Borong, Ekorantt.com – Suara gemuruh memecah keheningan Pau, sebuah kampung di Desa Goreng Meni, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur pada Kamis sore, 22 Januari 2026.
Stefanus Osman yang tengah bersantai bersama keluarganya semula tak memedulikan sama sekali suara itu.
“Kami mulai panik ketika melihat sudah banyak material longsor mengalir dari arah bukit,” ceritanya kepada Ekora NTT pada Senin, 26 Januari 2026.
Bukit tersebut berada di bagian selatan kampung. Longsor tampak mulai mengikis lereng bukit dan materialnya menutupi sawah, perkebunan hingga rumah.
Ia dan keluarganya kemudian keluar dari rumah dan hendak berlari ke sebuah Kapela yang lokasinya di bagian timur rumah Stefanus. Jaraknya lebih dari 100 meter.
Namun, mereka tidak berani melintas karena material longsor sudah menimbun jalan menuju ke sana.
Stefanus terpaksa lari ke arah barat. Sayangnya, jalan ke arah barat juga tertimbun longsor. Mereka terjebak di tengah material longsor.
“Pas kami sedang cari cara untuk lari, tiba-tiba kami dengar suara orang minta tolong dan menangis.”
“Tolong, tolong,” kata Stefanus meniru suara seorang ibu sedang minta tolong.
Pria berusia 39 tahun itu bersama sang kakaknya langsung berlari lagi, berupaya mencari sumber suara tersebut.
Mereka kaget melihat Albina Ria, 47 tahun, tengah menggendong anaknya Nikolaus Acan yang masih balita di tengah material longsor. Keduanya tak berdaya. Mereka berlumuran lumpur.
Ia bilang sang ibu mengangkat tangannya, memberikan sinyal kepada mereka untuk segera ditolong.
“Jaraknya sekitar 15 meter dari kami berdiri. Kami langsung pergi membantu mereka. Lumpur sudah sampai di setengah badannya,” kisah Stefanus.
Stefanus dan kakaknya kemudian menolong mereka dengan mengeruk tanah menggunakan tangan mungil. Batu di belakang punggung Albina mereka segera angkat, lalu menggendong keduanya dibawa ke rumah Stefanus.
Karena tubuh Albina dan anaknya dipenuhi lumpur, anak Stefanus kemudian membersihkan mereka lalu mengevakuasi ke rumah warga lain di Kampung Pau.
“Untuk sampai ke sana, kami hanya bisa lewat di bawah titik akhir material longsor,” ucapnya.
Di tengah perjalanan, Albina terus menanyakan buah hatinya Yustina Mira, 18 tahun, yang sudah tertimbun longsor.
Yustina terjebak dalam material longsor dengan Lusia Resem, warga asal Kampung Munta, Desa Compang Weluk, Kecamatan Lamba Leda Selatan, yang saat kejadian berada di Desa Goreng Meni.
Namun Stefanus berusaha menyembunyikannya. Ia tidak memberitahu perihal keberadaan Yustina.
Albina kemudian dilarikan ke Puskesmas Benteng Jawa untuk menjalankan perawatan medis. Nahasnya, nyawanya tak tertolong.
Ia menghembuskan napas terakhir sehari setelah kejadian, Jumat, 23 Januari sekitar pukul 01.00 Wita
“Tuhan kami kecewa, kami sudah membantunya tapi ternyata setelah itu dia langsung meninggal,” tuturnya.
Setelah beberapa hari pencarian, Tim SAR Gabungan menemukan satu jasad korban bernama Lusia Resem, 55 tahun. Ia ditemukan sekitar pukul 10.00 Wita pada pencarian hari keempat, Senin, 26 Januari 2026.
Kemudian, pada Selasa, 27 Januari 2026, korban bernama Yustina Mira, ditemukan Tim SAR Gabungan.
Peristiwa tersebut setidaknya menelan tiga korban jiwa dan satu yang mengalami luka-luka. Sebanyak 827 jiwa dari 227 kepala keluarga mengung ke Kampung Rentung yang tidak jauh dari lokasi kejadian.
Tumpukan material longsor tampak tebal dan memanjang sekitar lebih dari 200 meter. Batu, tanah, dan kayu tampak berpadatan.
Akibatnya, selain satu rumah yang tertimbun longsor, tiga rumah lainnya dilaporkan mengalami kerusakan.
Selain itu, area persawahan, kebun warga, tambak ikan, serta halaman depan Sekolah Dasar Katolik (SDK) Meni.











