Borong, Ekorantt.com – Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner (Sekami) Stasi Watu Kaur, Paroki St. Paulus Mano membantu warga yang terdampak longsor di Desa Goreng Meni, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur dengan menyalurkan bantuan solidaritas pada Sabtu, 1 Februari 2026.
Pembina Sekami Stasi Watu Kaur, Maria Arlin Ngima berkata, kondisi longsor yang menerjang wilayah tersebut mendorong para pembina untuk segera mengajak anak-anak Sekami melakukan aksi solidaritas.
“Kebetulan salah satu pembina saat mendengar berita longsor sudah berada di lokasi, sehingga kami mendapat gambaran langsung tentang kondisi di lapangan,” ujar Arlin.
Para pembina bersama anak-anak Sekami kemudian berinisiatif menggalang bantuan dari umat di wilayah Stasi Watu Kaur yang melibatkan sebanyak 70 anak Sekami dengan didampingi para pembina. Mereka lalu mengunjungi tiga kampung di wilayah stasi tersebut.
“Kami mengumpulkan beras, pakaian layak pakai, dan uang tunai,” ujar Arlin.
Ia menambahkan, proses penggalangan donasi ini tidak hanya bertujuan mengumpulkan bantuan, tetapi juga menjadi bagian penting dari pembinaan anak sejak usia dini tentang empati dan berbagi terhadap sesama.
Sejak proses pengumpulan donasi hingga keberangkatan ke lokasi bencana, para pembina secara aktif mendampingi dan membimbing anak-anak Sekami.
Dikatakan, anak-anak bergerak dari rumah ke rumah dengan pendampingan pembina untuk menggalang bantuan dari umat.
“Dalam satu hari, mereka berhasil mengumpulkan bantuan berupa beras, pakaian layak pakai, serta uang tunai,” ujarnya.
Dengan kegiatan ini, anak-anak dapat belajar berbagai nilai penting dalam kehidupan sosial.
“Melalui kegiatan ini, mereka belajar berempati kepada sesama yang berduka, peduli terhadap lingkungan, bekerja sama, dan bertanggung jawab,” katanya.
Setelah penggalangan donasi usai, sebanyak 13 anak Sekami ditunjuk untuk turun langsung ke lokasi bencana bersama para pembina.
Pembina Sekami lainnya, Apolonia Fetriani Ria menambahkan, dalam kegiatan ini, para pembina berperan sebagai pendamping, pengarah, sekaligus penanggung jawab kegiatan.
“Nilai kepedulian, solidaritas, kerendahan hati, kerja sama, dan semangat berbagi kami tekankan sebagai bagian dari penghayatan iman dalam tindakan nyata,” katanya.
Usai penyerahan bantuan, rombongan Sekami diajak mengunjungi lokasi longsor serta rumah-rumah warga yang terdampak. Di lokasi tersebut, para peserta melihat secara langsung dampak kerusakan akibat bencana.
“Kami melihat secara langsung rumah-rumah yang tertimbun tanah, jalan yang terputus, serta sawah dan kebun warga yang rusak,” ujar Fetriani.
Melania Deot pembina lainnya bilang, kunjungan tersebut membuka mata mereka tentang besarnya dampak bencana alam.
“Kami sangat terharu melihat kesedihan warga, terutama mereka yang kehilangan keluarga dan tempat tinggal,” ujarnya.
Momen paling membekas, katanya, adalah saat bertemu dengan seorang bapak yang kehilangan anak, istri, dan saudarinya akibat longsor.
“Dari kunjungan ini kami belajar tentang pentingnya kesiapsiagaan dan mitigasi bencana, serta ketabahan warga dalam menghadapi penderitaan,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Seksi Pemerintahan Desa Goreng Meni, Bernadus Jeranat mengatakan, kehadiran Sekami Stasi Watu Kaur sangat berarti bagi warga terdampak bencana longsor.
“Secara moril, kunjungan ini sangat membantu dan mengurangi rasa duka kami sebagai korban bencana tanah longsor,” ungkap Bernadus.
Ia berkata, hal yang paling berkesan adalah kepedulian rombongan Sekami yang tidak hanya hadir di posko bencana, tetapi juga mengunjungi rumah duka dan menyampaikan belasungkawa secara langsung kepada keluarga korban.
“Kegiatan seperti ini sangat dibutuhkan dan semoga terus dilanjutkan karena memberi manfaat besar serta menjadi motivasi bagi anak-anak Sekami di wilayah stasi kami,” ujarnya.
Pastor Paroki St. Paulus Mano, Romo Fery Rusmiadin, menilai kegiatan yang dilakukan Sekami Stasi Watu Kaur sangat bermanfaat bagi pembinaan karakter anak.
“Mereka diajarkan nilai kepedulian, pengorbanan, dan kepekaan dalam merawat persaudaraan sejak dini,” terangnya.
Ia berharap kegiatan serupa terus dilanjutkan dan menjadi inspirasi bagi stasi-stasi lain di wilayah Paroki Mano.
“Intinya, anak-anak dan orang muda perlu terus dilibatkan secara aktif dalam pelayanan sosial dan ekologis sebagai wujud iman yang hidup,” sebutnya.
Peristiwa yang terjadi pada Kamis, 22 Januari 2026 itu sedikitnya menelan tiga korban jiwa dan satu orang yang mengalami luka-luka.
Tumpukan material longsor tampak tebal dan memanjang sekitar lebih dari 200 meter. Batu, tanah, dan kayu tampak berpadatan.
Akibatnya, selain satu rumah yang tertimbun longsor, tiga rumah lainnya dilaporkan mengalami kerusakan.
Selian itu, area persawahan, kebun warga, tambak ikan, serta halaman depan Sekolah Dasar Katolik (SDK) Meni juga turut ditimbun longsor.











