Tradisi Jumper Pintu Air Diapresiasi

Ekaristi Jumper, kata dia, menjadi momentum penyerahan diri, rencana kerja, keluarga, dan para anggota ke dalam perlindungan Tuhan selama bulan yang baru.

Maumere, Ekorantt.com – Penanaman karakter rohani bagi segenap pegawai agar tidak melulu bekerja tapi harus memperhatikan hidup rohani adalah bagian dari spirit dan budaya kerja KSP Kopdit Pintu Air sejak awal berdiri.

Satu praktik baik yang terus dihidupi hingga saat ini adalah tadisi misa Jumat Pertama atau di lingkup KSP Kopdit Pintu Air disebut dengan Jumper.

Misa Jumat Pertama setiap bulan ini pun mendapatkan apresiasi khusus dari Pastor Yansen Raring, Pr.

Imam dari Keuskupan Larantuka ini mengatakan misa syukur Jumat Pertama (Jumper) yang dilakukan secara rutin setiap bulan oleh Kopdit Pintu Air merupakan basis latihan rohani.

Ekaristi Jumper, kata dia, menjadi momentum penyerahan diri, rencana kerja, keluarga, dan para anggota ke dalam perlindungan Tuhan selama bulan yang baru.

Dengan demikian, Kopdit Pintu Air sekaligus menjadi Porta Fide, pintu kepada iman, kata Romo Yansen saat merayakan misa Jumper bagi para pegawai Kopdit Pintu Air Waiwadan Adonara Barat,  pada Jumat, 3 Mei 2024 lalu.

Romo Yansen menegaskan tentang Spiritualitas Pintu. Spiritualitas Akulah Pintu kepada domba-domba, menjadi basis alkitabiah bagi orang-orang Kopdit Pintu Air.

“Ketika banyak anggota yang memilih untuk menjadi sejahtera melalui Pintu Air, itu merupakan aplikasi dari kata-kata Tuhan Yesus, Akulah Pintu,” kata dia.

Romo Yansen menambahkan, Kopdit Pintu Air adalah pintu kepada kesejahteraan dan hal ini paralel dengan Yesus sebagai Pintu kepada keselamatan.

Menurut Romo Yansen, Kopdit Pintu Air merupakan koperasi yang tidak hanya berkutat pada uang melainkan selalu konsen dengan latihan-latihan rohani.

“Latihan rohani yang dikembangkan di Pintu Air menjadikan para pekerja memiliki nilai  religius yang tinggi sehingga menjadi pribadi yang integratif secara rohani dan jasmani,” kata Romo Yansen.

Di akhir renungannya, Romo Yansen mengingatkan bahwa sesungguhnya kiblat hidup itu terarah kepada sesuatu yang melampaui visual, yang dapat dikuantifikasi; namun banyak orang terlalu mengejar materi lalu lupa akan sesuatu yang ada di seberang.

“Dan Pintu Air melalui latihan-latihan rohaninya, mengingatkan para pegiatnya akan yang ada di seberang itu,” pungkasnya.

TERKINI
BACA JUGA