Puluhan Rumah Warga di Riung Terendam Banjir

Ia bilang, pemerintah pernah menurunkan bantuan pangan bagi warga di wilayah itu. Namun, menurut Thor, yang dibutuhkan masyarakat adalah perbaikan deker dan saluran drainase, bukan pangan.

Bajawa, Ekorantt.com – Sebanyak 20 rumah warga di Desa Lekosambi Barat Daya, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada terendam banjir, Senin, 2 Februari 2026.

Menurut warga, banjir bukan kali pertamanya melainkan terjadi hampir setiap tahun.

Thor Seno (40) salah satu korban banjir mengaku banjir terjadi sekitar pukul 17.00 Wita. Padahal saat itu, intensitas hujan di wilayah Riung masih rendah.

“Ini air dari gunung, tapi sampai di ruas Jalan Trans Mbay-Riung, air meluap ke pemukiman warga, karena gorong-gorong terlalu kecil,” ujar Thor dihubungi pada Selasa, 3 Februari 2026.

Ia mengaku akibat luapan air, rumah yang berada di RT 07, Desa Lekosambi Barat Daya terendam banjir. Sejumlah ternak seperti babi, anjing, dan unggas juga terbawa arus air.

“Kebun jagung warga juga rusak dan terancam gagal panen,” kata Thor.

Thor mengaku setiap tahun masyarakat selalu melaporkan kejadian banjir, namun tidak direspons Pemerintah Kabupaten Ngada.

“Mereka hanya datang ukur, terus hilang, musim hujan banjir lagi,” katanya.

Ia bilang, pemerintah pernah menurunkan bantuan pangan bagi warga di wilayah itu. Namun, menurut Thor, yang dibutuhkan masyarakat adalah perbaikan deker dan saluran drainase, bukan pangan.

Ia bilang, perbaikan deker sangat penting agar saat hujan, air terarah dan tidak masuk ke pemukiman warga.

Kepala Desa Lekosambi Barat Daya, Fidelis Jehamin mengatakan, telah melaporkan kejadian banjir kepada BPBD Ngada, namun hingga kini belum direspons.

“Kejadian ini sebenarnya tiap tahun, tapi tahun ini paling parah,” katanya.

Fidelis mengaku luas kebun yang rusak akibat banjir sekitar enam hektare dan sebanyak 20 kepala keluarga terdampak banjir.

Ia juga senada dengan pendapat warga. Saat ini, pemerintah harus memperbaiki deker dan saluran drainase permanen.

“Sekitar 500 meter dari mulut deker,” imbuh Fidelis.

Kepala BPBD Kabupaten Ngada, Emanuel Kora berkata, perbaikan deker menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi NTT karena berada di ruas jalan provinsi.

“Dulu kita sudah siapkan anggaran, tapi setelah konfirmasi ke provinsi tidak ada jawaban,” katanya.

Meskipun demikian, Emanuel mengaku Pemerintah Kabupaten Ngada tengah beru agar ada perbaikan terhadap deker tersebut.

“Ini kita sedang dalam perjalanan, kita mau lihat kira-kira mana yang bisa Pemda (Ngada) lakukan,” ujar Emanuel.

TERKINI
BACA JUGA