Hery Nabit Klaim Geotermal Jadi Jalan Keluar dari Kemiskinan di Manggarai

Nabit menyentil tema pembangunan tahun 2027 yakni ‘Peningkatan Daya Saing Daerah Berbasis Sektor Unggulan’. Pertanian menjadi sektor unggulan di Kabupaten Manggarai.

Ruteng, Ekorantt.com – Bupati Manggarai, Herybertus G. L. Nabit mengklaim bahwa pengembangan listrik panas bumi atau geotermal menjadi solusi bagi masyarakat keluar dari kemiskinan.

“Sudah Pa. Percaya saya. Kalau mau keluar dari kemiskinan, geotermal sudah,” kata Nabit dalam Forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Manggarai Tahun 2027 di Aula Manggarai Convention Center pada Senin, 16 Maret 2026.

Ia mengatakan, angka kemiskinan Kabupaten Manggarai pada 2025 sebesar 18,10 persen atau 65,61 ribu penduduk yang miskin.

Nabit menyentil tema pembangunan tahun 2027 yakni ‘Peningkatan Daya Saing Daerah Berbasis Sektor Unggulan’. Pertanian menjadi sektor unggulan di Kabupaten Manggarai.

“Kalau kita mau bertambah lebih, hasil pertaniannya diolah. Kalau tidak diolah tidak ada nilai tambahnya. Tetapi kalau diolah ada nilai tambahnya,” ujar Nabit.

Ia mencontohkan komoditas kopi, akan punya nilai tambah bila diolah. Otomatis harganya akan melonjak dari sebelumnya. “Kopi kalau diolah jadi tepung, dari Rp80 ribu per kilogram kalau diolah menjadi tepung itu kan dari Rp80 ribu per kilo bisa jadi Rp800 ribu per kilo.”

Syarat utama untuk mencapai nilai tambah itu yakni proses industrialisasi, yang mengandalkan pasokan listrik yang cukup. “Tidak bisa bikin pabrik dari genset. Tidak bisa,” tuturnya.

Ia bilang, membangun pabrik harus memakai Pembangkit Listrik Negara (PLN). Itulah kenapa “kita mati-matian mau geotermal.”

Terlebih lagi, menurut dia, Presiden Prabowo Subianto memerintahkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia untuk ‘menyuntik mati’ Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). “Jadi ke depan tidak ada lagi diesel-diesel itu,” tutur Nabit.

Nabit menyebut, pemerintahan Prabowo sedang getol berbicara tentang kendaraan listrik. “Kenapa? Karena solar tidak bisa masuk karena perang di Iran,” ujarnya merujuk situasi perang di Timur Tengah.

Menurutnya, semakin lama perang, semakin susah mendapatkan solar, bensin, dan LPG (Liquefied Petroleum Gas). “Ketika susah, masih mau sana-sini tolak geotermal. Ae pikir ulang,” ucap Nabit.

Ia mengajak untuk bicara bersama saat menyentil dampak sosial dan lingkungan dari proyek geotermal ini.

Di Manggarai, wilayah Poco Leok, Kecamatan Satarmese merupakan wilayah adat yang menjadi target proyek perluasan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulumbu di Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai.

Proyek ini direncanakan untuk menambah kapasitas produksi listrik sebesar 2×20 megawatt, melampaui kapasitas awal 10 MW yang telah beroperasi sejak 2012.

Namun demikian, proyek ini ditentang oleh masyarakat adat setempat karena dinilai mengancam ruang hidup, kelestarian lingkungan, dan keberlanjutan hidup generasi mendatang.

Baru-baru ini, warga  menang dalam gugatan melawan Bupati Nabit di Pengadilan Tata Usaha Negara atau PTUN Kupang.

Warga menggugat Hery Nabit karena mengintimidasi mereka saat unjuk rasa penolakan geotermal di Ruteng pada Juni 2025 lalu.

Keputusan majelis hakim tertuang dalam keputusan Nomor 26/G/TF/2025/PTUN.KPG dan dibacakan pada 10 Maret 2026.

Sesuai putusan yang salinannya diperoleh Ekora NTT, hakim menyatakan “mengabulkan gugatan penggugat sebagian.”

TERKINI
BACA JUGA