Kupang, Ekorantt.com – Produksi beras di Nusa Tenggara Timur tahun 2025 sebesar 567.178 ton. Jumlah tersebut mengalami peningkatan sebesar 152.602 ton atau 35,38 persen jika dibandingkan dengan tahun 2024 sebesar 414.576 ton.
“Peningkatan produksi beras tahun 2025 turut berdampak positif bagi peningkatan penyerapan beras oleh Perum Bulog di NTT sebanyak 6.056 ton,” jelas Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena saat melaksanakan Gerakan Tanam Padi Serentak se-Provinsi Nusa Tenggara Timur di Desa Manusak, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang pada Senin, 16 Februari 2026.
Selanjutnya, produksi gabah kering giling (GKG) di NTT 968.324 ton, hampir mencapai satu juta ton pada tahun 2025.
Menurut Melki, produksi ini meningkat sebesar 260.532 ton atau 36,81 persen dari tahun sebelumnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Joaz Bily Oemboe Wanda melaporkan Pemerintah Provinsi NTT pada tahun 2026 menargetkan peningkatan luas tanam padi sebesar 7,90 persen atau 273.800 hektare.
Pada tahun 2025, luas tanam padi di NTT seluas 253.700 hektare dengan target produksi padi sebesar 1.186.456 ton GKG dan produksi beras sebesar 694.944 ton.
“Hal tersebut didasarkan untuk memenuhi rata-rata kebutuhan beras NTT di kisaran 650.000 ton per tahun,” jelas Joaz.
Sementara itu, Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma mendorong strategi adaptasi sektor pertanian, tidak saja hanya dengan komoditi padi melainkan juga dengan produksi sorgum atau jagung.
Johni menyebut di Kabupaten Sabu Raijua yang cukup kering cocok mengembangkan sorgum dan jagung.
“Kita tidak harus terpaku pada beras, tetapi sorgum dan juga jagung harus dimanfaatkan,” kata Johni saat memberikan arahan kepada Bupati Sabu Raijua dan jajarannya.
Ia berkata, lahan-lahan yang ada di Kabupaten Sabu Raijua harus sebanyak mungkin menanam jagung dan sorgum, sehingga akan menjadi substitusi beras.
Menurut Johni, sorgum dan jagung memiliki daya tahan tinggi di lahan kering dan dapat menjadi substitusi beras yang efektif bagi masyarakat lokal.












