Bajawa, Ekorantt.com – Institut Teknologi Bandung (ITB) mendorong Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Sentra Industri Kecil Menengah (IKM) bambu Ngada mengolah bambu menjadi bambu laminasi.
Bambu laminasi adalah material komposit hasil olahan bilah bambu yang direkatkan, disusun, dan ditempa menjadi papan atau balok.
Usulan tersebut disampaikan Ketua tim peneliti ITB Bandung, Ihak Sumardi saat mengikuti program Riset Equity DRI 2025 di Kabupaten Ngada, Rabu, 27 Januari 2026. Tujuannya untuk meningkatkan nilai tambah bambu sebagai salah satu potensi unggulan daerah.
Ihak bersama timnya juga melakukan survei lapangan untuk memetakan potensi bambu, kesiapan teknologi pengolahan, serta peluang diversifikasi produk bambu yang dapat dikembangkan di Kabupaten Ngada. Kegiatan itu dirancang agar bisa memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Penelitian ini diharapkan tidak hanya menghasilkan kajian ilmiah, tetapi juga menjadi sarana alih teknologi bagi para pengrajin bambu di Kabupaten Ngada, sehingga kualitas dan daya saing produk dapat meningkat,” ujar Ihak.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Ngada, Johanes Rodja mengatakan, Kabupaten Ngada memiliki potensi sumber daya bambu yang cukup besar dan telah dimanfaatkan oleh masyarakat melalui kegiatan pengolahan bambu berskala kecil dan menengah.
Namun demikian, keterbatasan teknologi pengolahan, khususnya pada tahap pengeringan dan pengawetan bambu masih menjadi kendala dalam meningkatkan kualitas dan daya saing produksi.
Oleh karena itu diperlukan kajian awal dan koordinasi lintas pihak untuk memastikan kesiapan lokasi, sumber daya manusia, serta sarana pendukung sebelum pengolahan bambu laminasi dilakukan.
Bupati Ngada, Raymundus Bena menyambut baik kegiatan penelitian ini karena sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan potensi unggulan daerah, khususnya bambu.
Bupati Raymundus mengaku penelitian itu menjadi momentum kebangkitan pengolahan bambu dari pola tradisional menuju pemanfaatan teknologi yang lebih maju.











