Defisit Perdagangan NTT Capai Rp51 Triliun per Tahun

Di balik defisit perdagangan ini, menurut dia, perubahan mendasar harus dilakukan dengan menggeser struktur ekonomi dari konsumtif ke produktif berbasis potensi lokal.

Kupang, Ekorantt.com – Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena menyebut ketergantungan NTT terhadap barang dari luar daerah telah menyebabkan defisit perdagangan yang besar dan melemahkan daya tahan ekonomi masyarakat.

Berdasarkan data yang ia peroleh menunjukkan defisit perdagangan NTT mencapai sekitar Rp51 triliun per tahun.

“Angka yang tidak sehat bagi sebuah provinsi,” ujar Melki saat menghadiri kegiatan Retret Forum Komunikasi Alumni Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (Forkoma PMKRI) Regio Timur di Aula Biara Susteran SSPS Bello, Kupang, Sabtu, 13 Desember 2025.

Di balik defisit perdagangan ini, menurut dia, perubahan mendasar harus dilakukan dengan menggeser struktur ekonomi dari konsumtif ke produktif berbasis potensi lokal.

“Fokus kita adalah penguatan sektor pertanian, UMKM, industri kecil menengah, serta pengolahan hasil produksi lokal,” kata politisi Golkar itu.

Ia bilang, konsep One Community One Product dan One Village One Product menjadi strategi utama agar setiap desa dan kelurahan memiliki produk unggulan.

Pemerintah Provinsi NTT juga menyiapkan afirmasi pasar dengan memprioritaskan produk lokal dalam belanja pemerintah dan ASN, serta mendorong pemanfaatan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang disertai pendampingan UMKM secara serius.

Melki pun mengajak seluruh alumni PMKRI untuk terlibat aktif dan konkret dalam pembangunan ekonomi kerakyatan.

Alumni PMKRI tersebar di berbagai sektor dan wilayah adalah kekuatan besar.

“Mari kita mulai dari langkah kecil, tetapi nyata, demi NTT yang lebih mandiri dan berdaya saing,” imbuh Melki.

Sebagai alumni PMKRI, ia mengaku hadir bukan hanya dalam kapasitas sebagai Gubernur NTT, tetapi juga sebagai bagian dari keluarga besar organisasi kader Katolik yang menjunjung nilai Kristianitas, Intelektualitas, dan Fraternitas.

“Dalam suasana retret bertema “Mari Kita Mulai Lagi untuk Berbagi”, kami berdiskusi dan merefleksikan peran alumni dalam menjawab tantangan gereja, masyarakat, dan pembangunan daerah,” katanya.

TERKINI
BACA JUGA