Bajawa, Ekorantt.com – Fabianus D. Djone, 45 tahun, tampak sibuk menyelesaikan pesanan pintu harmonika pelanggan saat ditemui Ekora NTT pada Jumat, 31 Januari 2026.
Tangannya cekatan dan terampil mengelas besi, menyatukan batang-batang logam yang perlahan menjelma menjadi sebuah pintu kokoh.
Fabianus memang terbilang sukses mengembangkan usaha bengkel las yang berlokasi di Watujaji, Kota Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.
“Keterampilan las saya belajar otodidak. Saat itu ada om yang kontrak tempat ini, dia usaha bengkel las, saya juga belajar dari beliau,” kata Fabianus.
Berbekal peralatan las yang diberikan ayahnya, pria yang akrab disapa Fian ini mulai merintis usaha bengkel las.
Ia bercerita, semua berawal dari tahun 1998 lalu. Kala itu, Fian baru menyelesaikan pendidikan di salah satu sekolah kejuruan di Kabupaten Ngada.
Fian mengaku sempat melakoni pekerjaan sebagai sopir bemo atau angkutan kota di Kota Bajawa. Pekerjaan itu ia tinggalkan setelah melihat peluang usaha bengkel las di wilayahnya.
“Sebenarnya motivasi saat itu ingin memperbaiki ekonomi keluarga, apalagi saya kakak sulung dari lima bersaudara,” tuturnya.
Pada 2002, Fian mengaku fokus mengembangkan usahanya dengan modal pinjaman dari BRI sebanyak Rp3 juta. Dari modal itu, ia lalu membeli bahan baku, seperti kawat las, besi dan peralatan lainnya.
Perlahan tapi pasti. Usaha Fian sudah berkembang di wilayah Watujaji. Dari bengkel las, ia mengaku sebulan bisa meraup keuntungan bersih mencapai Rp5 juta, di luar gaji karyawannya.
“Kalau pesanan banyak, saya biasa pakai karyawan sampai 10 orang, kalau tidak hanya dua orang,” ujarnya.
Tidak hanya mengelas, bengkel yang diberi nama Lima Bersaudara itu juga memproduksi pintu harmonika. Dalam sebulan, Fian biasa menghasilkan dua buah pintu harmonika yang dipesan oleh pelanggan di sejumlah wilayah di NTT.
Sementara itu, Kepala Bidang Pemberdayaan UMKM pada Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Ngada, Geovani Paulino Kaju mengapresiasi kerja keras pelaku UMKM seperti Fian. Baginya, apa yang dilakukan Fian bisa menginspirasi orang lain untuk berkarya.
Geovani mengatakan, jumlah pelaku UMKM di Ngada terus mengalami peningkatan selama dua tahun terakhir. Pada 2024, jumlah pelaku UMKM sebanyak 14.225 dan naik menjadi 14.959 pada 2025.
“Pada tahun 2026 ini kita siapkan anggaran 1,6 milliar lebih untuk bantuan modal usaha,” kata Geovani.
Ia bilang, pelaku UMKM banyak bergerak dalam bidang penjualan seperti sembako hingga kain tenun daerah.
Menurut Geovani, pemerintah juga berkomitmen untuk melakukan sejumlah pelatihan bagi pelaku UMKM di UPTD PLUT Turekisa.
“Pada tahun 2025 kemarin kita ada beri pelatihan 28 pelaku UMKM ke depan kita rencana bantu mereka dengan modal,” ujarnya.
Kepala BRI Cabang Bajawa, Keriahenta Tarigan mengatakan, pihaknya membuka peluang bagi pelaku UMKM untuk mengakses kredit. Fian termasuk orang yang telah mengakses pinjaman dari BRI.
Keriahenta menambahkan, sejauh ini penyaluran KUR lebih banyak menyasar pelaku UMKM di sektor produksi seperti pertanian, peternakan, dan perikanan.
Dalam upaya mengembangkan usahanya, dukungan BRI tidak hanya sebatas penyaluran dana, tetapi juga mencakup pemberdayaan dan pendampingan usaha dan edukasi finansial agar para debitur dapat mengelola usahanya secara berkelanjutan dan bertanggung jawab.
Hal ini menurut Keriahenta, sejalan dengan visi BRI untuk menjadi mitra terpercaya dalam memberdayakan ekonomi kerakyatan, khususnya di daerah-daerah yang memiliki potensi unggulan.
Dengan strategi yang terfokus pada sektor produktif, BRI Cabang Bajawa optimistis dapat terus menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat dan menjawab tantangan pembangunan inklusif di tingkat lokal.
“Kami berkomitmen untuk terus mendampingi dan membantu pelaku UMKM, tidak hanya berupa modal usaha saja tapi juga melalui pelatihan-pelatihan usaha dan program pemberdayaan lainnya,” tutupnya.











