Oleh: Br. Piter Sii, SVD
Di tengah zaman yang serba cepat, manusia modern makin akrab dengan perpindahan. Orang berpindah pekerjaan, pindah komunitas, pindah orientasi hidup, bahkan pindah komitmen ketika keadaan tidak lagi nyaman. Kesetiaan, dalam banyak hal, terdengar seperti kata lama yang makin jarang dipraktikkan. Yang lebih dihargai sering kali justru kecepatan, mobilitas, pencapaian yang terlihat, dan kemampuan menempatkan diri di ruang-ruang strategis.
Karena itu, kisah hidup Pater Thomas Krump, SVD, menghadirkan semacam koreksi moral yang sangat kuat. Ia tidak berkhotbah panjang tentang kesetiaan, tetapi menjalaninya. Ia tidak membangun citra besar tentang pengabdian, tetapi membiarkan hidupnya sendiri menjadi bukti. Dalam dunia yang mudah terpesona pada yang spektakuler, Pater Thomas menunjukkan bahwa hidup yang sederhana, tekun, dan mengakar justru dapat meninggalkan pengaruh yang jauh lebih dalam.
Pater Thomas Krump lahir di Budapest, Hungaria, pada 14 Agustus 1934. Jalan hidupnya sejak awal tidak dibentuk oleh kenyamanan. Situasi politik di Eropa Timur pada masa itu memaksa keluarganya meninggalkan tanah kelahiran dan mengungsi ke Austria. Pengalaman terusir dari tanah asal tentu bukan pengalaman ringan bagi seorang anak yang sedang bertumbuh. Namun justru dari pengalaman seperti itulah tampaknya tumbuh daya tahan batin yang kelak membentuk dirinya sebagai seorang misionaris.
Yang menarik, keterasingan tidak membuat cita-citanya padam. Sejak kecil ia ingin menjadi religius dan bermisi jauh dari tanah kelahirannya. Keinginan itu terus hidup, bahkan di tengah situasi yang tidak stabil. Ia menempuh pendidikan di seminari, lalu masuk Serikat Sabda Allah (SVD), mengikrarkan kaul pertama pada 8 September 1956, kaul kekal pada 8 September 1960, dan ditahbiskan menjadi imam pada 18 Maret 1961. Moto tahbisannya diambil dari Ibrani 13:8: Kristus kemarin, Kristus hari ini, Kristus selamanya.
Tidak sedikit orang memilih moto indah saat tahbisan, tetapi tidak semua sanggup menghidupinya dalam cara yang konsisten. Pada Pater Thomas, moto itu bukan sekadar semboyan liturgis. Ia benar-benar menjadikannya arah hidup. Ketika akhirnya tiba di Indonesia pada 1962, belajar bahasa Indonesia di Mataloko, lalu masuk ke wilayah pelayanan di Ruteng, yang ia jalani bukanlah episode misi singkat yang romantis, melainkan hidup panjang yang penuh ketekunan.
Ia sempat berkarya di Todo dan Pacar. Namun Rejeng kemudian menjadi tempat yang benar-benar menyatu dengan hidupnya. Di sana ia tinggal, melayani, bertahan, dan menua. Selama lebih dari lima puluh tahun ia hidup sebagai gembala umat di satu wilayah yang sama. Ia mengunjungi stasi-stasi dengan menunggang kuda, naik sepeda motor, dan kemudian menggunakan mobil. Ia hadir dalam kehidupan umat bukan sebagai tamu, tetapi sebagai bagian dari sejarah hidup mereka.
Di sinilah letak kekuatan kesaksiannya. Pater Thomas tidak menjadi besar karena berpindah dari satu panggung ke panggung lain. Ia menjadi besar justru karena bertahan di satu tempat, melayani orang-orang yang sama, di wilayah yang sama, dalam ritme hidup yang mungkin bagi orang lain tampak biasa. Tetapi sering kali justru yang disebut biasa itulah yang paling menentukan masa depan sebuah komunitas.
