Gereja Sinodal dan Solid Bersama Kaum Awam Muda

Kita tidak dapat memungkiri bahwa peran awam sangat penting dalam pertumbuhan iman dan perkembangan Gereja.

Oleh: Bernardus Tube Beding


“Tahun Persekutuan Sinergis: Membangun Gereja yang Sinodal dan Solid dalam Pelayanan” merupakan tema Sidang Pastoral Post-Natal 2026 Keuskupan Labuan Bajo. Tema ini dalam arahan pembukaan siding, Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus mengungkapkan, bukan hanya sebuah keputusan administratif pastoral.

Tema ini lahir dari keyakinan iman bahwa Gereja dipanggil untuk menjadi tubuh yang hidup, yang dinamis, yang bergerak dalam Roh, tetapi juga saling terhubung satu sama lain. Terhubung menandakan sinergitas dan persekutuan. Semua komponen Gereja terhubung satu sama lain dan bergerak bersama dalam Roh, termasuk kaum awam.

Mengenal Kaum Awam

Tentang awam, secara etimologis berasal dari kata Yunani laikos. Kata dasarnya laos (=rakyat) yang menunjuk pada seluruh anggota Gereja, Umat Allah (Laos Theou) yang baru (bdk. LG 9). Kata laikos pertama kali ditemukan dalam surat yang ditulis oleh Clemens dari Roma kepada Jemaat Korintus (40:6). Kata itu dipakai untuk menunjuk pada sekelompok besar orang Kristen yang dibedakan dari sekelompok kecil yang diangkat dan memiliki tugas khusus eklesial.

Secara historis Gereja, kata laikos berkonotasi perendahan dan ketidaksetaraan. Bahkan, jejaknya masih dapat ditelusuri sampai Konsili Vatikan I (1870). Konsili Vatikan I dengan eklesiologi yang hirarkis-piramidal, melihat “awam” sebagai “penerima pasif dan rendah akan hal-hal yang perlu bagi keselamatan yang dapat diperoleh hanya melalui pelayanan klerus”.

Namun, Konsili Vatikan II mengubah cara pandang Gereja tentang awam. Konsili Vatikan II merumuskan awam merupakan persekutuan semua orang beriman Kristiani, kecuali mereka yang termasuk golongan iman atau status religius yang diakui dalam Gereja. Jadi, kaum beriman Kristiani, yang berkat baptis telah menjadi anggota tubuh Kristus, terhimpun menjadi Umat Allah, dengan cara mereka sendiri ikut mengemban tugas imamat, kenabian, dan rajawi Kristus. Dengan demikian sesuai kemampuan mereka melaksanakan perutusan segenap umat Kristiani dalam Gereja dan di dunia. Ciri khas dan istimewa kaum awam, yakni sifat keduniawiannya (LG 31).

Konsepsi “awam” itu menunjukkan tidak ada konotasi perendahan atau ketidaksetaraan. Sikap eklesiologi yang tidak berpola hirarkis-piramidal merupakan karakter “zaman dulu”. Zaman Sekarang Gereja adalah Umat Allah yang berziarah sinodal dan solid.

“… Gereja yang Sinodal dan Solid dalam Pelayanan” oleh Keuskupan Labuan Bajo bisa dibilang sejalan dengan gambaran Gereja oleh Lumen Gentium sebagai Gereja “mengumat” dan gambaran Gereja oleh Gaudium et Spes sebagai Gereja “memasyarakat”. Gereja mengumat menekankan communion, Gereja ingin mewujudkan persekutuan dan partisipasi hidup orang beriman dengan saling menyokong, menerima, dan membagi dalam suasana persaudaraan.

Sementara Gereja memasyarakat menekankan Gereja secara terus terang melihat dirinya dalam hubungan dengan dunia. Gereja tidak hanya bertanggung jawab pada dirinya sendiri, membangun umat sebagai bagian dari masyarakat, tetapi juga membangun seluruh kehidupan umat manusia seturut perkembangan dan tanda-tanda zaman.

Peran Awam Muda

Kita tidak dapat memungkiri bahwa peran awam sangat penting dalam pertumbuhan iman dan perkembangan Gereja. Peran awam mendapat perhatian nyata dalam konteks pembaruan Gereja. Di tengah aneka profesi dan jabatan, awam dipanggil dan diutus untuk mencari Kerajaan Allah di dunia ini. Tugas itu pada intinya adalah mengarahkan kembali seluruh umat manusia dan tata dunia kepada Allah, mulai dari lingkup kerja dan ruang hidup masing-masing. Perubahan “dari dalam” diri Gereja sesungguhnya menampakkan dan mewujudkan keselamatan bagi manusia sesuai kehendak Allah demi kemuliaan pencipta dan penyelamat (LG 31).

