Bajawa, Ekorantt.com – Kasus kekerasan pada anak di Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami peningkatan selama dua tahun terakhir.
Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PMD-P3A) Ngada mencatat kasus kekerasan terhadap anak di 2024 sebanyak 22 kasus. Kasus serupa mengalami peningkatan pada 2025 meniadi 31 kasus.
Dari data tersebut, jumlah kasus kekerasan seksual tercatat paling tinggi yakni 17 kasus pada 2024 dan sebanyak 19 kasus pada 2025. Sisanya kasus kekerasan fisik, penelantaran, dan psikis.
Kepala Dinas PMD-P3A Ngada, Marcus Philipus Botha mengatakan, korban kekerasan anak rata-rata berasal dari keluarga kurang mampu.
“Korban juga banyak berasal dari keluarga tidak utuh, keluarga bermasalah hingga orang tua tunggal,” ujar Marcus kepada awak media di Bajawa, Rabu, 18 Februari 2025.
Marcus bilang, pengaruh gadget menjadi salah satu faktor anak rentan terpapar kekerasan.
Mayoritas pelaku adalah orang terdekat seperti ayah kandung, pacar, tetangga hingga kerabat korban.
Untuk menekan angka itu, pihaknya mengklaim melakukan sosialisasi pencegahan di 12 kecamatan, pembentukan desa layak anak, dan mengadvokasi agar desa mengalokasikan dana untuk kegiatan pemberdayaan perempuan dan anak.
Sementara untuk para korban, dinas tersebut melakukan pendampingan saat memberikan keterangan di polisi, memberikan layanan kesehatan seperti visum et repertum, visum et psikiatrikum, USG, dan melahirkan.
Tokoh Perempuan Ngada sekaligus pegiat literasi, Mertin Lusi, meminta pemerintah agar kegiatan sosialisasi dapat berkolaborasi dengan sejumlah pihak termasuk gereja.
“Pemerintah paling bawah yakni RT harus mengetahui masyarakat, harus ada kunjungan rumah secara rutin bertemu anak khususnya dari keluarga tidak mampu,” ujarnya.
Mertin mendorong adanya komunitas di desa untuk melakukan pencegahan secara dini. “Komunitas ini ada gereja, pemerintah desa, kalau bisa libatkan juga pegiat literasi,” kata Mertin.
Demikian pula bila pemerintah mendistribusikan bantuan disarankan agar benar-benar menyasar keluarga dalam kategori tidak mampu.