Kita hidup dalam budaya yang sangat menghargai apa yang tampak. Ukuran keberhasilan sering diletakkan pada seberapa luas seseorang dikenal, seberapa cepat ia naik, seberapa banyak tempat ia singgahi, atau seberapa sering namanya disebut. Dalam ukuran seperti itu, kisah seorang imam yang tinggal di satu paroki selama puluhan tahun mungkin tidak segera dianggap luar biasa. Namun cara pandang seperti ini justru memperlihatkan problem mentalitas zaman kita.
Kita terlalu mudah memuliakan yang cepat dan melupakan yang tekun. Kita mudah memuji yang mencolok, tetapi gagal melihat kebesaran yang lahir dari pengabdian harian. Padahal komunitas, institusi, bahkan bangsa sekalipun, tidak dibangun pertama-tama oleh mereka yang paling sering tampil, melainkan oleh mereka yang setia memikul tanggung jawab tanpa banyak sorotan.
Karena itu, kisah Pater Thomas relevan jauh melampaui lingkungan Gereja. Ini bukan hanya kisah seorang imam senior yang bekerja di wilayah misi. Ini adalah kisah tentang satu karakter besar yang kini makin langka: setia sampai akhir. Dan justru karena kelangkaannya, teladan seperti ini menjadi sangat penting untuk dibicarakan di ruang publik.
Ada pelajaran besar dari prinsip hidup yang dipegangnya: Sebagai imam berusaha melayani umat yang dipercayakan sebaik-baiknya, seturut kemampuan. Kalimat ini sederhana, tetapi kekuatannya justru terletak pada kesederhanaannya. Tidak ada ambisi besar di dalamnya. Tidak ada bahasa heroik. Tidak ada tuntutan untuk dikenang sebagai tokoh besar. Yang ada hanya kesadaran bahwa tugas seorang imam adalah melayani umat sebaik-baiknya, sesuai kemampuan yang dimiliki.
Prinsip semacam ini terasa sangat menyejukkan di tengah budaya pencitraan. Hari ini, tidak sedikit orang bekerja bukan untuk mengabdi, tetapi untuk membangun kesan. Banyak orang aktif, tetapi tidak selalu hadir. Banyak orang berbicara tentang pelayanan, tetapi diam-diam lebih sibuk merawat posisi. Dalam konteks seperti ini, ketulusan Pater Thomas menjadi kritik yang tajam.
Ia memperlihatkan bahwa pengabdian yang sejati tidak selalu ribut. Ia bisa sangat tenang, sangat biasa, bahkan nyaris tak terdengar. Tetapi justru karena dijalani terus-menerus, ia menjadi kuat. Kesetiaan adalah bentuk keberhasilan yang paling sunyi. Ia tidak cepat memukau, tetapi paling tahan terhadap waktu.
Teladan ini juga penting untuk dibaca dalam konteks Gereja lokal di Flores. Gereja tidak tumbuh hanya karena struktur kelembagaan, perencanaan pastoral, atau banyaknya program. Gereja bertumbuh karena ada orang-orang yang memberikan hidupnya.
Ada para misionaris yang datang dari negeri jauh, belajar bahasa baru, masuk ke budaya yang berbeda, menerima keterbatasan, menempuh medan sulit, dan tetap tinggal bersama umat sampai usia senja. Mereka membangun Gereja bukan pertama-tama dengan teori, tetapi dengan kehadiran.
Sering kali sejarah seperti ini hanya diingat saat orang yang bersangkutan meninggal. Kita tersentak, lalu menyadari betapa besar pengaruh seorang pribadi yang selama ini hidup sederhana di tengah kita. Ini sekaligus menjadi peringatan agar kita tidak hanya pandai memberi penghormatan ketika semuanya telah selesai.
