Ruteng, Ekorantt.com – Agnes Sandri Diana Selek tampak serius menanam anakan pohon pada lubang sedalam 20 sentimeter.
Ia dengan hati-hati merobek plastik hitam berisikan tanah dan anakan pohon, kemudian menanamnya. Perlahan wanita yang akrab disapa Sindi itu menutupnya dengan tanah yang sudah digembur.
Sindi merupakan salah satu guru yang terlibat dalam aksi penanaman pohon dalam rangka menyambut Hari Pers Nasional 2026.
Ia mendampingi beberapa siswanya dari Sekolah Menengah Atas Santu Thomas Aquinas Ruteng saat aksi menanam pohon di sekitar sumber mata air Wae Pong, Kelurahan Waso, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai pada Minggu, 8 Februari 2026.
Keterlibatan Sindi dalam kegiatan konservasi ini untuk mengajarkan siswanya tentang menjaga alam, yang tak hanya teori di kelas.
“Kegiatan ini sangat penting karena berkaitan langsung dengan pendidikan karakter dan kepedulian lingkungan bagi siswa,” ujarnya.
Menurut Sindi, sumber mata air Wae Pong memiliki peran vital bagi keberlangsungan hidup warga kota Ruteng, terutama untuk kebutuhan air bersih dan pertanian.
Apabila sumber daya mata airnya rusak dan kering, maka masyarakat tentu akan merasakan dampak buruknya, kata Sindi.
Bagi wanita usia 25 tahun itu, “menjaga kelestariannya berarti sedang menjaga keberlangsungan hidup banyak orang.”
Penanaman pohon di sekitar sumber mata air, kata dia, sangat membantu menjaga daya resap tanah, mencegah erosi, dan mempertahankan ketersediaan air.
Akar pohon pun berfungsi sebagai penyangga alami yang menjaga tanah tetap stabil dan memungkinkan air hujan terserap dengan baik, sehingga sumber mata air tetap terjaga dalam jangka panjang.
Tetapi, kesadaran masyarakat dapat disentuh melalui edukasi dan keterlibatan langsung.
“Dengan melibatkan masyarakat dan orang dalam proses penanaman serta perawatannya, akan tumbuh rasa memiliki dan tanggung jawab bersama.”
Sindi berpesan agar generasi muda dapat menjadi generasi yang peduli dan punya tanggung jawab terhadap lingkungan.
“Alam adalah warisan yang kita terima dan titipan untuk generasi selanjutnya,” tutur Sindi.
“Tindakan kecil seperti menanam dan merawat pohon hari ini akan menentukan kualitas hidup di masa depan.”
Kegiatan tersebut melibatkan Kodim 1612 Manggarai, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Ruteng, dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Manggarai.
Selain itu, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unika Santu Paulus Ruteng dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Karya Ruteng, serta beberapa Organisasi Intra Sekolah (OSIS) Sekolah Menengah Atas Swasta dan Kejuruan di kota Ruteng.
Ketua PMKRI Cabang Ruteng Santu Agustinus, Margareta Kartika mengaku, keterlibatannya dalam aksi tersebut didasari dari semangat “Pro Ecclesia et Patria”, demi gereja dan tanah air, semboyan yang melekat pada tubuh PMKRI.
“Kami menyadari bahwa penghijauan adalah wujud nyata kami menjaga alam dan bentuk pengabdian kami kepada masyarakat,” kata Kartika.
Menurutnya, sumber mata air Wae Pong merupakan nadi kehidupan bagi masyarakat kota Ruteng. Secara geografis, wilayah ini terbilang sangat bergantung pada kelestarian hutan di pegunungan sebagai daerah tangkapan air.
“Jika mata air ini rusak dampaknya bukan hanya kekeringan, tetapi penurunan kualitas hidup, kesehatan dan ekonomi warga,” tutur Kartika.
“Menjaganya berarti menjaga masa depan peradaban Manggarai.”
Kartika menambahkan, pohon berfungsi sebagai penyerap air hujan yang efektif. Akar-akar pada pohon memungkinkan terjadinya infiltrasi dan menjadi cadangan air tanah.
Dengan begitu, pohon dapat menjamin ketersediaan air tetap stabil, bahkan pada saat musim kemerau sekalipun.
“Kita perlu mengubah pola pikir dari sekadar menanam menjadi merawat,” ujar Kartika.
Langkah konkret seperti penanaman pohon dapat menjadi inspirasi bagi warga sekitar. Pentingnya lagi, edukasinya berbasis komunitas.
“Kita tidak sedang mewarisi bumi dari nenek moyang, tapi sedang meminjamnya dari anak cucu kita,” terangnya.
Kartika mengingatkan bahwa satu pohon dapat menyelamatkan hidup banyak orang.
“Mari menjadi generasi yang berkontribusi nyata menjaga dan merawat alam ini,” ajaknya.
Akhir-akhir ini, dampak perubahan iklim sudah sangat terasa oleh manusia dan alam. Salah satu akibat yang dirasakan adalah menurunnya debit air.
Sementara itu, Direktur Utama Perusahaan Air Minum Tirta Komodo, Marsel Sudirman mengatakan, ada beberapa sumber mata air di Ruteng yang airnya sudah hilang sekitar sepuluh atau belasan tahun silam.
“Untuk hal ini bagian dari dampak perubahan iklim,” katanya.
Dalam beradaptasi dengan itu, pihaknya melakukan penjadwalan distribusi air bagi setiap wilayah.
Namun, melakukan konservasi sumber-sumber mata air menjadi bagian dari langkah mitigasi perubahan iklim.
“Sehingga akar pohon ini nanti suatu saat akan berfungsi sebagai untuk menahan air,” ucapnya.
Menurut Marsel, penanaman ini juga bagian dari memelihara keberlanjutan ketersediaan air baku.
“Karena memang secara alami sumber mata air selalu berhubungan dengan pohon. Kalau kita tidak menanam pohon, jangan berharap bahwa mata air itu muncul,” ungkapnya.
Sumber Mata Air Wae Pong, katanya, melayani 50 ribu jiwa. Penanaman anakan pohon ini artinya sedang merawat hidup ribuan orang.
Marsel mengaku mendukung penuh bila orang muda terlibat dan ambil bagian untuk merawat alam.
“Sehingga itu sejalan dengan tagline kami ‘wariskan mata air, bukan air mata’,” tutup Marsel menegaskan.












