Ibu Tanah, Liturgi Sosial, dan Pemulihan atas Spiritualitas Bumi yang Terluka

Ibu Tanah bukan hanya narasi, tetapi laku iman yang merawat ingatan kolektif, menyulam kesadaran ekologis, dan menafsirkan ulang mitos sebagai wahyu kontemporer.

Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge

Pementasan Ibu Tanah oleh Nara Teater di bawah komando artistik Silvester Petara Hurint di sejumlah titik di Kabupaten Flores Timur dan Lembata menandai babak baru dalam lanskap seni pertunjukan lokal. Bagi saya, ia bukan sekadar ekspresi artistik, tetapi peristiwa spiritual yang menggugah batin. Panggung teater menjelma altar kontemplatif, tempat tanah berbicara lewat tubuh manusia, menghadirkan nyala mitos Lamaholot dalam doa dan jeritan ekologi.

Dalam perspektif sosiologi agama, teater ini menjadi ruang sakral baru. Ia melampaui batas ritus formal, menghadirkan bentuk ‘lived religion’ yang hidup dalam gerak, suara, dan resonansi tubuh. Ibu Tanah bukan hanya narasi, tetapi laku iman yang merawat ingatan kolektif, menyulam kesadaran ekologis, dan menafsirkan ulang mitos sebagai wahyu kontemporer.

Simbolisme yang diusung tak hanya membahas eksploitasi tanah secara ekologis, tetapi juga pengabaian terhadap tubuh spiritual komunitas lokal. Ketika janji pembangunan mencederai spiritualitas dan tatanan komunal, teater tampil sebagai suara profetik. Ia menjadi doa yang menjerit dan ziarah batin yang pelan. Sebuah peringatan bahwa kemajuan tanpa jiwa adalah kekosongan.

Sebagai liturgi sosial, teater mengajak manusia bersujud kembali. Bukan semata kepada langit dan Ilahi abstrak, melainkan pada tanah, rahim kehidupan yang tengah terluka. Di sini, tubuh aktor menjadi perpanjangan suara bumi yang lama dibungkam. Gerak mereka menciptakan litani penderitaan, memulihkan relasi sakral yang terputus oleh modernitas.

Mitologi Lamaholot dalam pementasan ini tidak hadir sebagai folklor usang, tetapi sebagai narasi sakral yang relevan. Ia menghidupkan kembali kosmologi lokal, membawa penonton pada pengalaman transendensi yang lahir dari realitas. Sebagaimana dikatakan Eliade, mitos bukan sekadar cerita. Lebih dari itu, ia adalah struktur spiritual yang membentuk kesadaran manusia terhadap dunia, kini dan di sini, dengan sejumput persoalan yang datang menyesaki langit dan bumi, tempat manusia berpijak.

Teater ‘Ibu Tanah’ juga, saya pandang sebagai ruang hermeneutika pembebasan. Ia mengkritisi hegemoni narasi pembangunan, dan menawarkan tafsir baru yang berpihak pada nilai-nilai lokal. Dalam tubuh yang menari, tersimpan luka generasi dan harapan komunitas. Sebagai mana seni pertunjukkan pada umumnya, Ibu Tanah tidak hanya mencerminkan realitas, tetapi menyalakan lentera etis yang membimbing kita keluar dari kegelapan hegemoni kekuasaan, keserakahan pada alam dan eksploitasi masa depan kemanusiaan.

Lebih jauh dari itu, pementasan Ibu Tanah memancarkan teologi ekologis yang mendalam. Ia mengusulkan bahwa menjaga bumi bukan sekadar etika, tetapi panggilan spiritual. Dalam tiap gerak dan simbol, tersimpan iman ekologis yang melampaui institusi, menyatu dengan praksis keseharian: ladang yang digarap, benih yang ditanam, dan lagu yang dinyanyikan dalam sunyi.

Dalam ruang teater, terjadi perjumpaan antara teologi lokal dan universal. Silvester Petara Hurint bersama kru dan para aktor-aktris dengan sangat apik menggendongnya ke panggung artistik. Kesadaran kosmik tentang alam sebagai tempat ibadah menyatu dengan suara komunitas yang berakar pada tanah leluhur. Ini adalah bentuk ‘ekospiritualitas’, di mana tubuh manusia menjadi altar, dan pertunjukan menjadi doa yang bergerak.

Sampai di sini, saya boleh mengatakan bahwa panggung Ibu Tanah adalah saksi sunyi atas transformasi spiritual masyarakat. Ia menjadi laku keberagamaan yang hidup dalam budaya, bukan dogma. Teater tampil sebagai ritus kolektif yang memulihkan spiritualitas yang terluka dan menyalakan harapan atas dunia yang lebih manusiawi.

Maka Ibu Tanah bukan sekadar lakon. Ia adalah liturgi sosial, ruang ziarah dan penghayatan batin, yang menyerukan agar kita kembali menaruh hormat pada tanah. Ya, penghormatan bukan sebagai benda yang dimiliki, tetapi sebagai tubuh sejarah, sumber kehidupan, dan altar bagi masa depan yang lebih bermartabat.

*Anselmus Dore Woho Atasoge, Staf Pengajar pada Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende

TERKINI
BACA JUGA
spot_img
spot_img