Labuan Bajo, Ekorantt.com – Tima SAR Gabungan resmi memperpanjang pencarian satu warga negara asing (WNA) asal Spanyol yang masih belum ditemukan hingga saat ini.
Satu WNA itu merupakan salah satu dari empat korban yang tewas pada tragedi tenggelamnya KM Putri Sakinah di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur pada 26 Desember 2025 lalu.
Kepala Kantor SAR Maumere, Fathur Rahman berkata, perpanjangan pencarian ini diputuskan karena adanya penemuan korban ke-3 pada 6 Januari 2026.
Selain itu, kata dia, putusan ini juga adanya surat permintaan perpanjangan operasi SAR dari Kedutaan Besar (Kedubes) Spanyol.
“Perpanjangan operasi SAR hingga 2 hari mulai 8-9 Januari 2026,” ungkapnya pada Rabu malam.
Pencarian hari ini, kata Fathur, berfokus di sekitar lokasi penemuan bangkai KM Putri Sakinah dengen pengerahan 168 personel unsur gabungan dari Basarnas, TNI-Polri, KSOP Labuan Bajo, Balai TNK Komodo, Perkumpulan Penyelam Profesional Komodo (P3KOM), Grahawisri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Manggarai Barat hingga Komunitas Dive Labuan Bajo dan unsur gabungan lainnya.
“Selain itu juga mengerahkan 18 alat utama untuk menyisir pulau-pulau di Labuan Bajo,” jelasnya.
Ia menyebut Tim SAR Gabungan dari Dipolair Polda NTT juga menurunkan ROV dan Sonar, pengerahan Multibeam Sonat dari Institut Teknologi Bandung dan Multibeam Sonar dari Distrik Navigasi Kupang untuk mendeteksi keberadaan korban di perairan dekat Pulau Padar.
Sayangnya, hasil operasi SAR “masih nihil.”
Tragedi tenggelamnya kapal wisata berkapasitas 27 gros ton ini menewaskan pelatih Valencia B Putri, Fernando Martin, bersama tiga anaknya.
Kapal tersebut membawa 11 orang, enam penumpang dan lima kru, termasuk kapten kapal.
Setelah meninggalkan Pelabuhan Labuan Bajo, KM Putri Sakinah berlayar dan singgah di Pulau Kalong.
Sekitar pukul 20.30 Wita, kapal itu meninggalkan Pulau Kalong menuju Pulau Padar di kawasan Taman Nasional Komodo.
Perjalanan itu berubah drastis ketika kapal mengalami mati mesin di tengah laut sekitar 30 menit setelah berlayar.
Tanpa mesin yang berfungsi, kapal tidak bisa bermanuver saat gelombang laut tiba-tiba meninggi dan menghantam kapal dua kali.











