Larantuka, Ekorantt.com – Banjir lahar Gunung Lewotobi masih terus mengancam Jalan Trans Flores Larantuka-Maumere, Provinsi NTT. Ada tiga titik paling rawan banjir bila terjadi hujan lebat, seperti yang terjadi pada Sabtu, 31 Januari 2026 sore.
Tiga titik banjir berada di perkebunan PT Rerolara, Desa Hokeng Jaya, Kecamatan Wulanggitang, serta dua titik di Desa Dulipali, Kecamatan Ile Bura, Kabupaten Flores Timur.
Sejumlah kendaraan baik roda dua maupun roda empat terjebak saat nekat melintasi jalur banjir. Dua sepeda motor di antaranya bahkan macet akibat mesin kendaraannya terendam lumpur.
Kemacetan cukup panjang berlangsung sekira 15 menit. Tak ada petugas yang datang untuk melakukan pengawasan. Warga membantu mendorong sepeda motor yang terjebak. Banjir setinggi lutut orang dewasa itu juga menyeret bebatuan besar ke badan jalan.
Pos Pengamatan (Posmat) Gunung Api Lewotobi Laki-laki yang berkantor di Desa Pululera, mengirim laporan getaran banjir pada pukul 16.41 Wita. Setiap kali hujan deras, alat pemantau gunung kerap merekam getaran dari gunung api setinggi 1.584 meter itu.
Material banjir yang menumpuk di badan jalan mengancam keselamatan pengendara. Hingga kini tercatat dua warga mengalami kecelakaan dengan kondisi luka parah, seperti yang dialami Maksim Shmelev, 27 tahun, warga Rusia. Ia dirujuk ke RSUD TC Hilers Maumere, Kabupaten Sikka, usai menabrak pohon mahoni.
Selain kecelakaan, ancaman erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki juga tak kalah bahaya. Jalan Trans dari Desa Dulipali-Nobo terpaut jarak kurang dari 4 kilometer dari pusat gunung.
Luncuran awan panas pada peristiwa letusan November 2024 bahkan mendekati jalan. Erupsi susulan Lewotobi Laki-laki dengan status Level III (Siaga) masih bisa terjadi. Aktivitas kegempaannya cenderung fluktuatif.
Warga meminta pemerintah mengubah jalur Jalan Trans Flores, khususnya di Desa Hokeng Jaya dan Dulipali. Jalur dengan perkiraan jarak sekira 4 kilometer itu demi menghindari banjir lahar dengan segala risiko-risiko besarnya.
“Sebaiknya ubah saja, lebih khususnya pada jalan-jalan yang paling rawan banjir. Soalnya di Dulipali dan Pertigaan Rumau Kalwat (depan PT Rerolara) itu paling berisiko,” ujar Kresen Ladjar, 35 tahun, warga Dusun Padang Pasir, Desa Hokeng Jaya.
Krensen mengaku pernah mendengar kabar bahwa ada wacana pemindahan jalur Trans Flores. Informasi yang Krensen terima benar adanya. Wakil Bupati Flores Timur, Ignas Boli Uran, pernah menyampaikan informasi pemindahan jalur yang rutenya menuju calon lokasi Hunian Tetap (Huntap).
Hal ini semakin menguat saat Pemkab Flores Timur mengerahkan sejumlah alat berat untuk membuka jalan dari titik nol di Desa Pululera ke Noboleto. Pengerjaan pada Juni 2025 itu berujung masalah lantaran lahan Noboleto untuk proyek relokasi penyintas Lewotobi dibatalkan pemerintah pusat.
Ancaman banjir susulan sangat berpotensi menyusul intensitas hujan deras yang masih terjadi hingga Minggu, 1 Februari 2026 pagi. Di tiga jalur itu akan datang banjir jika hujan turun tanpa jeda selama lebih dari 2 jam.
Penulis: Paul Kabelen











