Larantuka, Ekorantt.com – Warga korban gempa di Adonara, Kabupaten Flores Timur, membutuhkan bantuan terpal dan perlengkapan tidur. Dua malam terakhir, sejak Rabu hingga Jumat, 8-10 April 2026, mereka terpaksa tidur beralaskan tikar. Bantuan pemerintah belum terdistribusi merata.
Usman Lili (54), korban terdampak di Desa Terong, Kecamatan Adonara Timu mengatakan, distribusi bantuan berjalan lamban bahkan hanya diprioritaskan terhadap warga yang rumahnya rusak berat. Sementara yang rumahnya aman tidak dimasukkan ke dalam data penerima bantuan.
Padahal, menurut Usman, semua warga sama-sama penyintas yang turut merasakan dampak gempa dengan kekuatan magnitudo 4,7 pada 9 April dini hari tersebut dan susulannya masih terjadi hingga Jumat siang.
“Semuanya ini kan terdampak, harusnya diutamakan itu manusianya, bukan soal siapa yang rumahnya paling rusak atau tidak,” kata dia kepada Ekora NTT pada Jumat, 10 April 2026 sore.
Di depan rumahnya dibangun satu tenda swadaya sesama tetangga. Tenda itu ditempati 11 kepala keluarga (KK), dua di antaranya lansia yang sedang sakit, Subang Tupang dan Haji Sadia. Mereka tidur berimpitan beralaskan tikar.
Kelompok rentan seperti anak-anak juga tidur di bawah tenda tanpa dinding. Warga belum bisa beristirahat dalam rumah lantaran gempa masih terus terjadi.
Usman meminta pemerintah bersikap adil. Distribusi bantuan logistik lewat data diharapkan mengutamakan sisi kemanusiaan dan menyentuh semua penyintas, terutama bagi yang rentan.
“Harusnya adil, yang tidur di luar ini semua orang, mereka yang rumah aman juga tidur di luar,” ujarnya.
Menanggapi keluhan itu, Sekretaris BPBD Flores Timur, Ariston Kolot Ola, mengatakan distribusi bantuan sempat mengalami keterlambatan. Pihaknya juga mengutamakan data dasar dalam menentukan jenis dan jumlah bantuan logistik.
Ariston berkata, persediaan logistik pemerintah daerah masih terbatas. Karena itu, bantuan diprioritaskan bagi korban rumah rusak berat dan ringan sesuai dengan data yang tercatat.
Kata dia, bantuan 800 kasur lipat segera disalurkan untuk warga Desa Terong dan Lamahala, dua desa terdampak di sana. Selain itu, bantuan juga disalurkan bagi warga Desa Motonwutun di Kecamatan Solor Timur.
“Saya sudah konfirmasi dengan pak Kades Terong dan Kades Lamahala untuk kasur lipat,” katanya.
“Tadi pagi rapat Forkompimda penetapan status penanganan darurat. Kita sedang proses dokumennya, setelah itu sampaikan ke BPBD untuk menambah logistik, jadi semuanya butuh proses,” tutur Ariston.
Ia menjelaskan bahwa petugas lapangan dengan jumlah terbatas bekerja keras soal bantuan. Mereka menyortir bantuan agar memastikan kelayakan.
Semua barang bawaan diseberangkan dengan kapal dari Pelabuhan Larantuka ke Adonara, lalu melewati jalan darat sekitar 20-an kilometer ke lokasi tujuan.
BPBD Flores Timur mencatat 207 kerusakan rumah, baik rusak berat maupun ringan, meliputi 134 rumah di Desa Terong dan 73 rumah di Desa Lamahala.
Penulis: Paul Kabelen













