Produktivitas Mete di Flotim Anjlok Akibat Hama Kupu-kupu Putih, Petani Butuh Perhatian Pemerintah

Pihaknya mencatat sekitar 200 warga Desa Balukhering telah meninggalkan desanya. Dari data 200 warga tersebut, didominasi oleh kaum perempuan dan anak-anak.

Larantuka, Ekorantt.com – Produktivitas jambu mete di Desa Balukhering, Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur (Flotim), Provinsi Nusa Tenggara Timur menurun selama beberapa tahun terakhir lantaran diserang hama kupu-kupu putih.

Paulus Keremi Aran, petani mete di desa setempat mengatakan, sejak 2022 hasil panen biji mete hanya mencapai dua ton dari sebelumnya empat hingga lima ton per tahun.

“Kebun mete milik saya itu sekitar empat hektar. Kalau hasil mete sebelum terserang hama itu bisa capai empat ton hingga lima ton lebih. Sekarang karena adanya gangguan hama hasilnya hanya dua ton lebih saja,” kata Paulus saat reses anggota DPRD Flotim, Feris Uhe Koten, di Kantor Desa Balukhering, Rabu, 3 Desember 2025.

Menurut Paulus, menurunnya produktivitas mete berdampak pada pendapatan ekonomi keluarganya. Ia bersama keluarganya hanya meraup sekitar Rp40 juta dari Rp70 juta hingga Rp80 juta sekali panen.

Kondisi ini menyulitkan kehidupan ekonomi keluarganya, sebab mete merupakan komoditi yang menjadi sandaran hidup. Apalagi komoditi-komoditi yang lain seperti kakao juga hasilnya masih kurang.

“Lalu kelapa itu juga masih kurang. Yang kami harapkan itu hanya di jambu mete saja itu,” tutur Paulus.

Menurutnya, harapan hidup masyarakat di Desa Balukhering sangat bergantung pada produksi jambu mete. Anak Paulus, misalnya, menempuh pendidikan sekolah dan kuliah dengan biaya yang diperoleh dari hasil mete.

“Ada banyak warga Desa Balukhering yang memilih merantau karena mete tidak berhasil,” tambahnya.

Paulus berharap agar Pemerintah Kabupaten Flores Timur serius menanggulangi hama kupu-kupu putih yang menyerang varietas mete.

Ia khawatir bila dibiarkan terus maka mete yang sudah terkenal dengan kualitas terbaik ini dipindahkan ke daerah lain.

“Pemerintah harus berjuang betul-betul. Kalau hama terus ada maka produktivitasnya tetap akan turun,” tandas Paulus.

“Varietas nasional untuk mete Balukhering ini harus dirawat dan dijaga betul oleh pemerintah karena jangan sampai SK-nya itu dipindahkan karena kualitasnya tadi itu pak.”

Kepala Desa Balukhering, Fransiskus Ado Aran mengatakan, jumlah produksi mete di Desa Balukhering tiap tahun mencapai 700 hingga 1.000 ton lebih. Namun, sejak terserang hama kupu-kupu putih, produksi mete menurun drastis sekitar 60 persen atau hanya mencapai 200 hingga 400 ton lebih saja.

“Empat tahun terakhir ini sejak diserang hama kupu-kupu putih itu turun sangat jauh sekali,” kata Ado.

Berdasarkan perhitungannya pada dua kebun mete miliknya yang luasnya lebih dari tiga hektare, Ado menjelaskan, produksi yang biasanya mencapai dua ton per panen kini merosot drastis hingga hanya sekitar 100 kilogram akibat serangan hama.

Pemerintah desa setempat, kata dia, telah berupaya memberantas hama kupu-kupu putih. Tahun 2024, pemerintah desa mengalokasikan anggaran dana desa sebesar Rp70 juta untuk pengadaan sejumlah alat mesin semprot dan obat. 

“Tahun lalu, dikeluarkan anggaran bersumber dari dana desa untuk pengadaan mesin semprot dan 640 botol obat. Dibagikan kepada masyarakat itu gratis. Masyarakat akui bahwa hasil produksinya sempat naik. Kebun mete saya yang pada tahun sebelumnya hanya 100 kilogram naik jadi 700 kilogram,” ungkap dia.

