Kupang, Ekorantt.com – Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner (Sekami) Keuskupan Agung Kupang membuka Pekan Hari Orang Sakit Sedunia dengan kegiatan temu kasih anak pada Minggu, 8 Februari 2026.
Dalam kegiatan yang berlangsung di Aula Paroki Sta. Maria Assumpta Kupang itu hadir lebih dari 500 anak Sekami. Mereka dari 13 paroki di Keuskupan Agung Kupang.
Anak-anak Sekami menampilkan drama, tarian, puisi, hingga memandu jalannya acara.
Tampak mereka sangat antusias saat ada pertanyaan-pertanyaan dari pastor pendamping. Mereka juga antusias saat door prize dibagikan.
Di sela kegiatan, anak-anak diajak memahami arti hidup sehat.
Maria Veronika Ivoni Ray salah satu dokter yang hadir mengingatkan pentingnya mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, setelah dari toilet, serta mengonsumsi makanan bergizi.
Pastor Pembina Sekami Keuskupan Agung Kupang, RD. Gieovani Adytia Lewa Arum mengatakan, kegiatan tersebut menjadi pintu masuk rangkaian peringatan Hari Orang Sakit Sedunia ke-45 yang akan dirayakan pada 11 Februari 2026.
“Anak-anak akan diutus mengunjungi orang sakit di lingkungan mereka, di KUB, bahkan di rumah sakit. Inilah perutusan misioner anak-anak Sekami,” ujarnya.
Ia bilang, melalui peringatan Hari Orang Sakit Sedunia, anak-anak diajak memahami bahwa sakit bukan sesuatu yang harus dijauhi. Mereka diperkenalkan pada kisah orang Samaria yang baik hati.
Menurut Pastor Adytia, hal ini merupakan sebuah pelajaran iman tentang keberanian untuk peduli, hadir, dan membantu sesuai kemampuan. Dari kisah orang sakit Samaria, anak-anak belajar bahwa belas kasih dapat dimulai dari langkah kecil.
Gereja, kata Adytia, ingin menjadi ruang aman bagi anak-anak untuk bertumbuh secara utuh, tidak hanya secara iman, tetapi juga secara fisik dan mental.
“Pendidikan iman yang berpadu dengan kepedulian sosial menjadi fondasi penting bagi masa depan mereka,” pungkas dia.
Salah satu orangtua anak, Mariano Djogo Lainurak mengaku terharu melihat anak-anak dilibatkan secara aktif dalam Temu Kasih Hari Orang Sakit Sedunia.
“Anak-anak belajar bahwa orang sakit bukan untuk dijauhi, tetapi untuk dikasihi,” tuturnya.
Menurut Mariano, kegiatan Sekami membantu membentuk karakter anak sejak dini. Anak bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki empati dan hati yang peka.
Ia pun berjanji akan menerapkan nilai kepedulian itu di rumah agar apa yang dipelajari anak-anak di gereja terus hidup dalam keseharian.
Mariano berharap agar kegiatan seperti ini terus berlanjut dan semakin kreatif.
Sebab dari ruang-ruang perjumpaan seperti ini, kata dia, benih belas kasih ditanam dan kelak bertumbuh menjadi sikap hidup yang menemani anak-anak sepanjang perjalanan iman mereka.












