Inflasi Kabupaten Sikka Juli 2025 Tembus 4,02 Persen

Dari 11 kelompok pengeluaran yang dipantau BPS, terdapat delapan kelompok yang mengalami kenaikan indeks, antara lain kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang naik signifikan sebesar 8,45 persen.

Maumere, Ekorantt.com – Inflasi di Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Juli 2025 tercatat mencapai 4,02 persen.

Kepala Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sikka, Kristanto Setyo Utamo mengatakan, inflasi yang tercatat dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,65 pada Juli 2025 tersebut dipicu oleh kenaikan harga pada sebagian besar komponen pengeluaran.

“Berdasarkan hasil pemantauan BPS, pada Juli 2025 terjadi inflasi 4,02 persen atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 106,37 pada Juli 2024 menjadi 110,65 pada Juli 2025,” ujarnya dalam rilis yang diterima Ekora NTT pada Senin, 4 Agustus 2025.

Dari 11 kelompok pengeluaran yang dipantau BPS, terdapat delapan kelompok yang mengalami kenaikan indeks, antara lain kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang naik signifikan sebesar 8,45 persen.

Kelompok lainnya yang mengalami kenaikan adalah pakaian dan alas kaki (0,08 persen), perumahan, air, listrik, serta bahan bakar rumah tangga (0,49 persen), perlengkapan dan pemeliharaan rumah tangga (0,67 persen), transportasi (1,14 persen), pendidikan (4,50 persen), penyediaan makanan dan minuman (0,55 persen), serta perawatan pribadi dan jasa lainnya (1,60 persen).

Di sisi lain, tiga kelompok mengalami penurunan indeks harga, yaitu kelompok kesehatan yang turun 0,13 persen, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan (0,19 persen), serta kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya (0,59 persen).

Komoditas yang memberikan kontribusi terbesar terhadap inflasi antara lain ikan selar, ikan tude, ikan layang, ikan tuna, tomat, sawi hijau, ikan tongkol, ikan ambu-ambu, cabai rawit, kelapa, dan bawang merah. Sementara itu, beberapa komoditas yang justru memberikan andil deflasi antara lain biskuit, ketela pohon, bawang putih, daging ayam ras, daun singkong, pepaya, angkutan laut, kol putih, kubis, telepon seluler, daun sereh, dan besi beton.

Kelompok makanan dan minuman, terutama komoditas ikan dan sayuran, menjadi penyumbang utama inflasi.

“Kelompok pengeluaran yang menyumbang angka inflasi dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 3,54 persen,” ujar Kristanto.

Komoditas ikan selar dan ikan tude masing-masing menyumbang 0,45 persen, ikan layang dan ikan benggol (0,43 persen), beras (0,34 persen), ikan tuna (0,34 persen), tomat (0,30 persen), serta sawi hijau (0,27 persen).

Namun, ada beberapa komoditas yang berkontribusi terhadap deflasi, antara lain pisang, bawang putih, bayam, ketela pohon, ikan tembang, talasi, masker, jantung pisang, kunyit, daun singkong, dan bawang merah.

Secara keseluruhan, inflasi di Kabupaten Sikka pada Juli 2025 ini tercatat lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Namun, masih ada beberapa kelompok pengeluaran, seperti pakaian, alas kaki, dan kesehatan, yang tidak memberikan kontribusi signifikan terhadap inflasi.

Sebagai informasi tambahan, pada Juli 2025, IHK untuk kelompok pengeluaran makanan dan minuman tercatat mengalami kenaikan yang cukup tinggi sebesar 9,24 persen, sedangkan subkelompok minuman beralkohol hanya mengalami kenaikan 1,21 persen.

TERKINI
BACA JUGA
spot_img
spot_img