Wali Kota Kupang Pangkas Anggaran Dinas untuk Rumah Layak Huni dan Kesehatan

Christian merelakan anggaran perjalanan dinas dan mobil jabatan hanya untuk memastikan program bedah rumah layak huni bagi warga miskin terus dilakukan.

Kupang, Ekorantt.com – Wali Kota Kupang, Christian Widodo memangkas anggaran dinas untuk pembangunan rumah layak huni dan biaya kesehatan masyarakat kurang mampu.

Christian merelakan anggaran perjalanan dinas dan mobil jabatan hanya untuk memastikan program bedah rumah layak huni bagi warga miskin terus dilakukan.

“Baginya, kenyamanan tidur seorang Wali Kota tidak ada harganya jika dibandingkan dengan ketenangan seorang ibu yang tak lagi perlu menatap langit saat hujan turun karena atap rumahnya yang bocor,” ujar Pendiri Yayasan Bina Generasi Papua, Karmin Lasuliha dalam keterangan yang diterima Ekora NTT pada Jumat, 30 Januari 2026.

Menurut Karmin, ini bukan sekadar kebijakan administratif, namun pertaruhan nurani seorang pemimpin yang tahu betul bahwa rumah adalah benteng pertama pertahanan martabat manusia.

​Di sektor kesehatan, Christian melahirkan kebijakan “Pengaman Keselamatan Rakyat” dengan dana darurat miliaran rupiah di RSUD SK Lerik.

Karmin menegaskan, ini adalah sebuah oase bagi mereka yang terhimpit ketiadaan administrasi.

Di Kota Kupang di bawah kepemimpinan Christian, kata dia, sakit tak lagi berarti kiamat kecil bagi rakyat miskin. Sebab ada jaminan bahwa nyawa harus diselamatkan terlebih dahulu sebelum bicara soal kartu identitas.

Pada dunia pendidikan juga demikian. Karmin menyebut, Christian bergerak melampaui kata-kata dengan menyediakan seragam dan beasiswa bagi anak-anak Kupang agar mata rantai kemiskinan bisa diputus oleh pena dan buku, bukan oleh keputusasaan yang diwariskan.

“​Pada akhirnya, Christian Widodo adalah narasi tentang bagaimana kekuasaan seharusnya bekerja: lincah dalam bertindak, tajam dalam berpikir, namun tetap lembut dalam merangkul,” ujar Karmin.

Ia menegaskan, Christian telah mengubah wajah Kupang menjadi kota yang lebih hangat, di mana pemerintahannya tidak lagi terasa seperti menara gading yang dingin, melainkan seperti rumah besar yang pintunya selalu terbuka.

Melalui kebijakan-kebijakan pro-rakyat, Christian sedang membangun sebuah monumen yang tidak terbuat dari beton atau marmer, melainkan dari rasa syukur dan harapan yang mekar di hati rakyatnya sebuah warisan kepemimpinan yang akan dikenang jauh melampaui waktu jabatannya.

“Christian adalah personifikasi dari napas pantang menyerah, sebuah mesin penggerak yang energinya seolah dipompa dari ketulusan untuk melihat Kupang bermartabat,” jelas Karmin.

Ia menilai, hubungannya dengan masyarakat adalah sebuah ruang tanpa sekat. Christian bisa berada di gang-gang sempit, duduk bersila di dapur warga tanpa rasa canggung, meruntuhkan tembok-tembok feodalisme yang biasanya memisahkan pemimpin dan rakyatnya.

Kehadiran Christian yang bersahaja dinilai Karmin sebagai antitesis dari kemewahan pejabat. Ini merupakan bukti bahwa kepemimpinan yang paling otentik tidak ditemukan di balik meja kayu jati yang mengkilap, melainkan di tengah peluh warga yang mendambakan keadilan.

“​Kebijakan-kebijakannya adalah manifesto kemanusiaan yang konkret, di mana ia dengan berani memangkas kemewahan diri demi harkat hidup orang banyak,” jelas Karmin.

TERKINI
BACA JUGA