Maumere, Ekorantt.com – Kepala Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Laurentius Say Maumere, Ryan Partigor Hutabarat mengimbau kepada pemilik kapal laut agar selalu mewaspadai cuaca ekstrem.
“Kami telah memberikan imbauan kepada seluruh kapal yang berada di Pelabuhan Laurentius Say Maumere agar selalu memperhatikan prakiraan cuaca dari BMKG,” kata Ryan di Maumere, Selasa, 30 Desember 2025.
BMKG sendiri telah mengeluarkan peringatan dini potensi gelombang tinggi 1,5 meter hingga 2,5 meter yang dapat menimbulkan dinamika pesisir di NTT berupa potensi banjir rob.
Potensi ini dipicu oleh pasang laut atau curah hujan tinggi yang menimbulkan naiknya permukaan air laut ke pesisir yang mengakibatkan genangan.
Ryan berharap pemilik kapal selalu waspada berdasarkan informasi perkiraan cuaca dari BMKG yang berlaku 31 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026.
Apabila kondisi cuaca membahayakan keselamatan pelayaran, maka pihaknya tidak menerbitkan surat izin berlayar.
“Jika terjadi gelombang tinggi atau curah hujan tinggi dan angin yang besar, maka kami tidak akan menerbitkan surat persetujuan untuk berlayar,” ujarnya.
Menurut Ryan, pelayaran rakyat masih bisa dilaksanakan untuk kondisi tinggi gelombang 0 hingga 1,25 meter. Namun, pihaknya mengimbau kepada kapten kapal jika terjadi gelombang tinggi harap segera kembali ke pelabuhan asal dan tidak meneruskan pelayaran.
Terkait kondisi cuaca pada arus mudik Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, lanjut dia, pihak KSOP telah bekerja sama dengan BMKG untuk memantau situasi secara cermat. KSOP memberikan informasi langsung terkait cuaca di Pelabuhan Laurentius Say Maumere, kata Ryan.
Untuk memantau pergerakan cuaca, KSOP juga mendapat informasi tentang cuaca langsung dari pusat. KSOP telah memiliki MCC (Maritime Center Control) yang berfungsi untuk mengawasi keamanan, keselamatan, dan lingkungan di wilayah perairan Kabupaten Sikka.
Untuk diketahui, BMKG telah mengeluarkan peringatan dini potensi gelombang tinggi dan banjir pesisir atau rob di sejumlah pesisir wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur selama peralihan tahun.
Menurut analisis Stasiun Meteorologi Maritim Tenau Kupang yang dirilis, Selasa, 30 Desember 2025, banjir rob terjadi disebabkan adanya fenomena Fase Perigee pada 2 Januari 2026 dan Bulan Baru pada 3 Januari 2026.
Fenomena itu menyebabkan meningkatnya ketinggian air laut maksimum. Tinggi gelombang 1,5 meter hingga 2,5 meter dapat menimbulkan dinamika pesisir di NTT berupa potensi banjir rob.
Wilayah terdampak dalam periode tersebut yakni pesisir Pulau Flores, Lembata hingga Alor di garis pantai utara dan selatan.
Kemudian banjir rob bakal terjadi di pesisir Pulau Sumba, pesisir Pulau Sabu-Raijua, dan pesisir Pulau Timor dan Rote.
Potensi banjir rob ini sangat berdampak pada aktivitas bongkar muat di pelabuhan, aktivitas tambak garam masyarakat, usaha perikanan darat, kegiatan para nelayan.
BMKG mengimbau masyarakat selalu waspada dan siaga untuk mengantisipasi pasang maksimum air laut serta diharapkan selalu memantau informasi cuaca maritim BMKG.