Sesungguhnya, peran kaum awam dalam Gereja sudah mulai tampak pada awal perkembangan karya misi. Dalam buku Sejarah Katolik Indonesia tertulis sebuah fakta, “Misionaris pertama yang terkenal adalah seorang awam, seorang saudagar Portugis yang bernama Gonsalo Veloso”.

Tidak dapat dimungkiri pula bahwa iman umat di kawasan Flores dihidupi dan dipertahankan oleh serikat-serikat awam. Di berbagai wilayah Indonesia, khususnya di Flores, awam menjadi rekan hierarki dalam menaburkan dan memelihara benih iman. Guru-guru sekolah, katekis, kelompok bapa-ibu, dan muda-mudi rela menyingsingkan lengan baju demi kepentingan umat.

Tanpa mengurangi rasa apresiasi dan hormat setingginya terhadap berbagai pembahasan, diskusi, dan keputusan Sidang Pastoral Post-Natal 2026 Keuskupan Labuan Bajo, saya sekadar menyelipkan semangat “Gereja Awam Muda” sebagai satu komponen dalam membangun Gereja Lokal Keuskupan Labuan Bajo yang sinodal dan solid dalam pelayanan pastoral.

Awam muda Katolik memiliki tanggung jawab menghadirkan Gereja dan mengakarkannya di bumi Manggarai, khususnya di wilayah Keuskupan Labuan Bajo. Tentu, membangun semangat “Gereja Awam Muda” memungkinkan mereka memiliki pribadi yang integral, beriman mendalam, berwatak pionir, dan ulet dalam berjuang dan mengabdi. Karena itu “Mendidik dan membentuk kaum muda, anak-anak, dan remaja Katolik” perlu dipandang dan dimaknai dalam satu tahun pastoral.

Kaum awam muda merupakan subjek dalam gereja lokal. Mereka hidup di tengah masyarakat harus mencerminkan Gereja yang hadir, menjadi barisan terdepan Gereja. Gereja lokal Keuskupan Labuan Bajo yang baru berusia satu tahun lebih ini bagus juga kalau membangun pastoral berporos pada kaum muda Katolik. Mereka menjadi penyemai dan pembangun communion iman umat untuk masa depan Gereja. Para klerus, imam, biarawan, biarawati Keuskupan Labuan Bajo yang berkarya melayani umat di tingkat paroki, lembaga-lembaga pendidikan, dan unit-unit pastoral lainnya harus menjadi “penggerak aktif” agar kaum awam muda sungguh tumbuh dalam iman dan semangat Yesus sendiri sebagai teladan. Yesus sendiri duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan para murid-Nya. Meskipun demikian, ada saatnya pula, Yesus mengajak murid-Nya untuk berusaha mencari Kerajaan Allah dengan sungguh-sungguh. Di sini tampak bahwa Yesus menjadi penggerak para murid untuk selalu mencari Kerajaan Allah. Dalam diri Yesus tidak ada sentralisasi kekuasaan. Yesus tidak pernah bermaksud menginstitusionalisasikan kekuasaan-Nya.

“Gereja Awam Muda” memberi peluang dan kesempatan kepada orang-orang muda Katolik untuk berekspresi, berkreativitas, berfungsi, dan berperan secara leluasa dalam menghayati imannya. Kaum muda Katolik memiliki tanggung jawab membangun Gereja, karena mereka yang “lebih aktif” meresapi kehidupan politik, sosial, ekonomi, kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan Teknik dengan semangat yang dimiliki Yesus Kristus.

Pilihan Proses

Pengalaman hidup, termasuk pengalaman iman kita, sebuah keniscayaan bahwa “proses (untuk mencapai suatu hasil) lebih berharga daripada hasil itu sendiri.” Dalam proses, segi kemanusiaan lebih tampak dan terasa. Dalam proses tersebut, kenyataan real dan objektif lebih mudah ditemukan. Pendasaran masa depan pun tidak boleh menitikberatkan pada hasil dan melupakan prosesnya.

Tidak salah juga kalau Gereja lokal Keuskupan Labuan Bajo menggali nilai-nilai “proses beriman” kaum awam muda Katolik guna perkembangan Gereja yang bergenerasi dan memiliki masa depan.

Membangun Gereja yang hidup bukanlah semata-mata menjadi tugas para religius, rohaniwan, biarawan, biarawati, dan klerus. Membangun Gereja yang hidup adalah tugas kita semua umat beriman, padahal mayoritas umat  Allah adalah kaum awam. Di antara kaum awam, orang-orang muda yang mendominasi kuantitas. Mereka pantas mendapat tempat perhatian dalam karya-karya pastoral.

*Penulis adalah umat Paroki Kristus Raja Mbaumuku, Keuskupan Ruteng

TERKINI
BACA JUGA