Figur seperti Pater Thomas seharusnya mengundang kita untuk lebih menghargai kesetiaan sehari-hari, bukan hanya merayakannya setelah menjadi kenangan.
Yang membuat kisah ini semakin menyentuh ialah cara ia menutup hidupnya. Pada 15 Maret 2026, ia meninggal dunia setelah beberapa hari dirawat, hanya tiga hari sebelum merayakan 65 tahun imamatnya pada 18 Maret. Ia juga mendekati 70 tahun kaul sebagai anggota SVD. Umat sudah mempersiapkan perayaan syukur. Namun ia tidak jadi merayakannya di dunia. Ia pulang justru menjelang pesta itu.
Bagi orang beriman, peristiwa ini tentu mengandung makna yang sangat dalam. Seakan-akan seluruh hidupnya diringkas dalam satu pesan: bahwa yang terutama bukanlah pestanya, melainkan kesetiaannya. Banyak orang merayakan tonggak hidup dengan seremoni yang meriah. Tetapi pada akhirnya, bukan dekorasi dan protokol yang tinggal dalam ingatan, melainkan kualitas hidup yang telah dijalani. Yang dikenang bukan pesta syukur itu sendiri, tetapi jejak kasih yang ditinggalkan.
Di titik ini, kisah Pater Thomas menyentuh sesuatu yang sangat universal. Setiap manusia pada akhirnya akan sampai pada satu pertanyaan yang sama: apa yang sungguh tinggal dari hidup saya? Apakah yang diingat orang hanyalah jabatan saya, ataukah kehadiran saya? Apakah saya hanya pernah memegang peran, atau sungguh memberi diri.
Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi sangat penting di tengah masyarakat yang makin pragmatis. Kita cenderung menilai hidup dari hasil yang bisa diukur cepat: angka, posisi, pertumbuhan, visibilitas. Padahal ada dimensi hidup yang jauh lebih mendasar dan justru menentukan: kesetiaan, karakter, ketulusan, dan kemampuan untuk tetap hadir ketika tidak ada sorotan.
Karena itu, warisan Pater Thomas sesungguhnya bukan hanya milik Gereja atau umat Rejeng. Warisan itu milik masyarakat yang sedang kehilangan teladan ketekunan. Kita membutuhkan figur-figur seperti ini untuk mengingatkan bahwa hidup yang bernilai bukan selalu hidup yang ramai. Sering kali justru hidup yang paling mengubah adalah hidup yang dijalani dengan konsisten dalam ruang yang kecil, jauh dari perhatian publik, tetapi penuh cinta.
Dokumen riwayat hidupnya juga memuat satu kalimat yang sangat layak direnungkan oleh siapa pun: Kesulitan-kesulitan hidup dapat diatasi dengan bantuan Tuhan. Kalimat ini ia tulis dalam biodatanya pada 30 Mei 1990. Pesan tersebut terasa seperti ringkasan seluruh ziarah batinnya. Ia mengalami perpindahan karena perang, meninggalkan tanah asal, membangun hidup religius di negeri lain, datang ke Indonesia, hidup lama di daerah misi, menua, jatuh sakit, dan akhirnya wafat. Tetapi di balik semua itu, ia tetap memegang keyakinan bahwa Tuhan membantu.
Kalimat ini terasa sangat relevan untuk situasi hari ini. Kita hidup di tengah banyak kelelahan: krisis ekonomi, kecemasan sosial, konflik internal komunitas, ketegangan dalam lembaga, dan rasa tidak pasti tentang masa depan. Dalam situasi seperti itu, orang mudah kehilangan daya tahan rohani. Kita mudah lelah, mudah sinis, mudah ingin menyerah, atau mudah pindah dari komitmen ketika beban terasa berat.
Pater Thomas justru menunjukkan sebaliknya. Ia mengajarkan bahwa daya tahan bukan lahir dari situasi yang selalu nyaman, tetapi dari iman yang tetap berakar. Orang yang percaya bahwa Tuhan bekerja dalam hidupnya akan memiliki ketabahan yang berbeda. Ia mungkin lemah secara fisik, tetapi tidak mudah goyah secara batin. Ia mungkin tidak bebas dari kesulitan, tetapi tidak kehilangan arah.
