelambu (batas Matim-Riung Ngada)  25,06 kilometer.

Segmen Aeramo-Kaburea (batas Nagekeo-Ende) 34,50 kilometer. Kaburea (batas Nagekeo-Ranakolo (Ende) 37,24 kilometer. Detusoko-Maurole (Ende) 48,65 kilometer, Maurole-Koro (batas Sikka-Ende) 41,15 kilometer. Koro (batas Ende) Maumere (Sikka) 36,58 kilometer.

Napungmali-Mudejebak (batas Flotim-Sikka) 25,27 kilometer. Segmen Mudejebak (Sikka)-Wairunu (Flotim) 17,62 kilometer dan  Watuwiti-Waiklibang (Flotim) 25 kilometer.

Penulis: Eginius Moa

TERKINI
BACA JUGA
spot_img
spot_img