Ruteng, Ekorantt.com – Pusat Pengembangan dan Peningkatan Aktivitas Instruksional (P3AI) Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santu Paulus Ruteng mengadakan kegiatan pendampingan dosen muda pada Senin, 28 Juli 2025.
Kegiatan ini akan berlangsung hingga 29 Juli dan 8 Agustus 2025 di Aula Gedung Utama Timur (GUT) Unika Santu Paulus Ruteng.
Dalam sambutannya, Ketua Unit P3AI, Pastor Emilianus Jehadus menekankan pentingnya pendampingan terhadap dosen muda untuk memperkuat kualitas pembelajaran di kampus.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari misi penting unit P3AI tentang pendampingan terhadap dosen muda terkait dengan pembelajaran dan model-model pembelajaran yang ditawarkan,” jelasnya.
Pastor Emil menjelaskan, kategori utama dosen muda adalah mereka yang belum memiliki jabatan fungsional atau sudah memiliki jabatan fungsional sekurang-kurangnya asisten ahli.
Kegiatan pendampingan ini juga merupakan lanjutan dari kegiatan workshop MKWK, sebuah pelatihan yang berfokus pada pengembangan model pembelajaran Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK), yang telah dilaksanakan pada semester ganjil tahun akademik 2024/2025.
Pendampingan dirancang untuk memperkuat kompetensi pedagogik dosen baru dalam menyiapkan perangkat perkuliahan yang berkualitas dan kontekstual.
Pastor Emil menegaskan, “Pendampingan dosen muda merupakan menjadi salah satu prioritas program kerja P3AI tahun 2025.”
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memastikan semua dosen memiliki pemahaman dan keterampilan dalam mendesain proses pembelajaran berbasis capaian.
“Kami ingin memastikan dosen baru tidak hanya memahami teknis mengajar, tetapi juga mampu merancang pembelajaran yang mendorong keterlibatan aktif mahasiswa,” tegasnya.
Kegiatan ini mencakup pelatihan dalam penyusunan Rencana Pembelajaran Semester (RPS), penggunaan media digital, hingga asesmen berbasis proyek.
“Pendampingan sejalan dengan misi P3AI sebagai Center of Excellence pengembangan pembelajaran di Unika Santu Paulus Ruteng,” tuturnya.
Dalam sesi pendampingan, Ferdinandus Arifin Sulaiman, narasumber utama, membahas integrasi model Blended Learning dan Flipped Classroom sebagai bagian dari strategi transformasi pembelajaran tinggi di era digital.
Blended Learning adalah metode yang menggabungkan pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran daring.
“Blended Learning bukan hanya soal memadukan dalam jaringan dan tatap muka, tetapi bagaimana kita menciptakan pengalaman belajar yang fleksibel, adaptif, dan bermakna bagi mahasiswa,” tegasnya.
Ferdinandus menambahkan, Flipped Classroom memungkinkan mahasiswa mempersiapkan diri secara mandiri sebelum sesi tatap muka, yang kemudian dimanfaatkan untuk diskusi, praktik, dan pemecahan masalah bersama.
Para peserta dari berbagai program studi menyambut baik program ini. Mereka terlibat aktif dalam sesi interaktif, diskusi kasus, simulasi kelas, dan praktik penyusunan RPS berbasis model pembelajaran terkini.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya institusi untuk menyiapkan dosen yang mampu menjawab tantangan pendidikan tinggi di era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0, sejalan dengan kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).