Ende, Ekorantt.com – Angin kencang meluluhlantakkan rumah warga di Desa Tendarea, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur pada Kamis, 22 Januari 2026.
Kepala Desa Tendarea, Ambrosius Jago mengungkapkan, sekitar lima rumah yang rusak diterjang angin kencang. Mayoritas kerusakan menyasar pada atap dapur rumah.
Ia berkata, rumah Pastoral Kuasi Paroki St. Karolus Agung Orakeri juga menjadi sasaran amukan angin. Seng-seng atap pada dapur terangkat.
“Sampai sekarang ini masih hujan dan juga angin, jadi tidak bisa ke mana-mana,” tutur Ambros.
Bencana serupa juga terjadi di Desa Tiwerea. Kepala desa setempat, Vinsen Sambi berkata, ada dua rumah warga yang rusak diterjang angin kencang.
Selain rumah, kata dia, tanaman komoditi warga seperti kemiri, kelapa, dan cengkih juga tumbang diterjang angin kencang.
Vinsen berjanji akan berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ende terkait bencana ini.
Penelusuran Ekora NTT, peristiwa serupa juga terjadi di Desa Watumite dan Desa Romarea, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende. Mayoritas atap rumah warga yang terkena dampak bencana angin kencang.
“Kalau di Desa Romarea ada dua rumah yang terdampak, saya punya rumah dengan Fransiskus Minata Jawa,” ungkap Elias Pani Mani, warga Desa Romarea.
Anggota DPRD Ende, Anselmus Kaise meminta Pemerintah Kabupaten Ende melalui BPBD agar terus berkoordinasi dengan pihak kecamatan dan desa terkait data bencana sehingga bisa terintegrasi.
Menurut politisi PSI itu, hal ini perlu dilakukan agar proses penanganan tidak ada yang terlewatkan.
“Sehingga ketika proses pelaksanaan penanganannya itu tidak terfokus pada satu dua wilayah saja, tapi seluruh wilayah terdampak harus dilakukan intervensi penanganan, baik yang ringan maupun yang berat,” tuturnya.
Menurut Ansel, fenomena alam ini terjadi hampir di semua kecamatan yang ada di Kabupaten Ende dengan jenis bencana yang bervariasi.
“Ada bencana akibat dari angin kencang dan hujan yang melanda kabupaten ini terutama rumah penduduk, sekolah, bangunan keagamaan dan jalan,” kata Ansel.
Ia juga meminta pemerintah agar bisa melakukan penanganan jangka pendek berupa bantuan pangan, khususnya untuk para petani dan nelayan. Sebab saat ini masyarakat tidak bisa beraktivitas akibat cuaca ekstrem.
“Yang dibutuhkan secepatnya hari ini adalah pangan, kebutuhan pangan. Selain penanganan-penanganan, misalnya evakuasi terhadap bangunan-bangunan yang roboh misalnya, tapi kebutuhan pangan itu yang utama karena masyarakat tidak beraktivitas,” ungkapnya.
Terpisah, Kepala BPBD Ende, Marselus Ekleanus Meta meminta pemerintah desa agar membuat laporan resmi kepada Pemerintah Kabupaten Ende.
Laporan ini penting agar seluruh data dapat terinput dalam sistem BPBD, sehingga pihak terkait dapat melakukan intervensi bantuan secara tepat.
Marselus mengungkapkan, hingga saat ini sudah ada 11 kejadian yang dilaporkan ke BPBD Ende, dengan rincian bencana pohon tumbang, tanah longsor dan bencana abrasi, serta kerusakan rumah penduduk.
BPBD, kata dia, terus mengimbau kepada masyarakat agar selalu menghindari tempat yang berpotensi terjadi bencana.
“Kami sudah sebarkan, baik SK Siaga Darurat maupun imbauan peringatan dini terhadap cuaca, harapannya masyarakat dapat mengikuti imbauan,” ucap Marselus.











