Larantuka, Ekorantt.com – Kerusakan lokasi hunian sementara (Huntara) pengungsi erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki akibat diterjang cuaca ekstrem pada awal Desember 2025 belum diperbaiki Pemerintah Kabupaten Flores Timur (Flotim).
Akibatnya, sebagian besar warga Desa Nobo, Kecamatan Ilebura yang tinggal di lokasi Huntara IV memilih kembali tinggal di kampung persis di zona kawasan rawan bencana (KRB).
“Belum bisa tinggal karena belum diperbaiki. Tadi siang itu hujan lebat, air tetap masuk lagi ke kopel-kopel yang ditempati warga. Warga mau tinggal juga takut karena bangunan huntara terancam roboh karena longsor,” ungkap Sekretaris Desa Nobo, Antonius Minang Kewure di Larantuka, Selasa, 6 Januari 2026.
Menurutnya, lokasi huntara IV membutuhkan beberapa item perbaikan antara lain, pembangunan talud pada sisi utara, drainase, dan pembangunan turap atau dinding penahan tanah di delapam kopel yang terancam roboh.
Namun, ketidakpastian pemerintah memperbaiki huntara, Antonius menyebutkan, 65 persen dari 305 kepala keluarga pengungsi memilih kembali tinggal di Desa Nobo.
“Pilihan, satu-satunya kembali ke kampung karena tenda pengungsi sudah dikosongkan,” tutur Antonius.
Ia menerangkan, sebelumnya, warga sudah swadaya memperbaiki sejumlah kerusakan di masing-masing kopel. Namun, perbaikan terhadap talud, drainase, dan turap membutuhkan sentuhan dari pemerintah.
“Kami itu sudah dengan swadaya sendiri sudah muat pasir dan batu untuk perbaiki kerusakan. Bekas longsoran pada urugan tanah kita isi sendiri dengan batu dan pasir. Tapi pemerintah bilang jangan muat lagi. Nanti mereka yang muat, baru masyarakat yang kerja. Tadi, saya ke atas tapi mereka belum muat material,” ungkap Antonius dengan nada kecewa.
Selain kerusakan yang terjadi karena cuaca ekstrem, kendala lain yang menyebabkan ketidaknyamanan warga untuk tinggal di huntara yakni instalasi listrik yang masih bermasalah.
“Kamar di kopel-kopel di huntara itu rusak parah, air masuk, dan lumpur di dalamnya. Selain itu, instalasi listrik juga masih bermasalah. Sekitar 10 kopel itu lampu tidak nyala. Kabel sambungan menuju ke lampu ada konslet. Kita minta petugas PLN agar bisa lihat dulu. Takutnya, masyarakat sendiri yang bongkar pasang, ini lebih berbahaya lagi bagi warga,” ungkap Antonius.
Sementara itu, Gabriel Namang, Kepala Desa Hokeng Jaya mengungkapkan kondisi serupa yang dialami oleh pengungsi di Huntara III dan IV.
Gabriel mengatakan beberapa kopel di wilayah huntara III juga masih dimasuki air saat terjadinya hujan lebat.
“Sebenarnya, warga itu menyadari akan kondisi kedaruratan yang ada. Warga sudah swadaya memperbaiki apa yang bisa diperbaiki oleh mereka. Tapi, minimal perbaikan bisa secepatnya dapat dilakukan agar air dan lumpur tidak masuk ke dalam kopel,” tutur dia.
Pengungsi di huntara tersebut juga mengalami kesulitan air bersih. Demi memenuhi kebutuhan air bersih warga rela mengocek uang dari saku sendiri, kata Gabriel.
“Air sekarang kita sudah pakai beli. Tidak seperti dulu karena banyak NGO yang datang bantu kita. Sekarang, NGO sudah bantu tangani bencana di Sumatera. Jadi, tempat yang paling nyaman itu kembali ke kampung halaman,” ungkap dia.
Ia berharap pemerintah dapat bergerak lebih cepat untuk memperbaiki kerusakan yang ada agar masyarakat dapat lebih nyaman tinggal di huntara.
“Puncak musim penghujan itu pada bulan Februari dan Maret. Kita juga tidak tahu, kapan huntap akan dibangun. Masyarakat pasti akan memilih tinggal di tempat yang lebih nyaman jika kerusakan tak kunjung diperbaiki,” tandasnya.
Sebelumnya, Bupati Flores Timur, Antonius Doni Dihen mengatakan, pemerintah daerah telah turun melakukan pengecekkan kondisi huntara dan menginstruksikan kepada OPD teknis untuk melakukan penanganan bencana di lokasi tersebut.
Namun demikian, Antonius menuturkan percepatan penanganan dan perbaikan lokasi huntara terkendala dengan proses penganggaran.
“Memang penanganan untuk cuaca ekstrem itu kita berusaha untuk cepat-cepat. Namun kita mesti melewati proses panjang dari sisi penganggaran yang aman. Setelah review dari Inspektorat baru kita turun pengadaan bambu, jadi apa boleh buat,” jelas Anton dalam jumpa pers di ruang kerjanya pada Selasa, 30 Desember 2025 lalu.











