Dari Arisan Rp7 Juta ke Jaringan Toko di Flores: Kisah Sukses Prisilia Shop

Perjalan bisnisnya memang tidaklah gampang. Sebelum memilik tempat jualan, Nartiana harus berjalan kaki menjajaki barangny

Ruteng, Ekorantt.com – Sore itu, sepasang suami-istri tengah serius merapikan barang jualan mereka di toko mereka. Keduanya ingin memastikan barang-barangnya tertata rapi.

Sesekali mereka melayani pelanggan yang datang. Penuh wajah ceriah, keduanya sungguh menikmati pekerjaannya.

“Prisilia Shop”, demikian tulisan yang terpampang di depan gudang jualan, yang terletak di persis pinggir jalan Trans-Flores, beralamat di Langkas, Desa Pong Murung, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai. Nama yang merujuk pada nama dari buah hati mereka.

Pasangan suami istri itu ialah Libertus Tratama Aprianto (38) dan Nartiana Namut (33). Mereka terbilang sukses dalam mengembangkan usaha jualan perabotan rumah tangga.

“Awalnya hanya bisnis kecil-kecilan,” kata Nartiana ketika berbicara dengan Ekora NTT pada Sabtu, 17 Januari 2026 sore.

Mulanya, ia merintis usaha sejak 2012 dengan menjual barang rombengan. Seiring berjalannya waktu, usahanya perlahan mulai berkembang dengan penambahan jenis barang.

Perjalan bisnisnya memang tidaklah gampang. Sebelum memilik tempat jualan, Nartiana harus berjalan kaki menjajaki barangnya. Ia bahkan menawarkan jualannya dari rumah ke rumah. Nartiana sungguh tegar.

Melihat istrinya berjualan keliling, Aprianto pun ikut membantu. Mereka mulai menyewa kendaraan pikap milik orang untuk mengantar barang jualan.

“Kami mulai tampung uang, kemudian kredit mobil pikap mau antar barang-barang ini,” kata ibu dari dua anak itu.

Melihat barang jualan cukup banyak, mereka memutuskan untuk membuka sebuah gudang kecil berukuran 30 meter persegi.

Karena keuletan, usaha mereka terus berkembang. Pada 2020, mereka berdua membuka toko resmi hingga di beberapa wilayah; Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai, Borong ibu kota Kabupaten Manggarai Timur, dan Labuan Bajo ibu kota Kabupaten Manggarai Barat.

“Kami merasa bersyukur, kendaraan ekspedisi untuk distribusi barang juga sudah kami beli sendiri.”

Pasangan suami-istri Libertus Tratama Apriatno (38) dsn Nartiana Namut (33) tengah merapikan barang-barang mereka di toko jualan beralamat di Langkas, Desa Pong Murung, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur pada Sabtu, 17 Januari 2026 (Foto: Adeputra Moses/Ekora NTT)

Berkah Arisan

Berbisinis memang tidak dalam bayangan mereka sebelumnya. Tanpa rencana apapun. Tapi, sang istri diam-diam membuka bisnis kecil.

Ia berpikir bahwa usahanya itu harus berkembang. Namun apa daya, kurangnya modal membuat bisnisnya hampir berjalan di tempat.

“Akhirnya kami coba pinjam uang di orang untuk kembangkan bisnis,” ungkap Nartiana.

Keduanya pun memutuskan untuk meminjam uang ke orang lain. Tetapi, kehidupan Aprianto yang awal-awalnya berluntang-lantung membuat orang tidak yakin dengannya bila meminjam uang. Sebab ia hanya seorang sopir dan bermodal pengalaman jadi buruh kasar selama setahun di Labuan Bajo.

Aprianto tidak menyerah. Dengan istrinya, bersepakat mengikuti arisan keluarga. Arisan itu menjadi berkah bagi Aprianto dan istrinya. Dengan modal uang Rp7 juta, mereka membangun usaha tersebut.

“Itu awalnya kami dulu tahun 2012 buka usaha,” sambung Apri, sapaan akrabnya.

“Karena yang orang tahu saya peminum. Pokoknya penjahatlah,” sambungnya dengan sedikit guyon.

Ia tidak menyangka usahanya sukses seperti sekarang. Sangat di luar dugaannya. Apri yang dicap sebagai ‘penjahat dan peminum’ mampu mengikis stigma itu.

“Untungnya ada arisan keluarga yang terkumpul Rp7 juta yang mengantar kami seperti sekarang,” ungkapnya.

Menurutunya, alasan memilih bisnis ini karena barangnya tidak daluwarsa. “Menurut saya ini paling bagus. Meski simpan lama ia tidak busuk dan tahan lama,” ungkapnya.

Ia bersyukur berkat usahanya bisa menghidupi keluarga maupun pendidikan anak yang masih berada di bangku SMP.

Promosi Media Sosial

Promosi barang-barang lebih banyaknya lewat media sosial Facebook. Bagi mereka, kehidupan sekarang yang serba digital menuntut orang harus memiliki Smartphone.

“Awlanya kami posting jualan kami di Facebook,” kata sang istri lagi.

Mulanya kurang banyak yang menjangkau. Namun upaya terus dilakukan dengan meminta pertemanan sebanyak-banyaknya.

Alhasil, semakin banyak yang berminat dan mengunjungi Prisilia Shop untuk berbelanja.

Atik, sapaan akrabnya, berkata rata-rata pelanggannya adalah ibu-ibu rumah tangga. Dengan menjual parabotan rumah, ibu-ibu banyak yang tertarik.

“Jadi barang baru kami terus promo lewat Facebook, sebagai ruang informasi kepada pelanggan.”

Kendati benyak pelanggan, katanya, kualitas barang dan ramah dalam pelayanan juga paling penting. Prinsip itu juga dia bagikan kepada puluhan karyawannya.

Tahun depan, ia dan suaminya berencana melebarkan sayap bisnisnya dengan membuka di kota Bajawa, ibu kota Kabupaten Ngada bahkan menjangkau seluruh Flores.

“Semuanya kami coba. Dan, kami yakin pasti bisa,” ujar penuh yakin.

TERKINI
BACA JUGA