Dulu Buruh di Tanah Rantau, Kini Yulius Meo Bertani Hortikultura di Kebun Sendiri

Sebelum banting setir dan mengurus pertanian, selama 13 lamanya, Yulius terlebih dahulu merantau ke Bali. Di sana, ia bekerja di sebuah toko bangunan.

Bajawa, Ekorantt.com – Seorang pria tampak membungkuk di bedeng tomat yang tumbuh begitu subur ketika dijumpai pada Senin, 23 Februari 2026. Jemarinya bergerak cekatan, menyibak daun-daun kecil dan mencabut rumput liar yang menyelinap di sela tanah.

Yulius Meo, 36 tahun, sejak 2014 silam serius membudidayakan tanaman hortikultura jenis tomat di kebunnya di Desa Wogo, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada.

Sebelum banting setir dan mengurus pertanian, selama 13 lamanya, Yulius terlebih dahulu merantau ke Bali. Di sana, ia bekerja di sebuah toko bangunan.

“Saat itu umur saya baru 15 tahun, saya berangkat modal uang Rp100 ribu yang mama kasih,” ujarnya.

Selama tiga tahun di Bali, Yulius bekerja sebagai buruh kasar dengan upah Rp20 ribu per hari. Meski pekerjaan cukup berat, ia terpaksa menjalaninya hanya untuk sekadar membeli makanan di tanah rantau.

Yulius sudah lelah dengan pekerjaan seperti itu. Ia memutuskan untuk kembali ke kampung.

Memanfaatkan lahan milik orangtuanya, ia bertani tomat dan sayur. Ia tidak punya latar belakang pendidikan di bidang pertanian. Tak punya modal pula. Satu-satunya modal yang ia miliki adalah nekat.

“Benar-benar karena modal nekat, saya belajar dari internet juga,” ujarnya.

Ia mengalami kesulitan saat pertama kali menjadi petani hortikultura. Butuh penyesuaian yang tak gampang. Dari yang sebelumnya bekerja sebagai buruh bangunan, terpaksa harus belajar menggembur tanah. Tidak hanya selesai di proses menanam, tapi berlanjut ke tahapan perawatan hingga nantinya memetik hasil.

“Saya memang juga punya orangtua petani tapi tidak yang khusus tanam tomat. Ini yang cukup berat, karena kita harus jaga dengan baik supaya bibit tumbuh dengan baik,” kata Yulius.

Setelah melewati pengalaman pertama, Yulius mulai kerasan bertani hortikultura. Tapi bukan berarti tanpa tantangan. Gagal panen sering kali membayang-bayangi usahanya itu.

Cuaca yang tak menentu menjadi salah satu sebabnya. Batasan antara musim hujan dan kemarau sudah tidak jelas. Tentu saja berpengaruh terhadap proses perawatan tanaman.

Ia tak mau pasrah. Untuk itu, ia terus belajar dari kanal Youtube yang fokus menayangkan video-video budidaya hortikultura. Ia kemudian menerapkannya di kebun.

Yulius mengaku saat ini sedang membudidayakan 2000 tanaman tomat dan 1000 sawi.

“Sebelumnya saya sempat tanam tomat 600 pohon dan sudah panen,” ujarnya.

Ia mengaku meraup omset tujuh juta rupiah dari hasil penjualan tomat. Dari keuntungan itu, Yulius mulai mengembangkan usaha dengan jumlah mencapai 2000 pohon tomat.

Ia menikmati pekerjaannya itu sekarang. Karena dari situ pula ia bisa menafkahi keluarga dan membiayai pendidikan anak.

Meskipun demikian, ia mengaku harga tomat kian anjlok. Hal tersebut terjadi akibat banyak tomat dari Bima dan Makassar yang masuk ke pasar di Kabupaten Ngada.

“Kadang harganya bagus bisa sampai 20.000 per kilogram tapi sekarang kadang hanya 10.000 per kilogram akibat tomat dari luar juga masuk, ” Katanya.

Yulius berharap pemerintah bisa mengambil langkah untuk agar harga tomat tetap stabil di Kabupaten Ngada.

Wakil bupati Ngada, Bernadinus Dhey Ngebu berkata, pemerintah terus berkomitmen memberi perhatian kepada petani salah melalui bantuan tandon air.

“Kita terus berkomitmen untuk bantu petani hortikultura melalui bantuan bibit gratis, bajak gratis hingga bantuan tandon air,” katanya.

Bernadinus mengajak agar petani hortikultura ikut bersaingan di tengah kebijakan pasar bebas.

“Kita tidak bisa melarang, karena ini pasar bebas, tapi kita mendorong petani untuk ikut bersaing dengan menjaga kualitas barang,” ujarnya.

Pemerintah, kata dia, juga mendorong sistem zonasi hortikultura agar persediaan selalu ada dan tidak langka.

TERKINI
BACA JUGA