Posko Toleransi di Ekasapta bagi Peziarah Semana Santa

Pemuda lain sibuk menjumput sampah dan rumput di halaman posyandu yang letaknya di pinggir badan jalan utama, berhadapan dengan Pasar Inpres Larantuka.

Larantuka, Ekorantt.com – Aswan Muhamad dan sejumlah pemuda muslim membentangkan tiga permadani dan enam tikar di samping Posyandu Kelurahan Ekasapta, Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Rabu, 1 April 2026.

Pemuda lain sibuk menjumput sampah dan rumput di halaman posyandu yang letaknya di pinggir badan jalan utama, berhadapan dengan Pasar Inpres Larantuka.

Beragam dekorasi yang di bawah dari rumah langsung ditata di bawah hiasan lampion berwarna-warni. Mereka menyediakan rest area bernama “Posko Toleransi” untuk peziarah Semana Santa Larantuka.

Di bawah posko itu, duduk lesehan tujuh pemuda yang asyik bercerita. Bersama Lurah Ekasapta, Dave Valentino Mautuka, mereka baru selesai menata posko yang bisa menampung  lebih dari 15 orang.

Posko ini dipersiapkan untuk peziarah Semana Santa di Larantuka, yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Para pemuda muslim Kelurahan Ekasapta pun ikut ambil bagian  dalam menyukseskan ritus budaya bernuansa Katolik yang puncaknya pada Jumat Agung, 3 April 2026.

Lurah Ekasapta, Dave Valentino Mautuka mengatakan rest area dilengkapi MCK. Tersedia pula aneka minuman hangat guna melegakan dahaga peziarah yang kelelahan.

“Disiapkan gratis, buka sejak hari ini. Bagi yang tak punya keluarga juga bisa datang dan menginap. Di sini bisa lebih dari 15 orang,” kata Valentino.

“Pesan penting tahun ini, Ekasapta ingin tunjukkan nilai toleransi yang sudah terawat di Kota Reinha. Kita semua ini terlahir dari satu rahim,” ujarnya menambahkan.

Selain rest area, pemuda muslim Ekasapta terlibat dalam urusan pengamanan. Mereka menjadi pagar betis hidup saat ribuan manusia mengarak Patung Yesus dan Bunda Maria, mengenang kisah sengsara penebus dosa.

“Kami terbagi dalam tim, pengamanan dimulai dari depan gereja. Kami bangga dan keterlibatan ini lahir dari inisiatif kami untuk berkoordinasi dengan panitia Semana Santa,” ujar Ketua Karang Taruna Ekasatpa, Saiful Rahman.

Ia menuturkan, Posko Toleransi juga menyediakan layanan pengisian daya handphone dan fasilitas bagi peziarah yang berkebutuhan khusus.

“Ada springbed untuk beristirahat. Ini bagian dari pelayanan kami kepada semua kalangan,” ucap Saiful.

Saiful menekankan tentang pentingnya merajut harmoni demi sebuah kedamaian hati. Nilai persaudaraan haruslah tetap terjaga di tengah keberagaman.

Gerakan toleransi umat Ekasapta diharapkan menjadi contoh bagi daerah lain dalam membangun harmoni sosial.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Flores Timur, Silvester Kabelen, mengatakan bahwa total penginapan dan homestay di Larantuka sebanyak 21 dan kamarnya sudah terisi semua.

“Para peziarah datang dari luar NTT bahkan memesan kamar sejak tahun lalu.”

Pemerintah, kata dia, juga menyiapkan asrama sekolah dan Biara Susteran SSpS sebagai langkah antisipasi jika terjadi ledakan jumlah peziarah.

Semana Santa sendiri tak terlepas dari jejak historis Kerajaan Larantuka dan pengaruh bangsa Portugis 5 abad silam. Awalnya, tradisi ini dianggap sakral oleh warga lokal yang bergembira atas hasil panen melimpah.

Patung Tuan Ma yang diarak keliling jantung Kota Reinha awalnya disimpan dalam “Korke” atau rumah adat. Warga awalnya mengarak patung itu sebagai ungkapan syukur atas hasil panen yang melimpah.

Tradisi ini mulai berkembang saat kedatangan misionaris dari Portugis. Mereka mengarahkan warga yang kala itu menganut kepercayaan animisme dan dinamisme agar perlahan berubah.

Rumah adat kemudian menjadi Kapela Tuan Ma. Kapela itu menjadi otoritas dinasti Kerajaan Larantuka, dijaga para pemangku adat atau kelompok khusus yang kini dikenal dengan Confreria.

Tradisi perayaan Semana Santa bernuansa Katolik diawali dengan Rabu Trewa. Tradisi dengan bunyi-bunyian di jalur prosesi itu adalah peragaan saat Yesus ditangkap. Masa perkabungan dalam tri hari suci Paskah pun dimulai.

Selanjutnya pada Kamis Putih atau peringatan perjamuan malam terakhir, digelar ritual “Muda Tuan” atau pemandian Patung Tuan Ma di Kapela Tuan Ma oleh Tim Kesumi. Peran Tim Kesumi tak diketahui sembarangan orang karena dianggap tabu.

Hari berikutnya yakni Jumat Agung, diawali dengan prosesi laut. Ratusan kapal mengantar Patung Yesus Tersalib yang dimuat dengan “Berok”, perahu tanpa mesin yang dikayuh secara manual, membelah arus Gonsalu dari Kapela Tuan Meninu ke Pantai Kuce.

Malam harinya, Patung Tuan Ma dan Tuan Ana (Yesus) diarak dari Gereja Katedral Larantuka keliling jantung Kota Larantuka, melewati delapan armida dengan rute sekitar dua kilometer jauhnya. Perarakan diiringi doa dan nyanyian ratapan memakan waktu kurang lebih delapan jam.

Penulis: Paul Kabelen

TERKINI
BACA JUGA