Kasus DBD di Sikka Meningkat, Ini yang Perlu Anda Tahu

Demam berdarah dengue merupakan penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus.

Oleh: Dokter Itta*

Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Sikka menunjukkan tren peningkatan pada awal tahun 2026. Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka mencatat 26 kasus DBD dengan satu kematian di awal Januari 2026.

Hingga akhir Januari, tercatat 56 kasus DBD. Dilansir Suarasikka.com, anak-anak yang terserang DBD menjalani perawatan intensif di RSUD TC Hillers Maumere. Sebagian besar dari mereka menjalani perawatan selama 4 sampai 5 hari.

Kondisi ini menjadi peringatan serius bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama di tengah musim hujan yang masih berlangsung. Mengingat penyakit ini punya hubungan dengan lingkungan yang tidak sehat.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka menyampaikan bahwa peningkatan kasus ini tidak terlepas dari faktor cuaca dan lingkungan. “Musim hujan dengan curah hujan tinggi menyebabkan banyak genangan air di lingkungan rumah warga. Ini menjadi tempat ideal bagi nyamuk Aedes berkembang biak,” ujarnya.

Demam berdarah dengue merupakan penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Nyamuk ini berkembang biak di genangan air bersih yang sering ditemukan di sekitar rumah, seperti bak mandi, ember, talang air, botol dan kaleng bekas, serta pot tanaman. Curah hujan yang tinggi disertai pengelolaan lingkungan yang kurang optimal menjadi faktor utama meningkatnya kasus DBD di wilayah ini.

Gejala awal DBD kerap menyerupai demam biasa sehingga sering tidak disadari sejak dini. Pasien umumnya mengalami demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri di belakang mata, nyeri otot dan sendi, serta lemas. Pada sebagian kasus dapat muncul mual, muntah, atau ruam kemerahan pada kulit.

Tenaga kesehatan mengingatkan bahwa fase paling berbahaya pada DBD justru terjadi saat demam mulai turun, biasanya pada hari ke-3 hingga ke-5. Pada fase ini, pasien berisiko mengalami perdarahan dan kebocoran plasma yang dapat berujung pada syok dan kematian. Oleh karena itu, masyarakat diimbau segera memeriksakan diri ke puskesmas atau rumah sakit jika mengalami demam tinggi lebih dari dua hari, terutama bila disertai gejala lain yang mengarah ke DBD.

DBD tidak hanya menyerang anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Namun, anak-anak, lansia, serta penderita penyakit kronis memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi berat. Selain berdampak pada kesehatan, DBD juga menimbulkan beban sosial dan ekonomi bagi keluarga akibat biaya pengobatan serta terganggunya aktivitas sehari-hari.

Kasus kematian akibat DBD yang tercatat di awal tahun ini menjadi pengingat bahwa penyakit ini tidak boleh dianggap sepele. Keterlambatan penanganan masih menjadi salah satu faktor utama yang meningkatkan risiko kematian pada pasien DBD.

Hingga saat ini, pencegahan merupakan langkah paling efektif untuk menekan angka penularan DBD. Masyarakat diimbau secara konsisten menerapkan 3M Plus, yaitu: menguras tempat penampungan air secara rutin, menutup rapat wadah air, mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air. Plus, menggunakan obat anti-nyamuk, kelambu, dan menjaga kebersihan lingkungan

Pengasapan (fogging) hanya berfungsi membunuh nyamuk dewasa dan bersifat sementara. Tanpa pemberantasan sarang nyamuk di lingkungan rumah, risiko penularan DBD akan tetap tinggi.

Pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka terus mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan segera mencari pertolongan medis jika mengalami gejala DBD. Kerja sama antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam menekan lonjakan kasus DBD di Kabupaten Sikka.

*Penulis adalah dokter yang berkarya di RSUD TC Hillers Maumere

TERKINI
BACA JUGA