Kisah Jimi Longa, Pemuda asal Ngada Berjualan Kue Nafkahi Keluarga

Jimi terpaksa berjalan kaki belasan kilometer setiap hari menjajakan kue buatan ibunya demi bisa beli beras.

Bajawa, Ekorantt.com – Yohanes Jimianus Longa, 20 tahun, pemuda yatim asal Desa Wogo, Kecamatan Golewa berjualan kue untuk menafkahi keluarganya.

Jimi, begitu sapaannya, terpaksa berjalan kaki belasan kilometer setiap hari menjajakan kue buatan ibunya demi bisa beli beras.

“Kalau tidak begini, mama dengan adik makan apa, kehidupan kami hanya dari jualan kue,” katanya kepada Ekora NTT pada Jumat, 16 Januari 2026 lalu.

Mereka inggal di rumah sederhana dan berlantai tanah. Keseharian ibunya membuat kue dan Jimi menjualnya hingga ke wilayah Malanuza.

“Biar hujan saya tetap jual kak, supaya bisa dapat uang untuk beli makan,” tutur Jimi.

Ia pernah berjalan kaki menawarkan sekantong wortel untuk dibarter dengan beras. Saat itu beras di rumahnya habis. “Saya tawarkan dari rumah ke rumah warga, tapi banyak yang bilang beras tidak ada, tapi untung ada orang baik yang mau tukar beras.”

Ia terpaksa mengambil peran sebagai tulang punggung, apalagi sejak kecil ia tidak mendapatkan kasih sayang seorang ayah. “Saya terpaksa putus sekolah kelas enam sekolah dasar, untuk bisa bantu mama.”

Di usia 10 tahun Jimi putus sekolah dan menjadi tulang punggung keluarga. Ttidak saja jualan kue, ia juga mencari sumber lain untuk mendapatkan uang dari bekerja di kebun warga sekampung.

Margareta Heme, 49 tahun, ibu Jimi mengaku kehidupan yang sulit membuat Jimi harus bekerja keras demi ia dan adiknya. Apalagi ia memiliki keterbatasan fisik.

“Saya pernah minta dia (Jimi) untuk tetap sekolah, tapi tidak mau katanya mau bantu mama,” ujarnya.

Ia mengatakan, usaha kue menjadi sandaran hidup ia dan kedua anaknya, apalagi hasil pertanian terus mengalami gagal panen. “Kami juga tidak tau kenapa, kalau tanam wortel pasti umbinya kecil dan jagung pasti penyakit.”

Dengan kesulitan yang ada, Margareta dan keluarga tidak pernah mendapatkan bantuan pemerintah. Pada 2019, ia masuk dalam daftar penerima Program Keluarga Harapan (PKH), tetapi tak kunjung mendapatkan manfaat hingga kini.

“Saat itu yang bagi kami petugas Bank BRI cabang Bajawa, katanya akan dapat bantuan,” katanya.

Saat mendapatkan informasi bantuan, ia rela berjalan menuju Kantor BRI cabang Mataloko dengan keterbatasannya untuk berjalan akibat kaki pincang sejak kecil.

“Tapi setelah di cek, uang tidak ada,” katanya. Tidak putus asa, ia kembali lagi ke bank seminggu kemudian, namun nasib yang sama dialaminya lagi.

“Kadang saya malu, karena setiap kali cek uang tidak ada, padahal kartu PKH ada, tapi orang lain yang namanya sama-sama dengan saya terima,” tutupnya.

TERKINI
BACA JUGA