Lewoleba, Ekorantt.com – Helena Mensiana Lerek (41) memberdayakan ibu-ibu mengolah jagung titi agar punya nilai ekonomi yang tinggi. Kini hal itu perlahan terwujud.
Olahan jagung titi tersebut diberi nama Ina Florata, yang diproduksi dari Kabupaten Flores Timur, Alor, dan Lembata. Kini Ina Florata beredar hingga Jakarta dan Kalimantan.
Semula Helena prihatin melihat ibu-ibu berjualan jagung titi di sekitar emperan toko dan pinggir jalan di Lembata.
Pengolahan makanan khas etnis Lamaholot masih ala kadar dan lebih banyak dikonsumsi di meja makan keluarga.
Padahal, tradisi memipih jagung berpotensi meningkatkan pendapatan keluarga. Dari sinilah motivasi itu datang.
Pemberdayaan lokal dimulai dari tanah kelahirannya di Kampung Belang, Desa Watokobu, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata.
Desa ini memiliki potensi jagung, seperti umumnya daerah Lembata, Alor, Solor, Adonara, dan daratan Flores Timur yang terhimpun dalam etnis Lamaholot.
Lantaran masih kekurangan modal, Helena menghubungi saudaranya, Alvian Lamaberaf. Helena yang dibantu lantas membentuk kelompok Ina Florata. Seperti namanya, “Ina” adalah sapaan penuh penghormatan untuk perempuan.
Ibu-ibu yang saban hari memipih jagung menyambut baik Ina Florata. Pada Juli 2023, Ina Florata resmi diluncurkan bersamaan dengan perayaan 100 tahun SD Katolik Santo Agustinus Belang.
“Jadi kami (Ina Florata) beli jagung titi langsung dari ibu-ibu, kami saling membantu. Kami beli Rp200 ribu per ember,” kata Helena saat dihubungi Senin, 9 Februari 2026.
Dari tangan pemipih jagung, Ina Florata mengolahnya lagi dengan margarin, garam, lalu dipanggang menjadi lebih renyah. Terdapat tiga varian, produk ini dikemas dengan kemasan yang ramah lingkungan.
“Ada yang ditambah kacang tanah, ada jagung titi original, dan satu lagi jagung titi campur ikan teri. Ikannya kami beli lewat nelayan di Hadakewa (di Lembata),” kata dia.
Setelah tahun pertama dengan jangkauan di sekitar Lembata dan Pulau Flores lewat penyeberangan kapal, Ina Florata kini merambah ke Jakarta, Kalimantan, dan Batam.
Dalam seminggu, Helena memperkirakan lebih dari 100 kemasan terjual dengan harga Rp10 ribu per kemasannya. Pemasaran juga ditempuh dengan platform media sosial facebook.
“Awalnya saya keluar masuk ke kantor dinas, kemudian dijual di dalam kapal. Di kemasannya juga tertera nomor kontak owner,” ceritanya.
Kini Ina Florata bisa sudah masuk NTT Mart, sebuah etalase untuk memasarkan hasil kerajinan tangan berbasis potensi lokal setempat.
Dilaunching oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena pada Kamis, 5 Februari 2026, NTT Mart diharapkan menggerakkan ekonomi kerakyatan sekaligus menjadi pusat pemasaran produk lokal masyarakat.
Meski demikian, Helena mengaku peralatan kerjanya masih terbatas. Termasuk dengan kemasan produk yang belum didesain secara apik. “Semoga bisa terus didukung untuk lebih berkembang lagi,” harap Helena.
Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Koperindag) Lembata, Wilhelmus Leu Wehek berkata, Pemkab Lembata menaruh perhatian terhadap UMKM di bidang kuliner, meski bantuan lewat modal dan peralatan sulit dilakukan lantaran ketiadaan anggaran.
Wilhelmus mengaku belum mengenal Ina Florata secara lebih dalam. Meski demikian, Ina Florata sudah terdata dalam UMKM oleh Dinas Koperindag.
“Kita kesulitan pembiayaan. Tetapi fasilitasi soal penyebar luasan pasar dengan media-media yang kita punya tentu itu sudah pasti,” ujarnya.
Menurutnya, salah satu cara promosi yang dilakukan yaitu lewat gelaran lomba Titi Jagung memperingati Hari Ulang Tahun Otonomi Kabupaten Lembata yang sudah digelar di bulan Oktober 2025.
Penulis: Paul Kabelen












