Ia Pergi Berkelana, tapi Tak Pernah Pergi dari Flores

Pagi ini, kabar itu datang dari jarak jauh. Di bawah langit Melbourne, kabar itu terasa ganjil, dan sumbang sekali, seperti suara burung gagak di siang hari yang terdengar sangat asing di telinga ketika pertama kali kami menjejakkan kaki di benua ini. Seorang kakak, sahabat, dan guru bagi banyak orang telah pergi.

Ia penulis perjalanan, pengelana, pemotret lanskap dan budaya. Namun bagi banyak orang yang tumbuh bersamanya, ia adalah seorang yang diam-diam menjaga rumah.

Sejak kecil, ia bercita-cita menjadi tokoh Tintin dalam Kisah Petualangan Tintin. Barangkali itulah sebabnya ia memilih jalan hidup yang tidak menetap.

Ia berkelana ke banyak negara, menulis untuk majalah penerbangan Lion Air Group dan National Geographic, memotret bentang alam dan wajah-wajah manusia dengan ketekunan yang nyaris asketik.

Tetapi ke mana pun ia pergi, Flores tidak pernah tertinggal. Tanah itu bukan latar belakang, melainkan kompas.

Ia tidak bepergian untuk melarikan diri. Ia pergi untuk membawa pulang cerita. Lewat tulisannya, Flores hadir bukan sebagai objek eksotik, melainkan sebagai ruang hidup yang bermartabat, dengan kebudayaan, ritus, bahasa, dan imajinasi yang layak dihargai.

Ia percaya bahwa kebudayaan tidak selalu harus dibela dengan pidato; kadang cukup dengan menghadirkannya apa adanya, jujur, dan penuh hormat.

Kameranya bekerja dengan cara yang sama. Lanskap tidak pernah ia paksa menjadi indah. Wajah-wajah manusia tidak ia posisikan sebagai tontonan. Foto-fotonya seperti mengajak kita berhenti sejenak dan berkata: lihatlah, ini berharga. Bahkan yang paling sederhana sekalipun.

Di tempat-tempat yang ia singgahi, termasuk di kampung halamannya sendiri, ia lebih sering memilih peran pendukung. Ia mendorong lahir dan bertahannya komunitas-komunitas yang bekerja dengan militansi sunyi untuk kebudayaan dan kemanusiaan.

Ia hadir, menghubungkan orang, membuka ruang, lalu mundur selangkah. Namanya tidak selalu tercatat, tetapi dampaknya menetap.

Saya teringat, di suatu hari, kami mengutarakan kegelisahan tentang rencana merantau jauh untuk lanjut belajar, tentang membawa anak kami yang saat itu belum genap dua tahun, tentang jarak, ketidakpastian, dan rasa takut kalau-kalau pilihan itu akan menyusahkan anak kami yang diajak berjuang saat masih terlalu kecil.

Ia mendengarkan dengan senyum yang hangat, lalu berkata pelan bahwa ia telah berhenti takut mati. Bukan karena hidupnya tanpa luka, melainkan karena ia merasa telah pergi ke banyak tempat, mengalami banyak hal, belajar dari begitu banyak orang, dan yang terpenting, memberi dirinya kesempatan untuk berbagi kepada lebih banyak orang lewat berbagai cara yang mungkin.

Ia bilang, ia sudah menjadi seperti Tintin. Kalimat itu tidak terdengar seperti nasihat, melainkan seperti pengakuan yang jujur dan menenangkan.

“Kalian mesti berani. Anak itu beruntung, ketika kalian berani mengajaknya berpetualang jauh sejak dini. Suatu hari dia akan sangat berterima kasih,” katanya sambil menyeruput kopi pahit kesukaannya.

Tentang dirinya sendiri, ia jarang bercerita. Ia seperti seseorang yang bisa melakukan banyak hal, namun selalu bergerak dengan kerendahan hati orang yang merasa belum tahu apa-apa. Bahkan tentang sakit yang ia alami di hari-hari akhirnya, ia memilih diam. Sahabat dan rekan nyaris tidak pernah mendengar keluhannya. Maka kepergiannya terasa mendadak, bukan karena ia pergi terlalu cepat, tetapi karena ia pergi tanpa banyak isyarat.

Kini, yang tertinggal bukan hanya duka, tetapi juga tanggung jawab. Tanggung jawab untuk menjaga apa yang selama ini ia rawat. Terlebih kesadaran bahwa budaya kita berharga, bahwa tanah lahir tidak harus ditinggalkan agar bisa diperkenalkan ke dunia, dan bahwa kerja-kerja kemanusiaan sering kali paling bermakna justru ketika dilakukan tanpa sorotan.

Ia telah berkelana jauh. Sebab surga nampaknya membutuhkan seorang penutur ulung mulai hari ini.
Ia memang telah pergi. Namun melalui tulisan, foto, dan orang-orang yang pernah disentuhnya, rasa-rasanya memang ia tidak pernah benar-benar pergi dari Flores.

Selamat jalan, Valentino Luis. Rest in love.

Penulis: Erlyn Lasar

TERKINI
BACA JUGA