Inilah sebabnya mengapa kisah hidup seorang misionaris seperti Pater Thomas layak menjadi refleksi publik. Ia mengajarkan sesuatu yang sedang sangat kita butuhkan: bahwa kesetiaan masih mungkin, pengabdian masih bernilai, dan hidup yang sederhana tetap bisa menjadi terang. Ini bukan nostalgia romantis atas masa lalu, melainkan kebutuhan moral untuk masa kini.
Kita membutuhkan lebih banyak pemimpin yang seperti itu: tidak sibuk membesarkan diri, tetapi setia memikul tugas. Kita membutuhkan lebih banyak pelayan publik yang tidak cepat lelah karena minim sorotan. Kita membutuhkan lebih banyak imam, religius, pendidik, birokrat, dan orangtua yang memahami bahwa tanggung jawab tidak selalu dijalani dalam hal-hal besar, tetapi terutama dalam ketekunan sehari-hari.
Bagi kaum muda, kisah ini juga sangat penting. Dunia digital sering membentuk mentalitas instan: ingin cepat terlihat, cepat berhasil, cepat dihargai. Akibatnya, banyak orang kurang terlatih untuk bertahan dalam proses panjang.
Teladan Pater Thomas menawarkan orientasi yang berbeda. Hidup yang dalam tidak dibangun oleh kecepatan, tetapi oleh komitmen. Panggilan tidak menjadi matang karena sering berganti arah, tetapi karena setia dijalani, bahkan saat suasana tidak lagi memukau.
Bagi para pelayan Gereja, kisah ini adalah cermin yang bening sekaligus menuntut. Bahwa panggilan bukan terutama soal kedudukan, melainkan ketekunan untuk tetap hadir. Bahwa pelayanan bukan perkara dikenal, tetapi perkara memberi diri. Bahwa menjadi gembala berarti bersedia tinggal bersama umat, bukan hanya datang ketika diperlukan lalu pergi ketika situasi berat.
Pada akhirnya, Pater Thomas Krump tidak meninggalkan teori besar. Ia meninggalkan sesuatu yang lebih kuat dari teori: teladan. Ia tidak meminta hidupnya dijadikan bahan pujian. Tetapi justru karena ia tidak mengejar pujian, hidupnya menjadi pantas dikenang. Dan mungkin itulah bentuk kebesaran yang paling sejati: ketika seseorang tidak berusaha menjadi besar, tetapi menjadi sungguh setia.
Di tengah dunia yang gemar berpindah, ia mengajarkan arti berakar. Di tengah budaya yang gemar menonjolkan diri, ia mengajarkan arti melayani dengan tenang. Di tengah masyarakat yang mudah lelah pada komitmen, ia mengajarkan arti bertahan sampai akhir.
Mengenang Pater Thomas, karena itu, bukan semata mengenang seorang imam tua yang wafat di usia lanjut. Mengenangnya berarti membiarkan hidupnya mengajukan pertanyaan yang tidak nyaman bagi kita semua: apakah kita sendiri sudah setia pada tugas yang dipercayakan kepada kita? Apakah kita benar-benar hadir bagi orang yang kita layani? Apakah hidup kita sedang dibangun di atas kenyamanan, atau di atas panggilan?
Pertanyaan-pertanyaan itu penting, sebab di sanalah warisan seorang misionaris menjadi hidup. Ia tetap berbicara, bukan lagi dengan suara, melainkan dengan jejak hidupnya. Dan jejak itu jelas: menjadi besar bukan pertama-tama soal dikenal luas, tetapi soal tetap setia sampai akhir.
*Penulis adalah dosen pada Unika Santu Paulus Ruteng












