Maumere, Ekorantt.com – Anwar Mahmud (35) dan Norisius Sapa (31), dua nelayan asal Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, NTT, tujuh hari terombang-ambing di laut lepas karena kapal motor yang mereka tumpangi mengalami patah baling-baling.
Anwar dan Noris berangkat melaut pada Sabtu, 25 Januari 2026 sekitar pukul 15.00 Wita untuk mencari ikan.
Namun nasib nahas menimpa saat kapal motor berukuran 35 PK mengalami kerusakan patah baling-baling di Perairan Paga.
“Saat itu angin kencang, baling-baling patah. Kapal tidak bisa dikendalikan dan hanyut terbawa arus gelombang. Mereka hanya pasrah dan berdoa,” kata Mama Asi, kerabat dari Anwar dan Noris saat dihubungi Ekora NTT melalui telepon selulernya, Senin, 2 Februari 2026 malam, dari Rumah Sakit Kalabahi, Alor.
Mama Asi berkata, selama tujuh hari dua nelayan ini tanpa perbekalan dan komunikasi. Mereka hanya mengandalkan air hujan untuk bertahan hidup.
“Mereka mengumpulkan air hujan menggunakan tangan, kemudian membasahi lidah dengan air hujan untuk bertahan hidup. Rasa takut akan kapal motor tenggelam menghantui mereka,” ujar dia.
Mama Asi menuturkan, di tengah laut Anwar dan Noris sempat berteriak dan melambaikan tangan meminta pertolongan kapal besar. Sayangnya, usaha mereka tidak terdengar oleh kapal besar yang melintas di Perairan Paga.
“Mereka lihat ada dua kapal tanker yang melintas. Mereka melambai-lambai pakai baju, celana, terpal, tetapi tidak terdengar oleh kapal itu dan mereka semakin menjauh,” katanya.
Keduanya rela menantang bahaya dan mengatasi berbagai kesulitan hidup demi menafkahi istri dan anak. Seribu kali ombak yang kejam tetapi terselamatkan karena niat tulus untuk masa depan anak.

“Dalam pergolakan itu mereka tidak berpikir yang lain. Mereka hanya ingat keluarga. Setiap kali ingat wajah anak, mereka langsung kuat dan semangat, walaupun mereka tidak makan,” tuturnya.
Saat terombang-ambing, kata Mama Asi, mereka melihat ada tanjung. Kemudian mereka mendayung perahunya dengan kondisi fisik lemah menuju ke pantai. Mereka menurunkan jangkar kemudian melompat berenang menuju ke darat.
Sampai di darat mereka tidur selama lima menit di Pantai Kiraman, Alor. Setelah beristirahat keduanya melihat ada jalan untuk naik dari pantai. Mereka naik tangga dengan berpegangan tangan.
Setelah naik, lanjut Mama Asi, mereka kemudian menuruni jalan menuju ke kali. Di area tersebut mereka melihat pohon kelapa.
Noris berupaya memanjat pohon kelapa yang tinggi dengan kondisi fisik lemah. Dia pun berhasil memetik empat buah kelapa.
Namun karena tidak ada parang, mereka membelah buah kelapa menggunakan batu, lalu langsung meminum airnya untuk memulihkan tenaga.
Setelah minum air kelapa, keduanya melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan melihat kali dan bertemu warga Desa Kiraman.
“Mereka menyampaikan, mereka terdampar dan kapal mereka rusak di pantai,” kisah Mama Asi yang setiap hari menjaga Anwar dan Norisius di Rumah Sakit Kalabahi.
Warga membawa mereka ke rumah, menyuguhi makanan dan minuman. Anwar dan Noris kemudian menceritakan peristiwa nahas yang mereka alami.
Warga melaporkan kepada Kepala Desa Kiraman dan selanjutnya membawa keduanya menginap di kantor desa.
“Semua warga datang, mereka merasa haru dan sedih dengan peristiwa yang dialami Anwar dan Noris. Mereka berdoa bersama bersyukur atas keselamatan mereka,” kata Mama Asi.
Pagi harinya, Sabtu, 31 Januari 2026, BPBD kabupaten Alor langsung mengevakuasi mereka ke Rumah Sakit Kalabahi untuk mendapatkan pertolongan medis. Mereka difasilitasi dengan kamar layak Very Important Person (VIP), dan kebutuhan dasar dipenuhi selama masa pemulihan.
“Selama dirawat di rumah sakit, petugas BPBD mengawasi langsung untuk memastikan kelancaran pelayanan. Tadi bapak Sekda Alor juga datang kunjung mereka,” kata mama Asi.
Hingga kini Anwar dan Noris masih menjalani perawatan intensif. Waktu pemulangan mereka ke Paga, Sikka sepenuhnya tergantung pada evaluasi dokter.
Dalam rencananya mereka menginap di hotel, setelah keluar dari rumah sakit.
“Tetapi saya minta mereka menginap satu malam di rumah. Mereka adalah anak-anak saya di kampung Desa Paga,” kata Mama Asi.
Selain Sekda Alor, kata dia, banyak pejabat Pemda Alor, dan juga paguyuban Maumere-Alor setiap hari datang mengunjungi mereka. Namun dirinya belum melihat utusan dari Pemerintah Kabupaten Sikka.
“Informasi Pemda Sikka telah mengutus dua staf Dinas Sosial, tetapi sampai hari ini belum sampai di rumah sakit,” ungkap Mama Asi.
Yosi, istri Norisius Sapa dan Nurhayati, istri Anwar Mahmud mengucapkan terima kasih kepada warga Desa Kiraman, Pemerintah Desa, Pemerintah Kabupaten Alor, dan Paguyuban Maumere-Alor yang sudah membantu menyelamatkan suami mereka selama berada di Alor.
Keduanya juga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi NTT dan Pemerintah Kabupaten Sikka yang sudah mengutus dua orang staf Dinas Sosial untuk menjemput suami mereka.











