Larantuka, Ekorantt.com – Monsinyur Yohanes Hans Monteiro resmi menerima pentahbisan episkopal sebagai Uskup Keuskupan Larantuka di Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka, Kabupaten Flores Timur, NTT, Rabu, 11 Februari 2026.
Pentahbisan Mgr Hans dihadiri Ketua Konverensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr Antonius Subianto Bunjamin, Pejabat Kedutaan Vatikan untuk Indonesia, Mgr Michael A. Pawlowlicz, serta Kardinal Ignatius Suharyo dan 38 uskup termasuk sejumlah uskup emeritus.
Misa pentahbisan berlangsung selama empat jam. Mgr Fransiskus Kopong Kung sebagai pentahbis utama, serta dua uskup konsekrator, Mgr Paulus Budi Kleden (Uskup Ende) dan Mgr Ewaldus Martinus Seda (Uskup Maumere).
Dalam kesempatan tersebut, Mgr Paul Budi Kleden mengisahkan satu momen menarik di tahun 2004 silam. Kala itu, Mgr Fransiskus Kopong Kung baru memulai tugas kegembalaannya sebagai Uskup Larantuka, setelah dua tahun menjadi Uskup Koajutor.
Di momen itu, kenang Paul, Hans Manteiro seorang imam muda tampil sebagai komentator, yang kini melanjutkan ekstafet kepemimpinan gereja Keuskupan Larantuka.
“22 tahun yang lalu, romo yang masih muda tetapi tambil berwibawah dan meyakinkan, Romo Hans Monteiro. Tidak tahu apa yang bakal terjadi dengan serem kita kali ini, yang juga masih muda dan tampil meyakinkan,” tutur Paul disambut tepuk tangan umat.
Di hadapan umat, Mgr Hans menyampaikan Gereja Katedral Larantuka menjadi tempatnya menerima sakramen permandian, komuni pertama, sakramen tobat pertama, sakramen krisma, ditahbiskan menjadi imam, dan akhirnya ditahbiskan menjadi Uskup Larantuka.
“Hari ini (saya) menerima kepenuhan rahmat imamat,” katanya.
Ia berkata, menjadi uskup adalah panggilan dan kehendak dari Allah melalui gereja. Tahbisan episkopal ini bukanlah kehormatan pribadi, melainkan pelayanan bagi gereja.
Dalam terang ajaran Konsisi Vatikan II Lumen Gentium 21, tutur Mgr Hans, episkopal adalah kepenuhan sakramen tahbisan yang menempatkan seorang uskup dalam kesinambungan para rasul, sebagai tanda kehadiran Kristus di tengah umatnya.
Pentahbisan dihadiri ribuan umat yang memenuhi setiap sudut dalam gereja hingga halaman luar. Aparat disiagakkan. Petugas kesehatan juga berada di sana agar mengantisipasi kejadian genting.
Jalur dari dan keluar gereja direkayasa demi mengatasi penumpukkan kendaraan yang mengganggu jalannya pentahbisan.
Banyak kendaraan, baik roda dua dan empat diarahkan parkir di Lapangan Ile Mandiri di samping utara gereja.
Penulis: Paul Kabelen