Ado menuturkan, Dinas Perkebunan dan Peternakan Flotim juga sudah turun langsung dan memberikan pelatihan sekolah lapang untuk meracik obat semprot untuk mete, namun hasilnya hama kupu-kupu putih masih ada.

Ia mengatakan, hama kupu-kupu putih yang sulit dibasmi menimbulkan kejenuhan bagi masyarakat petani mete di Balukhering. Obat semprot pengadaan di tahun sebelumnya masih tersedia, namun masyarakat enggan melakukan penyemprotan.

“Masyarakat lelah karena ambil air dari rumah ke kebun dengan jarak yang jauh. Menyemprot mete dengan kebun yang sangat luas itu bukan pekerjaan yang mudah. Setelah semprot lalu hama ini hilang, tidak semprot datang lagi. Tahun ini kebun saya tidak disemprot, hasil mete 100 kilo juga tidak sampai,” ungkap Ado.

Ratusan Warga Merantau

Ado mengungkapkan menurunnya hasil produksi mete menyebabkan banyak warga Desa Balukhering memilih untuk merantau lantaran terbebani dengan keadaan ekonomi.

“Banyak sekali. Banyak sekali yang pergi merantau. Termasuk anak saya juga pergi merantau. Terlalu banyak orang-orang di sini pergi merantau. Ada yang ke Kalimantan dan ada yang ke Papua,” katanya.

Hasil pendataan yang dilakukan oleh Pemerintah Desa Balukhering ditemukan bahwa terjadi lonjakan angka warga yang merantau selama dua tahun terakhir.  

“Dua tahun terakhir ini banyak sekali yang pergi merantau. Penduduk di sini itu sekitar 1.900 lebih. Dua tahun terakhir ini tersisa 1.700-an saja. Ratusan orang memilih untuk pergi merantau,” tutur dia.

Pihaknya mencatat sekitar 200 warga Desa Balukhering telah meninggalkan desanya. Dari data 200 warga tersebut, didominasi oleh kaum perempuan dan anak-anak.

“Rata-rata yang pergi merantau itu ibu-ibu dan anak-anak muda. Mereka terpaksa harus pergi merantau karena mereka punya banyak tunggakan dan pinjaman-pinjaman di bank dan koperasi jadi mau tidak mau harus merantau karena hasil mete sebagai sumber pendapatan sudah tidak bisa diharapkan lagi,” tambah Ado.

Kesulitan Basmi Hama Kupu-kupu Putih

Anggota DPRD Dapil II, Fraksi NasDem, Feris Uhe Koten mengatakan, soal produktivitas mete di Flotim telah dilakukan rapat kerja antara DPRD dengan Dinas Perkebunan dan Pertanian.

Feris menjelaskan, pemerintah secara teknis kesulitan membasmi hama kupu-kupu putih karena karakteristiknya yang memiliki banyak inang dan mampu hidup di berbagai tempat, sementara anggaran juga terbatas.

Ia menambahkan, penyemprotan hanya mampu mengusir hama tersebut untuk sementara sebelum berpindah ke pohon lain.

“Setelah itu musim berikutnya dia datang lagi karena itu mereka kesulitan mengatasi hama yang satu ini,” kata Feris.

“Kalaupun anggaran ini misalnya 20 hektare, itu hanya bisa mengusir hama itu untuk pindah ke tempat lain dan musim berikut dia datang lagi. Dan kalau semprot pun hanya bisa mengusir dia saja, setelah itu datang lagi,” tambah Feris.

Namun, kata Feris, sebagai bagian dari aspirasi warga dia akan menyuarakan hal ini kepada instansi teknis agar dapat memberikan perhatian terhadap situasi ini sambil menggali potensi-potensi ekonomi lainnya untuk meningkatkan roda ekonomi masyarakat.

“Sebagai bagian dari aspirasi, saya akan suarakan agar dinas teknis dapat memberikan perhatian yang lebih. Agar dapat serius mengelola potensi yang ada dan menggali potensi-potensi lainnya untuk peningkatan ekonomi warga,” tutup Feris.

Sementara itu, pihak Dinas Perkebunan dan Pertanian Flotim belum memberikan keterangan setelah beberapa kali wartawan berupaya mengonfirmasi permasalahan tersebut.

TERKINI
BACA JUGA